Saham: Definisi, Cara Kerja, Jenis, dan Faktor yang Mempengaruhi Harganya

Diperbarui 14 Jul 2023 - Dibaca 10 mnt
Ditulis oleh : Alisatul Aini

Saham adalah salah satu jenis investasi yang paling populer. Bagi kamu yang belum memahami apa itu saham, artikel berikut akan membahasnya secara lengkap.

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Untuk para pemula, pembahasan di bawah ini sangat berguna sebagai pendahuluan sebelum mempelajari bagian saham yang lebih kompleks.

Tak perlu berlama lagi, langsung saja simak artikel Glints berikut ini!

Definisi Saham

Pengertian saham menurut Investopedia adalah surat yang menunjukkan bahwa seseorang punya kepemilikan modal suatu perusahaan.

Saat kamu membeli saham, artinya kamu membeli bagian tertentu dari perusahaan tersebut.

Setelah itu, kamu akan disebut sebagai shareholder atau pemegang saham.

Harga saham bersifat fluktuatif atau selalu berubah seiring berjalannya waktu. Inilah yang membuat investor dapat memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian.

Tak hanya keuntungan berupa uang, investor juga bisa mendapatkan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham jika memenuhi persyaratan, seperti jumlah minimum dan jenis saham.

Baca Juga: Serangkaian Istilah Saham yang Perlu Dipelajari Sebelum Berinvestasi

Cara Kerja Saham

Setelah memahami apa itu saham, sekarang saatnya untuk mendalami bagaimana cara kerja saham.

Proses diawali dengan perusahaan publik yang menjual atau menawarkan saham mereka melalui bursa pasar saham.

Perusahaan yang dapat menjual sahamnya adalah perusahaan yang telah melakukan IPO atau initial public offering.

Nah, perusahaan inilah yang kemudian disebut sebagai emiten.

Bagi perusahaan, penerbitan saham adalah cara untuk mendapatkan tambahan modal, yang kemudian akan digunakan untuk kemajuan perusahaan, seperti:

  • melunasi hutang
  • meluncurkan produk baru
  • memperluas pasar

Bagi investor, membeli saham juga merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan kekayaan.

Itulah mengapa kamu tidak boleh sembarangan menanamkan modal pada emiten.

Diperlukan analisis mendalam agar kamu benar-benar dapat memilih emiten yang profitable atau dapat mendatangkan keuntungan.

Sumber keuntungan investasi saham

Ada 2 jenis sumber keuntungan yang bisa kamu dapatkan, yaitu dividen dan capital gain.

1. Dividen

Dividen adalah laba perusahaan yang dibagikan ke para pemilik modal.

Dikutip dari Investopedia, besaran dividen ditentukan oleh dewan direksi dan umumnya dibagikan tiap kuartal.

Tak hanya berupa uang tunai, dividen juga dapat dibagikan kembali dalam bentuk kepemilikan saham tambahan.

2. Capital gain

Capital gain adalah keuntungan yang dihasilkan dari penjualan saham jika dilakukan di waktu yang tepat.

Investor membeli saham di perusahaan yang menurut mereka akan naik nilainya. Jika itu terjadi, nilai saham perusahaan juga otomatis akan meningkat.

Baca Juga :  9 Jenis Saham beserta Manfaat dan Contohnya yang Harus Kamu Ketahui

Nah, saham tersebut kemudian dapat dijual untuk menghasilkan keuntungan.

Risiko kerugian investasi saham

Saham adalah investasi yang tidak semudah kelihatannya. Berikut potensi kerugian yang harus kamu waspadai.

1.  Capital loss

Capital loss adalah kebalikan dari capital gain.

Dilansir dari Corporate Finance Institute, capital loss adalah pengurangan nilai modal perusahaan. Kerugian terjadi ketika saham dijual dengan harga lebih rendah dari harga belinya.

Berikut contoh sederhana dari perhitungan capital loss dan capital gain.

Kamu membeli 1.000 lembar saham PT ABC dengan harga Rp100 per lembar sehingga totalnya menjadi Rp100.000. Beberapa bulan kemudian, kamu menjual saham tersebut ketika harga saham naik menjadi Rp150, sehingga uang yang akan kamu dapatkan adalah Rp150.000. Artinya, kamu mendapatkan capital gain sebesar Rp50.000. Namun, jika kamu menjualnya ketika harga saham turun menjadi Rp30, uang yang akan kamu peroleh hanya Rp30.000. Dengan kata lain, kamu akan mengalami capital loss sebesar Rp70.000.

2. Risiko likuidasi

Risiko kerugian saham selanjutnya adalah risiko likuidasi.

Sederhananya, likuidasi terjadi ketika perusahaan mengalami kebangkrutan.

Perusahaan kemudian harus menjual seluruh asetnya terlebih dahulu agar mampu membayarkan dividennya.

3. Delisting di bursa

Delisting merupakan proses penghapusan emiten dari bursa saham.

Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal, seperti kebangkrutan atau adanya akuisisi.

Jadi, tidak semua emiten di bursa saham aman untuk diinvestasikan. Kamu harus selalu melihat kondisi kesehatan finansial mereka agar tidak salah mengambil keputusan.

Baca Juga: Ingin Berinvestasi dengan Mudah? Coba Aplikasi-Aplikasi Ini!

Jenis Saham

seseorang sedang melihat pergerakan harga saham

© Freepik.com

Untuk mendalami apa itu saham, kamu juga harus mempelajari jenis-jenisnya.

Beberapa jenis saham adalah sebagai berikut sebagaimana dikutip dari Investopedia.

1. Common stock vs. preferred stock

Common stock adalah jenis saham biasa yang telah dijelaskan di atas, sedangkan preferred stock merupakan jenis saham yang memberi beberapa keuntungan bagi pemegangnya.

Salah satunya adalah didahulukan saat pembagian dividen, baik ketika kondisi normal perusahaan maupun ketika mengalami likuidasi.

Perusahaan dapat memutuskan untuk menawarkan kedua jenis saham ini atau hanya salah satu jenis saja.

2. Growth stock vs. value stock

Sesuai dengan namanya, growth stock adalah saham yang diharapkan dapat berkembang lebih cepat dibandingkan aset lain di pasar.

Biasanya, investor yang membeli growth stock bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan nilai di masa mendatang, bukan dari pembagian dividen.

Sebaliknya, value stock adalah saham yang diperdagangkan dengan nilai yang lebih rendah dari fundamentalnya, seperti:

  • dividen
  • pendapatan
  • penjualan
Baca Juga :  10 Tips Kerja Hybrid yang Bantu Kamu Jaga Produktivitas

Jadi, perusahaan tidak fokus pada growth atau perkembangannya karena dinilai sudah stabil. Itulah mengapa value stock justru lebih fokus pada pembagian dividen.

3. Income stock

Jenis saham selanjutnya adalah income stock.

Income stock adalah jenis saham yang menawarkan pendapatan paling stabil melalui pembagian dividen dengan risiko yang lebih rendah.

Hal ini disebabkan karena volatilitasnya yang rendah, yaitu kecenderungan perubahan harga dalam kurun waktu tertentu.

Industri yang biasanya menawarkan income stock adalah real estate, sektor energi, sumber daya alam, dan lembaga keuangan.

4. Blue chip stock

Saham blue chip merupakan kategori saham unggulan.

Emiten yang menawarkan saham ini biasanya sudah sangat stabil dan mapan dengan kondisi keuangan yang sangat prima.

Tak heran jika blue chip stock sering menjadi incaran para investor karena reputasinya yang sangat baik bahkan di masa-masa krisis.

5. Cyclical vs. non-cyclical stock

Cyclical stock adalah saham yang secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan makroekonomi dan biasanya mengikuti siklus ekonomi seperti masa resesi dan pemulihan.

Artinya, saham jenis ini memiliki volatilitas yang tinggi.

Sebaliknya, non-cyclical stock adalah saham yang biasanya memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap kondisi ekonomi apa pun.

Hal tersebut salah satunya didukung oleh permintaan produk atau jasa mereka yang juga cenderung stabil.

6. Defensive stock

Defensive stock adalah sebutan bagi semua jenis saham yang harganya cukup konsisten di berbagai kondisi pasar dan makroekonomi.

Jadi, defensive stock bisa berupa blue chip stock, income stock, atau non-cyclical stock.

Baca Juga: Investasi Jangka Pendek: Pengertian, Jenis, serta Strategi dalam Penerapannya

Faktor yang Memengaruhi Harga Saham

Seperti yang sempat disebutkan di atas, ada jenis saham dengan volatilitas tinggi dan juga rendah.

Sebenarnya, ada banyak hal yang mempengaruhi naik turunnya harga saham. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Aktivitas perusahaan

Singkatnya, jika perusahaan mengalami keuntungan, investor pasti ingin membeli lebih banyak saham karena dapat mendatangkan lebih banyak keuntungan.

Artinya, permintaan saham perusahaan juga meningkat. Nah, permintaan tinggi inilah yang cenderung membuat harga saham jadi naik.

Hal yang sama juga berlaku sebaliknya apabila perusahaan mengalami kerugian.

Selain keuntungan atau kerugian perusahaan, aktivitas lain yang biasanya mempengaruhi harga saham adalah:

  • peluncuran produk atau jasa baru
  • perubahan manajemen internal
  • berita positif maupun negatif tentang perusahaan
  • pergantian petinggi perusahaan

2. Inflasi

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi harga saham adalah inflasi.

Baca Juga :  6 Ketentuan Penting saat Foto Paspor di Kantor Imigrasi

Semakin tinggi inflasi, semakin menurun pula daya beli konsumen. Di sisi lain, biaya operasional perusahaan akan meningkat karena melonjaknya harga bahan baku.

Ini yang akan membuat investor berbondong-bondong menjual sahamnya karena kondisi keuangan perusahaan mulai mengkhawatirkan. Aktivitas inilah yang membuat harga saham menjadi menurun.

3. Suku bunga

Suku bunga mempengaruhi jumlah utang yang harus dibayarkan perusahaan.

Semakin tinggi suku bunga pinjaman, semakin terancam pula profit yang akan diperoleh perusahaan.

Selain membuat investor kehilangan minatnya terhadap saham perusahaan, kondisi ini juga membuat mereka melirik instrumen investasi lain seperti surat obligasi.

4. Kondisi geopolitik

Selain kondisi makroekonomi, faktor lain seperti isu geopolitik juga ternyata mempengaruhi harga saham.

Kondisi seperti perang atau konflik antarnegara mempunyai efek langsung terhadap sektor keuangan.

Siapa yang ingin berinvestasi di tengah ketidakpastian? Orang pasti berbondong-bondong untuk menyelamatkan uangnya sebelum krisis benar-benar terjadi.

Dilansir dari IMF, tensi geopolitik dapat menyebabkan berbagai pembatasan finansial suatu negara, mengurangi nilai aset bank, hingga menyebabkan inflasi.

Baca Juga: Yuk Kenali 6 Keuntungan Investasi Saham Berikut Ini!

Perbedaan Trading Saham vs. Investasi Saham

Apa itu trading saham? Trading & investasi saham memang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghasilkan keuntungan.

Namun, ada sedikit perbedaan di antara keduanya.

1. Strategi

Dilansir dari Nerd Wallet, perbedaan utama keduanya terletak pada frekuensi jual beli saham.

Trader biasanya membeli atau menjual saham dalam kurun waktu yang cukup singkat, misalnya setiap minggu, hari, bahkan jam.

Di sisi lain, investor justru hanya akan membeli saham lalu menahannya untuk beberapa waktu. Mereka meraup keuntungan yang maksimal dari dividen, bukan capital gain.

2. Fokus trader & investor

Dari strategi di atas, dapat terlihat bahwa trader dan investor pasti memiliki fokus yang berbeda.

Trader biasanya fokus memantau ke mana arah harga saham akan berubah. Di sisi lain, fokus utama investor biasanya adalah prospek jangka panjang perusahaan.

Kesimpulannya, trader mencari keuntungan jangka pendek, sedangkan investor berupaya memperoleh keuntungan dalam jangka panjang.

Demikian penjelasan mengenai apa itu saham dan serba-serbinya. Intinya, saham adalah salah satu jenis investasi yang memiliki risiko cukup tinggi dan memerlukan analisis mendalam.

Nah, bagi kamu para pemula, Glints punya banyak kumpulan artikel lainnya seputar saham yang bisa membantumu memahaminya lebih baik lagi.

Semua artikel dikemas secara ringan sehingga mudah dipahami. Yuk, langsung baca artikel terkait saham di bawah ini!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon