Disruptive Marketing, Kunci Pemasaran Sukses di Era Digital
Ditulis oleh : Nadiyah Rahmalia
Ketika mendengar istilah disruptive marketing, apakah kamu berpikir bahwa ini merupakan hal buruk?
Tenang, kata disruptif di sini bukan berkonotasi negatif.
Justru, strategi marketing yang satu ini merupakan salah satu kunci sukses di persaingan ketat masa ini.
Dengan strategi pemasaran disruptif, kamu bisa menciptakan metode unik yang meningkatkan minat beli target audiensmu.
Ingin tahu lebih lanjut tentang strategi tersebut?
Yuk, simak artikel Glints berikut ini.
Isi Artikel
Apa Itu Disruptive Marketing?
© Freepik.com
Menurut Copypress, istilah disruptive awalnya belum digunakan untuk strategi pemasaran.
Disruptive pertama digunakan untuk inovasi, khususnya teknologi.
Istilah disruptive innovation ini dicetuskan oleh Clayton Chistensen, seorang profesor di Harvard University tahun 1997.
Menurutnya, disruptive innovation adalah proses dimana sebuah perusahaan kecil dengan sumber daya yang sedikit bisa bersaing dengan perusahaan yang besar.
Dengan inovasi yang dilakukan, perusahaan ini bisa mencetak standar baru dan menjadi kompetitor unggul di pasar.
Contoh inovasi disruptif yang telah dilakukan dari masa ke masa adalah telepon genggam yang mengalahkan telepon rumah.
Lalu, apa itu disruptive marketing?
Disruptive marketing adalah melakukan strategi pemasaran dengan cara baru yang mengalahkan cara-cara lama.
Dengan strategi ini, kamu bisa mengubah persepsi konsumen tentang perusahaanmu dan industrinya secara keseluruhan.
Di era serba canggih ini, pemasaran disruptif sangat erat dengan inovasi di bidang teknologi.
Mengapa Disruptive Marketing Penting?
© Freepik.com
1. Perkembangan teknologi yang pesat
Dibanding tahun 80-an dengan sekarang, tentunya orang-orang sudah semakin lekat dengan teknologi.
Hampir semua orang paling tidak mempunyai smartphone.
Mereka pun memiliki akses ke internet dengan gadget yang dimiliki.
Oleh karena itu, para marketer dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam mencari cara untuk memasarkan produknya.
Dengan strategi disruptive marketing, kamu bisa menjangkau lebih banyak orang dan memasarkan produkmu secara lebih efektif.
2. Konsumen memiliki ekspektasi yang lebih tinggi
Alasan penting lainnya mengapa disruptive marketing adalah hal yang penting untuk dilakukan adalah karena konsumen cenderung memiliki ekspektasi yang lebih tinggi.
Fakta ini disampaikan oleh Insightly dengan membandingkannya dengan generasi-generasi sebelumnya.
Tanpa strategi yang lebih inovatif dan unik, akan sulit untuk memenuhi keinginan konsumen tersebut.
3. Penggunaan media sosial
Siapa yang tidak menggunakan media sosial sekarang ini?
Ternyata, lebih dari 90% generasi milenial menggunakan media sosial.
Milenial juga adalah kelompok demografis yang jumlahnya sangat besar.
Dari data ini, kita bisa menyimpulkan bahwa peluang memanfaatkan media sosial untuk marketing semakin besar.
Akan tetapi, persaingannya pun cukup ketat.
Oleh karena itu, disruptive marketing menjadi penting untuk bisa membantumu meningkatkan engagement di media sosial dengan target.
Contoh Disruptive Marketing
© Rawpixel.com
1. Nike
Nike, perusahaan baju dan sepatu olahraga yang sangat terkenal ini pernah membuat campaign iklan YouTube yang berjudul “Better For It“.
Iklan ini terdiri dari beberapa video tentang cerita Margot dan Lily, kakak beradik yang diadopsi.
Mereka berdua memiliki kesukaan yang bertolak belakang.
Hal ini membuat mereka menjadi bersaing.
Dari narasi ini, tujuan Nike adalah untuk membuat campaign yang relatable atau bisa dirasakan oleh para penontonnya.
Banyak perempuan, khusunya kakak beradik yang merasakan hal yang sama.
Aspek disruptive marketing dari campaign ini adalah metode marketing yang tidak memaksakan konsumen untuk membeli, berbeda dengan marketing pada umumnya.
Akan tetapi, Nike membuat target audiensnya tertarik untuk membeli produknya karena merasakan hal yang sama dengan Margot atau Lily.
2. HBO
Channel TV HBO sekarang memiliki platform streaming yang bernama HBO Go.
Untuk memasarkan platform streaming ini, HBO membuat sebuah iklan.
Dalam iklannya, ada sebuah keluarga yang menonton berbagai film dengan genre yang berbeda-beda di TV.
Sayangnya, tak semua anggota keluarga menikmati tayangan-tayangan itu.
Pada akhirnya, HBO menawarkan produknya dengan kalimat “Might be a good time for HBO Go“.
Dengan cara ini, HBO menunjukkan bahwa kamu bisa memilih tayangan yang diinginkan dan semua bisa diakses dari gadget yang berbeda-beda dengan HBO Go.
Strategi ini banyak menggunakan elemen storytelling, karena karakteristik audiens masa kini yang cenderung lebih menyukai iklan yang memiliki alur cerita untuk diikuti.
Begitulah serba-serbi tentang disruptive marketing.
Kira-kira, strategi marketing disruptif apa yang akan kamu cetuskan untuk bisnis atau perusahaanmu?
Jika masih butuh banyak referensi dan ilmu tentang marketing, Glints sudah mempersiapkan artikel yang wajib kamu baca.
Yuk, baca referensi blog untuk belajar digital marketing di sini!
