Individual Contributor: Arti, Skill, dan Tips Melamar Kerjanya
Ditulis oleh : Khairina F. Hidayati
Saat baru masuk ke perusahaan, individual contributor adalah posisi yang biasanya diberikan kepadamu. Memangnya, apa itu individual contributor?
Glints akan menjelaskannya dalam artikel ini. Selain itu, ada juga skill yang dibutuhkan kontributor individu hingga tips melamar lowongannya.
Yuk, simak selengkapnya!
Isi Artikel
Apa Itu Individual Contributor?
Melansir Ongig, individual contributor adalah pegawai yang bertanggung jawab mengatur dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Pegawai tersebut tidak punya bawahan, hingga tak perlu mengatur orang lain. Mereka justru punya atasan atau direct report.
Ada beberapa kontributor individu yang benar-benar bekerja sendirian, misalnya:
- content writer
- sales executive
- dan lain-lain
Akan tetapi, ada pula kontributor individu yang tetap harus berkolaborasi dengan orang lain, seperti:
- UX designer (kolaborasi dengan UX researcher, UI designer, dll.)
- social media operator (kolaborasi dengan graphic designer, videographer, dll.)
- dan lain-lain
Individual Contributor vs Manajer
Seperti dituliskan Indeed, kontributor individu dan manajer sama-sama punya tugas manajemen.
Akan tetapi, kontributor individu fokus pada manajemen diri sendiri. Sementara itu, manajer bertugas mengatur orang lain.
Selain itu, tugas seorang manajer biasanya kental dengan perancangan strategi. Sementara itu, tugas individual contributor biasanya bersifat teknis.
Oleh karena itu, individual contributor bisa banyak mengasah skill dan menjadi ahli di bidangnya. Sementara itu, manajer akan banyak berlatih di bidang perencanaan, perancangan strategi, hingga budgeting.
Skill yang Dibutuhkan Individual Contributor
Beberapa skill yang dibutuhkan individual contributor adalah:
1. Mengatur waktu
Individual contributor harus menguasai manajemen waktu. Sebab, seperti yang sudah Glints jelaskan, mereka akan bekerja sendirian.
Kalau tak mahir mengatur waktu, orang yang kerja sendirian berpeluang merasa terlena. Waktu terasa sangat banyak, padahal sebenarnya tak sebanyak itu.
Akhirnya, orang tersebut terpaksa mengejar deadline di detik-detik terakhir. Itu bisa memicu stres, bahkan menurunkan kualitas pekerjaan.
Jadi, coba mulai atur waktu dari sekarang. Supaya makin maksimal, pakai saja strategi-strategi dari Glints. Klik tombol di bawah untuk membacanya:
2. Komunikasi
Selanjutnya, ada komunikasi. Melansir Glassdoor, komunikasi merupakan kemampuan menerima dan menyampaikan suatu informasi.
Kira-kira, mengapa kontributor individu harus punya skill yang satu ini? Bukankah ia bertanggung jawab atas tugasnya sendiri?
Ingat, meski ditangani sendiri, progres tugas kontributor individu harus dilaporkan ke atasan atau rekan setim. Komunikasi akan membantu proses tersebut.
Jadi, asah skill-mu yang satu ini, ya. Tak perlu bingung dengan caranya, Glints sudah membuat artikel tentang itu.
Kamu bisa membacanya secara gratis, lho. Tinggal klik tombol di bawah ini:
3. Kolaborasi
Meski punya tanggung jawab sendiri, individual contributor harus bisa berkolaborasi. Sebab, seperti yang sudah Glints singgung, ada kontributor individual yang harus bekerja sama dengan orang lain.
Biasanya, di hubungan kerja sama itu, kamu menangani tugas yang spesifik dan beda dari yang lainnya.
Misalnya, di tim desain produk, ada beberapa anggota dengan tugas mereka masing-masing:
- UX researcher, meriset user aplikasi
- UX designer, mendesain interaksi antara user dan aplikasi
- UI designer, mendesain tampilan aplikasi
- UX writer, menulis tulisan atau copy yang ada di aplikasi
Keempatnya memang punya tanggung jawab masing-masing. Akan tetapi, semuanya harus berkolaborasi agar desain aplikasi yang dibuat bisa maksimal.
Ingin belajar lebih lanjut soal skill yang satu ini? Yuk, baca gratis artikel tentangnya! Klik tombol di bawah ini:
4. Mandiri
Terakhir, ada kemandirian. Ingat, kontributor individu punya tanggung jawab spesifik yang harus diselesaikan.
Dengan sifat mandiri, kamu berani memulai dan mengambil keputusan untuk tanggung jawab itu.
Memang, pada akhirnya, pekerjaanmu akan dicek kembali oleh manajer atau direct report.
Akan tetapi, saat kamu bisa bekerja secara mandiri, pekerjaan tentu lebih cepat selesai. Sebab, atasanmu tak perlu banyak menuntun dan memberi arahan.
Tips Lamar Kerja sebagai Individual Contributor
Sekarang, yuk, kita bahas strategi apply kerja di posisi individual contributor! Beberapa di antaranya adalah:
1. Cantumkan skill-nya di CV
Kalau punya skill tepat untuk suatu lowongan, kamu lebih mungkin dipanggil wawancara. Jadi, cantumkan skill kontributor individu di CV-mu, ya.
2. Jelaskan kemampuanmu saat interview
Ditanya kelebihan dirimu atau mengapa perusahaan harus menerimamu saat wawancara? Coba jelaskan skill–skill individual contributor yang kamu miliki.
Misalnya, kamu mahir bekerja sama dengan tim lain atau mampu memprioritaskan tugas.
Jangan lupa, ceritakan juga contoh penggunaan skill tersebut lengkap dengan hasil yang kamu dapatkan setelahnya, ya.
3. Jadi diri sendiri
Tips apply kerja sebagai individual contributor terakhir adalah menjadi diri sendiri, terutama saat interview.
Melansir Hays, rekruter harus tahu siapa dirimu sebenarnya. Dengan begitu, mereka bisa tahu cocok atau tidaknya dirimu dengan budaya perusahaan.
Kalau tak jadi diri sendiri, kamu bisa merasa tak cocok dengan kantor baru. Akhirnya, kamu harus mencari kantor baru lagi.
Demikian penjelasan Glints tentang individual contributor. Intinya, orang yang menduduki jabatan ini tak bertugas mengatur orang lain.
