Isolasi Sosial: Arti, Faktor Risiko, Efek, dan Cara Mengatasi

Tayang 12 Nov 2022 - Dibaca 9 mnt

Isi Artikel

    Masa-masa PPKM lalu memberikan dampak psikis kepada banyak orang, salah satunya adalah isolasi sosial.

    Perasaan sepi dan kurangnya koneksi sosial jadi pemicu isolasi sosial ini.

    Namun, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat seseorang tetap merasa kesepian walaupun tidak melakukan isolasi sosial. 

    Koneksi sosial dibutuhkan oleh usia dewasa atau pekerja karena menjadi salah satu pendukung kehidupan sehari-hari.

    WebMD menjelaskan bahwa saat kamu melakukan isolasi sosial dan tidak terkoneksi dengan orang lain, kamu akan merasa lebih sedih hingga berdampak pada kesehatan.

    Lalu, apa itu isolasi sosial dan apa yang perlu diperhatikan? Simak selengkapnya di bawah ini!

    Arti Isolasi Sosial

    Isolasi sosial adalah kondisi di mana kamu tidak terkoneksi dengan orang lain atau memutuskan untuk sendirian, melansir Better Up.

    Menyiapkan waktu untuk diri sendiri memang hal baik, seringkali juga digunakan untuk mengisi ulang energi melalui me time.

    Tetapi, terlalu sering sendirian juga ternyata tidak baik. 

    Isolasi sosial bukan lagi fenomena baru. Walaupun mengalami peningkatan karena adanya pandemi COVID-19, tapi fenomena ini telah ada sejak lama dan bukan timbul karena pandemi.

    Jika isolasi sosial ini dilakukan dalam jangka waktu panjang, akan berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

    Berikut adalah dua jenis isolasi sosial yang dialami oleh seseorang:

    • Isolasi sosial faktor eksternal: contoh utama dari jenis ini adalah isolasi sosial karena pandemi. Orang-orang yang ingin keluar dan bersosialisasi terhalang lockdown hingga risiko terkena virus dan membahayakan kesehatan. 
    • Isolasi sosial faktor internal: isolasi sosial jenis ini terjadi karena seseorang memilih untuk tidak bertemu orang lain dan bersosialisasi. Biasanya terjadi karena pengaruh kondisi mental seperti social anxiety.

    Baca Juga: 5 Cara Menjaga Kesehatan Mental saat Cari Kerja

    Faktor Risiko Isolasi Sosial

    Beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang melakukan isolasi sosial, masih menurut Better Up, adalah: 

    • Ditinggal orang terdekat: masa berduka seringkali membuat seseorang mengisolasikan diri. Tapi, jika terjadi dalam periode yang lama ini akan menyakiti orang tersebut baik fisik dan mental.
    • Kekerasan domestik: pelaku kekerasan biasanya memaksa seseorang untuk memutuskan hubungan dan koneksi sosial. 
    • Media sosial: tak bisa dipungkiri, kini media sosial menggantikan interaksi secara langsung, kamu cenderung akan melakukan isolasi sosial. 
    • Kehilangan pekerjaan: perasaan malu karena menjadi pengangguran dan kehilangan rutinitas pekerjaan seperti rapat dan berkolaborasi dengan banyak orang bisa memberi risiko isolasi sosial yang tinggi. 
    • Kondisi kesehatan: kondisi kesehatan menjadi salah satu faktor internal penyebab seseorang melakukan isolasi sosial. 
    • Remote work: adaptasi new normal karena pandemi membuat banyak pekerjaan dilakukan secara remote. Secara tidak langsung, remote work menyebabkan kamu merasa tidak terkoneksi dengan rekan kerja dan lebih nyaman bekerja sendiri. 

    Efek yang Ditimbulkan dari Isolasi Sosial

    Berikut adalah beberapa efek yang mungkin kamu rasakan saat melakukan isolasi sosial terus-menerus.

    1. Depresi dan kecemasan

    Depresi dan kecemasan adalah hal yang memiliki hubungan dan keterkaitan dengan isolasi sosial.

    Ada orang yang mengalami depresi serta kecemasan sehingga mengisolasikan diri, namun sebaliknya ada juga yang mengalami depresi dan kecemasan saat isolasi sosial.

    Kedua kondisi ini berbeda, namun memang saling terkait. Untuk mengatasinya, kamu harus meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

    2. Kebiasaan agresif 

    Orang yang melakukan isolasi sosial akan merasakan frustasi dan diwujudkan dalam bentuk kebiasaan yang agresif. 

    Contohnya, mereka akan mudah emosi jika ada hal yang tidak disetujui keinginan dan marah saat idenya ditolak. 

    3. Lesu dan tidak berenergi

    Efek melakukan isolasi sosial yang terlihat adalah mereka mulai lebih pasif dalam melakukan sesuatu.

    Selain itu, mereka akan terlihat tidak memiliki energi juga menjadi lebih pendiam. 

    4. Insomnia atau light sleep 

    Walaupun kamu mengalami hari yang panjang, lelah, dan butuh istirahat, orang yang merasa kesepian biasanya memiliki masalah tidur.

    Kamu bisa klik tombol di bawah ini untuk baca lebih lanjut tentang kesulitan tidur walaupun sudah merasa lelah dan mengantuk.

    BACA ARTIKELNYA

    5. Kehilangan memori 

    Untuk orang-orang yang sudah tua dan melakukan isolasi sosial, biasanya mereka akan mudah melupakan sesuatu dan meningkatkan risiko demensia.

    6. Tidak melakukan self-care

    Orang yang melakukan isolasi sosial akan lebih malas membersihkan rumah dan diri sendiri. 

    Selain itu, kebiasaan jelek lainnya adalah mengonsumsi makanan tidak sehat dan cenderung tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan self-care.

    Baca Juga: Mengenal Self Healing: Arti, Teknik, Manfaat, dan Pilihan Kegiatan

    Cara Mengatasi Isolasi Sosial

    Berikut adalah 6 cara mengatasi isolasi sosial:

    1. Gunakan 15-minute rule 

    Aturan ini mengharuskan kamu untuk berbicara setidaknya 15 menit dalam sehari dengan teman, keluarga, maupun rekan kerja. 

    Ini bisa dilakukan melalui telepon, video chat, bermain game bersama, dan obrolan secara langsung. Interaksi kecil seperti ini akan memberi dampak besar pada perasaan kamu. 

    2. Fokus dengan orang yang sedang bicara

    Saat kamu sedang berbicara dengan orang lain, kurangi distraksi dan fokus pada orang tersebut. Contohnya, jangan mendengarkan seseorang sembari berselancar di media sosial. 

    Fokus kepada pembicaraan dan orang yang berbicara akan meningkatkan kualitas interaksi sekaligus mood-mu. 

    3. Membantu orang lain 

    Berbuat baik pada orang lain terbukti memberi dampak yang baik juga untuk diri sendiri.

    Kamu bisa memulainya dengan menyapa dan membantu tetangga, menanyakan kabar, hingga mengikuti kegiatan sukarelawan. 

    4. Menerima bantuan

    Selain menawarkan bantuan, menerima bantuan juga bisa membantu meringankan sedikit beban pikiran dan perasaan.

    Menerima bentuk bantuan dari orang lain ini membantu kamu merasakan dukungan sosial yang dibutuhkan.

    5. Olahraga 

    Berkegiatan di luar rumah walaupun hanya olahraga ringan dapat membantu meningkatkan kondisi kesehatan mental.

    Kamu akan merasakan lebih banyak koneksi sosial dari kegiatan di luar ruangan.

    6. Konsultasi dengan profesional 

    Tidak ada hal yang salah dengan berkonsultasi ke profesional dan menjadwalkan terapi.

    Jika perasaan kesepian, depresi, atau gangguan kecemasan kamu terhadap kegiatan sosial dirasa terlalu kuat, konsultasi profesional adalah jawabannya. 

    Baca Juga: Jangan Sampai Ganggu Mental, Kelola Stresmu dengan Trik-Trik Ini

    Itu dia serba-serbi isolasi sosial yang telah Glints rangkum untuk kamu.

    Efek pandemi COVID-19 yang lumayan signifikan dalam keseharian bisa membuat kamu merasa terbiasa dengan isolasi sosial. 

    Namun, perlu diingat bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak akan baik, termasuk saat kamu menghabiskan terlalu lama waktu untuk sendirian. 

    Mulai dari depresi hingga gangguan kecemasan, banyak dampak negatif yang akan kamu rasakan dari isolasi sosial yang berlebihan. 

    Untuk menghindari dampaknya, kamu bisa belajar dan cari informasi lebih jauh tentang kesehatan mental.

    Dari istilah-istilah tertentu hingga tips menjaga kesehatan mental, Glints sudah siapkan artikelnya untuk kamu, lho!

    Yuk, temukan dan baca ragam artikel kesehatan mental lainnya dengan klik di sini!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 4.8 / 5. Jumlah vote: 4

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Terkait