Intoleransi Laktosa: Arti, Gejala, Penyebab, dan Cara Menghindari
Ditulis oleh : Idzni Meutia
Setelah minum susu jadi sering kembung, kram perut, atau diare? Bisa jadi itu adalah salah satu tanda kamu intoleransi laktosa atau lactose intolerance.
Meski tak berbahaya, kondisi ini dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, apalagi kalau sedang di kantor.
Kamu jadinya repot bolak-balik toilet hingga ganggu produktivitas kerja.
Tak hanya memperhatikan jumlah produk susu yang kamu konsumsi, ketahui penyebab dan ragam cara untuk mengatasi kondisi ini.
Langsung saja, simak rangkuman Glints seputar informasinya di bawah ini, yuk!
Isi Artikel
Apa Itu Intoleransi Laktosa?
Intoleransi laktosa, atau yang dikenal juga dengan lactose intolerance, adalah gangguan pencernaan yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh mencerna laktosa, karbohidrat utama dalam produk susu.
National Library of Medicine menyebut, kondisi ini sangat umum terjadi, setidaknya mempengaruhi sekitar dua pertiga populasi orang dewasa di dunia.
Orang yang mengalaminya akan merasakan masalah pencernaan saat mengonsumsi produk susu, yang dapat menimbulkan dampak negatif seperti kembung, kram perut, hingga diare.
Gejala Intoleransi Laktosa
Dikutip dari Medical News Today, gejalanya meliputi:
- sakit perut
- kram
- perut kembung
- mual
- diare
- bersendawa
Perlu diketahui bahwa gejala di atas biasanya muncul setelah seseorang makan atau minum produk susu yang mengandung laktosa.
Namun, karena tiap orang memiliki tingkat toleransi yang berbeda.
Maka, tingkat keparahannya tergantung pada berapa banyak laktase yang diproduksi tubuh dan berapa banyak laktosa yang dikonsumsi.
Penyebab Intoleransi Laktosa
Laktosa terdiri dari gula yang disebut glukosa dan galaktosa.
Tubuh memerlukan enzim yang disebut laktase untuk memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, untuk kemudian diserap oleh tubuh ke dalam aliran darah sebagai energi.
Jika kadar laktase seseorang rendah, laktosa tidak dapat terurai dan terserap secara maksimal ke dalam aliran darah. Sehingga dapat menyebabkan gejala pencernaan.
Biasanya intoleransi laktosa bersifat turun temurun atau diwariskan oleh orang tua atau kakek/nenek.
Jenis-Jenis Intoleransi Laktosa
Dikutip dari Healthline, berikut beberapa jenisnya:
a. Intoleransi laktosa primer
Jenis ini adalah yang paling umum dan bersifat genetik. Gejalanya muncul saat bayi dalam proses menyapih, atau berhentinya masa menyusui dan peralihan makanan padat.
Dalam kondisi ini, laktase menurun dan gejala intoleransi muncul.
b. Intoleransi laktosa sekunder
Selanjutnya, jenis ini berkembang karena kondisi lain yang memengaruhi usus kecil, tempat enzim laktase diproduksi.
Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh penyakit celiac, kolitis ulserativa, penuaan, atau efek samping dari kemoterapi.
c. Kelainan laktase bawaan
Kondisi genetik tertentu yang menyebabkan tubuh memproduksi laktase yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
d. Intoleransi laktosa dalam masa perkembangan
Dikutip dari Alodokter, jenis ini biasanya terjadi pada bayi dengan kelahiran prematur, di mana usus belum berkembang dengan sempurna saat bayi dilahirkan.
Namun, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya seiring dengan pertumbuhan bayi.
Diagnosis Intoleransi Laktosa
Jika curiga kamu memiliki lactose intolerance atau intoleransi laktosa, cobalah dengan mencatat daftar makanan yang dikonsumsi tiap hari dan gejala-gejala yang muncul setelahnya.
Ini bisa membantu dokter dalam memberikan diagnosis.
Kamu juga bisa menjalani diet bebas laktosa untuk melihat apakah gejala yang dialami membaik.
Masih dari Medical News Today, ada beberapa tes yang bisa dilakukan dokter untuk mendiagnosis kondisi ini:
Tes kadar hidrogen
Dalam tes ini, dokter akan meminta pasien untuk berpuasa semalaman dan meminum larutan laktosa keesokan paginya.
Kadar hidrogen kemudian akan diukur melalui udara yang dihembuskan pasien, untuk mengindikasikan intoleransi laktosa.
Jika hasil kadar hidrogennya tinggi, maka kemungkinan besar pasien mengidap intoleransi laktosa.
Tes toleransi laktosa
Pasien akan diminta untuk mengonsumsi larutan laktosa, dan dokter mengambil sampel darah untuk mengukur kadar glukosa dalam tubuh mereka.
Jika kadar glukosa darah tetap sama, berarti tubuh belum memecah laktosa dengan baik.
Tes sampel tinja
Tes ini biasanya akan diberikan pada bayi, sebab kedua tes akan sulit diterapkan pada mereka.
Pada tes ini, dokter akan mengukur kadar asetat dan asam lemak lain yang tinggi dalam tinja, yang dapat menjadi tanda positif.
Cara agar Intoleransi Laktosa Tak Kambuh
Laktosa ditemukan di hampir semua produk susu, termasuk makanan dengan kandungan tersebut.
Maka, untuk mengurangi gejala, pengidap intoleransi laktosa sebaiknya menghindari:
- susu sapi atau kambing
- susu evaporasi
- keju cottage
- keju ricotta
- saus atau krim keju
- yogurt
- mentega
- biskuit
- cokelat
- sereal
- puding
- pancake
- mayones
- daging olahan
Produk susu merupakan sumber nutrisi penting yang mengandung kalsium, protein, dan vitamin A, B12, dan D.
Makanya ada beberapa makanan atau suplemen yang bisa jadi sumber nutrisi alternatif, antara lain:
- Suplemen kalsium dengan Vitamin D.
- Sayuran hijau seperti bayam dan brokoli.
- Jus jeruk dengan tambahan kalsium.
- Wortel, ubi jalar, labu, telur, pepaya, mangga, sebagai sumber Vitamin A.
- Produk susu nabati atau vegan yang diberi label “bebas laktosa”, seperti, susu almond.
Jika masih ingin mengonsumsi produk susu, kamu mungkin bisa mencoba konsumsi laktosa secara teratur untuk mendorong tubuh beradaptasi.
Tambahan asupan probiotik juga bisa menjadi alternatif untuk membantu tubuh mencerna laktosa dan mengatasi gangguan pencernaan, seperti diare.
Namun, dikutip dari Healthline, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mencoba cara-cara ini.
Itu dia serba-serbi mengenai intoleransi laktosa atau lactose intolerance.
Yuk perbanyak informasi seputar kesehatan kerja bersama Glints Blog.
Ada banyak artikel mulai dari mengatur pola makan, mengatasi kondisi kesehatan, hingga menjaga kesehatan mental yang penting untuk pekerja.
Klik di sini untuk mengakses beragam artikelnya secara gratis!
