Apa Saja Plus dan Minus Perusahaan dengan Market Culture?

Diperbarui 06 Mar 2023 - Dibaca 11 mnt
Ditulis oleh : Rena Widyawinata

Buat kamu yang memiliki jiwa kompetitif, bisa jadi market culture adalah budaya perusahaan yang cocok untuk kamu berkembang.

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Tak bisa dipungkiri budaya perusahaan sering dijadikan pertimbangan utama untuk seseorang memutuskan apakah harus bergabung dalam sebuah perusahaan, atau pegawai ingin bertahan atau resign.

Maka dari itu, Glints akan membantu mengenal apakah calon perusahaan atau tempatmu kerja menjunjung market culture atau tidak.

Yuk, simak di bawah ini.

Apa Itu Market Culture?

perbedaan marketing dan pr

© pexels.com

Mengutip laman What Is, market culture adalah sebuah budaya perusahaan yang menekankan kompetisi, bukan hanya dengan kompetitor, tapi juga di kalangan karyawannya.

Budaya perusahaan ini sangat “terobsesi” dengan customer. Setidaknya, begitu yang disebutkan oleh konsultan strategi Amerika Serikat, yang kebetulan juga bernama Market Culture.

Bisa dibilang, budaya perusahaan yang berorientasi kepada market atau segmen pasar ini adalah yang paling agresif dan kapitalis, dibandingkan keempat budaya kerja lainnya.

Kalau masuk ke dalam perusahaan yang berfokus pada pasar, kamu pasti akan sangat akrab dengan target yang tinggi. Atasan juga menaruh ekspektasi yang tinggi agar kamu mencapainya.

Di sini, prioritas utama adalah mencapai target. Itu sebabnya, konsep reward and punishment sangat umum diberlakukan di perusahaan yang mengadopsi market culture.

Mengingat kompetisinya yang sangat ketat dan tinggi, tak jarang kondisi ini bisa menciptakan suasana “sikut-sikutan” di antara para anggota tim.

Budaya ini adalah kebalikan dari clan culture. Clan culture lebih berfokus pada kerja sama antaranggota tim demi mencapai tujuan bersama perusahaan.

Baca Juga: Ikuti 6 Tips Ini untuk Bertahan di Lingkungan Kerja yang Toxic

Nilai Plus Market Culture

Tekanan yang tinggi dan kompetitif memang bisa membuat beberapa orang stres. Namun, terlepas dari tensi yang tinggi, tetap ada nilai positif dari budaya kerja yang seperti ini.

Baca Juga :  Suka yang Pasti-pasti? Kantor dengan Budaya Hierarki Mungkin Cocok Untukmu

Mengutip dari Breathehr, berikut ini adalah beberapa kelebihan market culture:

1. Potensi keuntungan maksimal

tips dan trik sales

© Freepik.com

Tidak heran kalau market culture bisa membawa keuntungan yang maksimal bagi perusahaan. 

Soalnya, semua anggota tim akan berfokus pada customer, hasil, dan pencapaian target. Jelas, pada akhirnya, revenue perusahaan jadi jauh lebih cepat terpenuhi.

Apalagi, keberadaan sistem reward dan punishment juga turut memengaruhi ini. Karyawan yang berhasil mencapai target lebih tinggi, biasanya mendapatkan intensif yang lebih tinggi pula.

Ini membuat mereka bisa menghasilkan uang lebih banyak. Baik itu untuk perusahaan ataupun dirinya sendiri.

Inilah yang menjadi motivasi karyawan untuk terus mengejar profit perusahaan.

2. Selalu selangkah lebih maju

social media manager skill

© Unsplash.com

Market culture membuat kamu selalu berorientasi pada memenangkan hati konsumen. Artinya, kamu juga selalu memikirkan cara agar kamu dan perusahaan lebih unggul dibandingkan kompetitor.

Ini akan membuat kamu dan rekan kerja kamu yang lain selalu melakukan riset pasar. Kamu juga akan selalu memahami tren yang sedang terjadi.

Tujuannya, agar kamu selalu punya perencanaan yang matang dan bisa merespons yang terjadi. Inilah yang akhirnya menjadikan kamu selalu selangkah di depan.

Dengan begitu, kamu bisa tetap menjadi yang nomor satu.

3. Karyawan yang termotivasi dan penuh ambisi

pertanyaan interview product manager

© Freepik.com

Budaya kerja yang berorientasi pasar selalu mendorong para karyawannya untuk terus bekerja lebih keras dari hari ke hari.

Salah satu motivasi kerja bisa datang dari melihat para atasan yang melakukan hal serupa.

Hal ini pada akhirnya membuat para karyawannya terus memperbaiki diri dan mempelajari hal baru. 

Baca Juga: Ikuti 5 Cara Menjalankan Kompetisi Sehat nan Berfaedah di Kantor

Kekurangan Sistem Market Culture

Setiap pilihan, selalu punya sisi positif juga negatif. Secara umum, mungkin kamu sudah dapat gambaran nilai minus dari budaya yang kompetitif ini.

Baca Juga :  Layar LCD vs AMOLED vs Retina Display, Mana yang Terbaik untuk Kerja?

Persaingan, tuntutan, dan tingkat stres yang tinggi adalah salah satunya.

Berikut ini beberapa kelemahan yang mungkin jadi tantangan jika kamu bekerja di perusahaan yang mengadopsi market culture:

1. Mahal

tips personalisasi email

© Freepik.com

Salah satu ciri utama dari budaya perusahaan yang berorientasi customer ini adalah kewajiban untuk terus “berlari” bersama dengan para kompetitor.

Para pemain di industri serupa harus tetap update dengan perkembangan terkini, jadi mereka bisa dengan cepat bereaksi terhadap perubahan.

Tujuannya, tentu saja agar tidak menjadi yang nomor dua.

Nah, sayangnya, untuk melakukan hal ini dengan baik biaya yang dibutuhkan untuk melakukan riset pasar tidaklah sedikit.

2. Burnout

bertahan di pekerjaan bukan passion

© Freepik.com

Sedikit banyak, mungkin kamu sudah dapat gambaran mengenai bagaimana persaingan dalam perusahaan yang menganut market culture.

Bagi beberapa orang, tuntutan bekerja secara cepat ini bisa membuat mereka merasa “dikejar-kejar”.

Tuntutan ini juga yang kadang membuat mereka rela untuk bekerja lembur. Bahkan, sampai tak kenal waktu dan mengorbankan kesehatan.

Bukan hanya fisik, kondisi ini juga bisa membuat mental kelelahan. Burnout pun tidak bisa dihindari. Jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, produktivitas kamu malah jadi terganggu.

3. Lingkungan kerja yang toxic

apa itu toxic positivity

© Pexels.com

Persaingan yang ketat, “lomba” yang harus selalu dimenangkan, keinginan menjadi yang pertama menjadi beberapa kelemahan dari budaya perusahaan ini.

Sebelumnya sudah sedikit disinggung, bahwa budaya perusahaan yang berfokus pada kompetisi bisa menciptakan suasana kerja yang sikut-sikutan.

Peluang terciptanya lingkungan kerja yang toxic bisa lebih besar dibandingkan budaya perusahaan yang lain.

Belum lagi, kamu juga bisa kesulitan untuk bekerja sama dengan anggota tim karena adanya kepentingan individu.

Baca Juga: 10 Cara Berpikir Positif saat Menghadapi Tekanan di Kantor

Untuk kamu yang menyukai tantangan dan kompetisi, mencari pekerjaan di perusahaan yang mengadopsi market culture mungkin langkah yang tepat.

Baca Juga :  Mengenal Cultural Fit dan 5 Manfaatnya untuk Kamu

Dengan begitu, kamu bisa terus menantang diri untuk selalu menjadi yang terbaik.

Mencari perusahaan yang punya market culture atau budaya lainnya yang cocok untukmu bisa jadi susah-susah gampang.

Yuk, pelajari dan cari tahu lebih banyak tentang budaya kerja. Glints sudah siapkan kumpulan artikel terkait hanya untuk kamu.

Cek selengkapnya di sini!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon