Berbagai Jenis Budaya Kerja di Perusahaan

Diperbarui 17 Feb 2023 - Dibaca 5 mnt

Isi Artikel

    Setiap perusahaan pasti memiliki budaya kerja unik yang berbeda satu sama lain. Budaya ini diciptakan dengan maksud untuk membuat karyawan lebih produktif dan mencapai hasil yang sejalan dengan visi perusahaan.

    Lebih dari sekadar aturan berpakaian atau desain interior kantor, budaya kerja juga mencakup relasi antar karyawan dan gaya kepemimpinan di suatu organisasi.

    Singkatnya, budaya ini merupakan konsep yang mengatur perilaku serta mewakili nilai kolektif, keyakinan, dan prinsip dari anggota organisasi.

    Baca Juga: 7 Budaya Kerja di Korporat yang bisa Memajukan Kariermu

    Ciri Perusahaan dengan Budaya Kerja Positif

    budaya kerja

    © Freepik.com

    Budaya kerja positif akan menciptakan lingkungan yang nyaman dan juga kesempatan bagi karyawan untuk berkembang.

    Tidak hanya mengutamakan kesuksesan organisasi, budaya kerja yang baik juga seharusnya bisa membawa dampak positif bagi anggota di dalamnya.

    Berikut merupakan beberapa ciri perusahaan dengan budaya kerja yang baik.

    1. Lingkungan Kerja Produktif

    Karyawan merasa senang dan menikmati suasana saat bekerja? Bisa jadi ini merupakan tanda bahwa mereka nyaman dengan suasana kantor yang kondusif.

    Adanya kecemasan dan intimidasi justru malah menandakan sebaliknya, bahwa karyawan takut dan merasa tidak nyaman berada di lingkungan kantor.

    2. Komunikasi yang Terbuka dan Jujur

    Sudah bukan rahasia lagi bahwa politik kantor biasanya menyebabkan suasana dan budaya kerja menjadi sangat tidak kondusif.

    Jika karyawan bisa menciptakan komunikasi yang jujur, terbuka terhadap feedback, serta bahu membahu untuk menyelesaikan suatu masalah, maka selamat, karena itu menandakan budaya kerja yang positif di suatu organisasi!

    3. Suasana yang Seru

    Tidak ada salahnya untuk sesekali tertawa bersama dan menikmati candaan di tengah-tengah penatnya bekerja. Dengan begini, karyawan bisa merasa rileks dan lebih tidak stress dibandingkan mereka yang hanya serius bekerja selama seharian penuh.

    4. Ada Penghargaan dan Motivasi

    Setiap individu di dalam organisasi sudah bekerja keras untuk mencapai target. Tidak ada salahnya untuk memberikan penghargaan dan motivasi berupa bonus, promosi, sertifikat, atau hadiah lainnya kepada karyawan yang sudah berjasa bagi perusahaan.

    Dengan begini, karyawan tentunya juga akan merasa dihargai.

    5. Kerja Sama yang Baik

    Bukannya tidak mungkin apabila ada anggota tim yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan kesuksesannya sendiri.

    Budaya kerja yang baik diharapkan bisa mengurangi karyawan seperti ini, dan malah mendorong mereka untuk membangun tim dengan kerja sama yang baik.

    Berkompetisi boleh, tapi bukan berarti harus dilakukan secara negatif, kan?

    Ingat, masih ada kompetisi yang sehat tanpa disertai pengkhianatan dan agenda balas dendam dengan rekan kerja sendiri.

    4 Jenis Budaya Kerja

    Loyalitas Tim

    © Pexels.com

     

    Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) mengklasifikasikan 4 jenis budaya kerja berdasarkan parameter spesifik.

    Dibagi berdasarkan tujuan dan fokus perusahaan, secara umum budaya kerja dikelompokkan menjadi 4 menurut OCAI, yaitu Clan Culture, Adhocracy Culture, Market Culture, dan Hierarchy Culture.

    1. Clan Culture

    Budaya kerja yang pertama yaitu clan culture.

    Bagaikan kelompok atau klan yang hidup bersama, budaya satu ini menekankan aspek kolaborasi di mana anggotanya menganggap diri mereka sebagai satu keluarga besar yang saling terlibat satu sama lain.

    Organisasi yang mengadopsi budaya ini diikat oleh komitmen dan tradisi, dengan nilai utama berupa teamwork, komunikasi, dan kesepakatan. Kepemimpinan yang ada pada clan culture berbentuk mentorship.

    Salah satu perusahaan yang diketahui mengadopsi clan culture yaitu Tom’s of Maine, perusahaan yang memproduksi berbagai produk perawatan tubuh natural. Sang founder, Tom Chappell, berfokus untuk membangun hubungan yang baik dengan karyawan, konsumen, pemasok, hingga lingkungan.

    2. Adhocracy Culture

    Budaya ini didasarkan oleh energi dan kreativitas. Setiap karyawan diharapkan berani mengambil risiko, dengan sosok pemimpin yang dipandang sebagai inovator.

    Nilai utama yang dianut biasanya didasari oleh perubahan yang ada, dan salah satu hal yang menyatukan perusahaan yaitu eksperimen yang diikuti dengan kebebasan individu.

    Facebook merupakan salah satu perusahaan yang menganut budaya adhocracy.

    Mark Zuckerberg sebagai CEO terkenal dengan nasihatnya yang berbunyi “Move fast and break things – unless you are breaking stuff, you are not moving fast enough.” (Bergerak cepat dan hancurkan hal lain –  kamu belum bergerak cepat sampai kamu merusak berbagai hal).

    3. Market Culture

    Di antara 4 budaya kerja yang ada bisa dibilang budaya ini yang paling agresif.

    Kebalikan dari clan culture, market culture justru dianggap sebagai budaya yang bisa menghambat proses pembelajaran.

    Budaya yang satu ini tidak hanya menekankan aspek kompetitif dengan pesaing di industri, tetapi juga antar karyawan dalam organisasi. Karyawan akan dituntut untuk memenuhi tujuan yang sulit dan performa mereka akan menentukan hasil yang didapat, apakah itu bonus ataupun hukuman.

    Penekanan pada performa ini sebenarnya diharapkan bisa menjadi motivasi bagi karyawan untuk berprestasi. Namun, banyak kritik justru berpendapat bahwa hal ini bisa menimbulkan budaya yang tidak sehat, seperti ketidakjujuran dan mengurangi produktivitas.

    4. Hierarchical Culture

    Struktur perusahaan menjadi salah satu faktor penentu di budaya hierarchical. Praktik bisnis pada budaya ini ditentukan oleh struktur, aturan, dan kontrol atasan.

    Proses yang terkontrol serta pengawasan yang cukup dianggap penting bagi produktivitas dan kesuksesan karyawan. Perusahaan disatukan oleh aturan dan kebijakan formal untuk mencapai stabilitas.

    Baca Juga: 5 Etos Kerja Jepang yang Bisa Kamu Terapkan

    Perlu diingat, tidak ada budaya yang benar ataupun salah. Semuanya kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut perusahaan.

    Namun, hal yang terpenting adalah kamu bekerja di perusahaan dengan budaya kerja yang sesuai denganmu. Jadi, kamu dan perusahaan bisa berkolaborasi dengan baik.

    Lantas, bagaimana cara untuk mengetahui budaya kerja sebuah perusahaan?

    Glints punya tipsnya, nih. Ada 4 cara yang bisa kamu lakukan untuk mencari tahu budaya perusahaan yang ingin kamu tuju.

    Dapatkan insight-nya dengan baca artikel ini, ya!

      Seberapa bermanfaat artikel ini?

      Klik salah satu bintang untuk menilai.

      Nilai rata-rata 4.2 / 5. Jumlah vote: 35

      Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

      We are sorry that this post was not useful for you!

      Let us improve this post!

      Tell us how we can improve this post?


      Comments are closed.

      Artikel Terkait