Entitlement Mentality: Definisi, Dampak, dan Tips Menghindarinya

Diperbarui 02 Jan 2023 - Dibaca 7 mnt

Isi Artikel

    Pernahkah merasa kamu harusnya mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari rekan kerja, karena urusan senioritas? Jika iya, hati-hati, bisa jadi kamu mengalami entitlement mentality.

    Sikap ini sering kali dikatikan dengan generasi milenial. Menurut Forbes, ini merupakan stigma bahwa milenial dibesarkan oleh orang tua baby boomer atau Gen X yang memanjakan mereka.

    Akibatnya, milenial dianggap tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia telah berutang sesuatu kepada mereka, dan mengeluh ketika mereka tidak mendapatkan yang diinginkan.

    Namun, benarkah anggapan tersebut? Yuk, cari tahu selengkapnya.

    Baca Juga: 4 Ciri Victim Mentality di Tempat Kerja, Apakah Kamu Mengalaminya?

    Apa Itu Entitlement Mentality?

    Menurut WebMDentitlement mentality didefinisikan sebagai perasaan layak atau berutang budi ketika sedikit atau tidak ada yang dilakukan untuk pantas mendapatkan perlakuan khusus.

    Singkatnya, ada keinginan untuk mendapatkan manfaat atau perlakuan tertentu di luar apa yang sewajarnya.

    Sikap mental ini, masih menurut WebMD, disebabkan oleh faktor-faktor berikut.

    • lingkungan tempat tumbuh kembang
    • pola asuh orang tua
    • apakah orang dewasa memecahkan masalahmu untukmu?
    • bagaimana caramu diperlakukan oleh figur otoritas?

    Sikap seperti ini dapat mempengaruhi hubungan personal dan profesional.

    Di tempat kerja sendiri, sikap ini bisa menyebabkan masalah karena dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak bersahabat.

    Dilansir dari Association for Talent Development, beberapa tanda-tanda berikut bisa menjadi acuan apakah seseorang memiliki entitlement mentality di tempat kerja.

    • tidak mengambil tanggung jawab
    • bersikap negatif
    • memiliki konflik dengan orang lain
    • tidak bersikap fleksibel dalam bekerja
    • cenderung mengeluh tanpa menawarkan solusi yang layak

    Entitlement mentality sendiri tidak selalu dialami oleh milenial. Forbes menyebut bahwa kecenderungan milenial untuk memiliki sikap mental ini didasari atas perbedaan usia dengan generasi sebelumnya.

    Baca Juga: Mengenal Silo Mentality, Pemicu Persaingan Tak Sehat di Kantor

    Dampak Entitlement Mentality

    Ternyata, mentalitas ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental maupun hubungan kita dengan orang lain, lho. Berikut penjelasannya.

    1. Kekecewaan yang berlebihan

    Saat kamu merasa ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai ekspektasi, otomatis ada rasa kekecewaan yang muncul.

    Rasa kecewa ini tentu normal dan manusiawi. Namun, pada orang-orang yang memiliki entitlement mentality, kekecewaan yang dirasakan sangat mendalam.

    Kekecewaan umumnya bukan termasuk ke dalam perasaan positif.

    Jadi, apabila dibiarkan, ke depannya dirimu akan didominasi oleh perasaan negatif ini terus menerus yang tentunya akan mempengaruhi cara berpikir dan perilakumu.

    2. Memicu konflik

    Dampak selanjutnya adalah potensi konflik yang dapat terjadi di mana saja, baik itu di lingkungan kerja, pertemanan, maupun keluarga.

    Seseorang dengan mentalitas entitlement ini akan merasa bahwa semua orang berutang kebaikan atau pengakuan padanya.

    Oleh karena itu, saat dia tidak menerima pengakuan atau kebaikan tersebut, pasti ada perasaan negatif yang dirasakan pada orang sekitar.

    Hal inilah yang akan memicu komunikasi tidak sehat bahkan konflik atau perseteruan dengan orang lain.

    3. Memperburuk performa di dunia kerja

    Entitlement mentality membuatmu merasa superior dari pada orang lain.

    Di dunia kerja, tentunya sikap ini tidak baik dan akan menghambatmu untuk belajar dari orang lain dan menjadi lebih baik ke depannya.

    Seorang pemimpin dengan mentalitas ini juga cenderung memiliki tendensi untuk mengambil keputusan dengan mengedepankan kepentingannya sendiri.

    Cepat atau lambat, pasti ke depannya ada dampak buruk yang akan terjadi pada kinerja di kantor apabila mentalitas ini tak segera diperbaiki.

    4. Selalu merasa tidak bahagia

    Saat seseorang merasa entitled, ia sering kali akan berpikir bahwa orang lain memperlakukan mereka secara tidak adil.

    Padahal kenyataannya belum tentu seperti itu.

    Pikiran negatif tentang orang lain ini justru hanya akan membuatmu selalu kesal, kecewa, sedih, bahkan stres berkepanjangan.

    Akibatnya, kebahagiaan akan sulit dirasakan jika kamu selalu merasa lebih baik dari orang lain dan menaruh ekspektasi tinggi bahwa kamu selalu pantas mendapatkan apa yang kamu inginkan.

    Tips Menghindari Entitlement Mentality

    entitlement tendency

    © Freepik.com

    Lantas, bagaimana cara menghindari entitlement mentality ini? Berikut tipsnya.

    1. Cobalah melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda

    Menurut Psychology Today, cara pertama yang bisa kamu lakukan untuk menghindari entitlement mentality adalah dengan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.

    Kamu bisa melakukannya dengan cara mengambil contoh saat kamu merasa agak kesal dengan seseorang. Luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan situasinya dari sudut pandang orang lain.

    Dengan cara ini, kamu bisa belajar memahami bagaimana pendapat dan perasaan mereka terhadap masalah yang sama.

    2. Dukung kesuksesan rekan kerjamu

    Biasanya, entitlement mentality muncul dari rasa iri atas kesuksesan orang lain. Ada perasaan bahwa kamu lebih berhak terhadap kesuksesan tersebut bisa memicu sikap mental ini.

    Padahal, penelitian yang dilansir Psychology Today menunjukkan bahwa mempromosikan kesuksesan orang lain memiliki efek positif pada orang yang berbagi.

    Untuk itu, cobalah mempromosikan atau mendukung kesuksesan rekan kerjamu. Hal ini tentunya akan meningkatkan suasana positif di tempat kerja.

    3. Pertimbangkan alasanmu

    Kaitkan sikap entitlement yang kamu rasakan dan pertimbangkan hal tersebut dengan bukti dan perspektif alternatif.

    Misalnya, apa alasan aturan yang sama yang berlaku untuk orang lain juga harus berlaku untukmu? Apakah ada alasan yang valid mengapa kamu harus mendapatkan perlakuan khusus?

    Dengan mempertimbangkan hal-hal ini, kamu bisa membedakan kapan saatnya kamu berhak mendapatkan perlakuan khusus, dan kapan hal tersebut merupakan bagian dari entitlement mentality.

    4. Amati apa yang terjadi jika kamu menekan perasaan entitlement

    Amatilah dan jawab beberapa pertanyaan ini ketika menekan enetitlement mentality:

    • Apakah kamu merasa mudah untuk mempertahankan hubungan kerja tanpa membuat rekan kerjamu marah?
    • Apa kamu akhirnya merasa tidak terlalu kesal terhadap teman kerjamu jika berbeda pendapat?
    • Apakah akhirnya kamu merasa lingkungan kerja lebih mendukung Anda karena kamu mendukung orang-orang di lingkungan kerjamu?

    Menekan kecenderungan rasa entitlement sebenarnya menguntungkanmu dan mendorongmu untuk bekerja dengan perasaan yang lebih nyaman.

    5. Kendalikan dirimu

    Entitlement mentality bisa muncul tanpa diduga. Bahkan, terkadang perasaan itu dianggap wajar pada kondisi-kondisi tertentu.

    Psychology Today menyebut ini sebagai kecenderungan yang umum. Oleh karena itu, cobalah mengendalikan dirimu ketika perasaan tersebut muncul.

    Kembangkan self-awareness agar kamu lebih memahami pemikiran dan pendapatmu sendiri.

    Baca Juga: Ini Alasannya Mengapa Kamu Perlu Menghindari Herd Mentality di Kantor

    Entitlement mentality tidak hanya dapat membuat lingkungan kerja menjadi tidak nyaman, namun juga dapat menghambat perkembangan kariermu, lho.

    Jangan sampai kamu justru mengembangkan mentalitas atau sikap yang dapat berdampak buruk untuk kehidupan profesional maupun personalmu, ya.

    Di tempat kerja, ada banyak sekali wawasan penting yang dapat membantu kelancaran perjalanan kariermu.

    Glints Blog punya kategori khusus yang membahas banyak sekali tips tempat kerja yang akan bermanfaat untukmu, baik bagi yang sudah lama bekerja maupun yang baru meniti karier.

    Ayo kunjungi link ini sekarang juga dan eksplor topik yang sesuai dengan keinginanmu!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 3 / 5. Jumlah vote: 4

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Terkait