Penerapan UX Metrics untuk Meningkatkan Keberhasilan
Ditulis oleh : Riyan Satria
Bukan rahasia lagi, user experience (UX) merupakan bagian penting dalam keberhasilan bisnis. Itulah mengapa, mengukur UX menggunakan metrics menjadi penting.
Apakah kamu sudah berkenalan dengan istilah ini? Selain itu, bagaimana cara tepat untuk menerapkannya?
Saya akan menjelaskan semua kepadamu dalam artikel ini.
Isi Artikel
Apa Itu UX Metrics?
UX metrics adalah sebuah ukuran yang menilai interaksi di antara pengguna dan produk. Nantinya, ia bisa menunjukkan apakah produk telah bekerja sesuai ekspektasi atau belum.
Ukuran ini hadir dalam bentuk data angka alias kuantitatif. Data-data ini bisa membuat perusahaan mengambil keputusan bukan atas opini, melainkan berdasarkan fakta.
Idealnya, UX metrics ditentukan sejak awal kita mendesain solusi. Dengan begitu, kita bisa segera tahu apakah solusi tadi telah memenuhi ketentuan.
Jika memang ada hal-hal yang perlu diperbaiki, misalnya realita yang tak sesuai rencana, kita bisa segera memperbaikinya.
Dalam setiap organisasi, yang bertanggung jawab dalam mengukur UX tentu berbeda-beda. Akan tetapi, semua orang yang berkaitan dengan pengalaman pengguna dan produk memiliki peran di dalamnya.
Baca Juga: Tak Perlu Bingung, Ini 3 Beda Pekerjaan Product Manager dan Product Owner
Mengapa Penting?
Jika suatu produk sudah ada dan digunakan dalam waktu yang lama oleh user, pernahkah kamu bertanya, apakah produk bisa ditingkatkan dan diperbaiki menjadi lebih baik oleh perusahaan?
Jika memang bisa, bagian produk mana yang harus diubah atau ditambah?
Di sinilah UX metrics berperan. Ia bisa menghadirkan data-data yang diperlukan sebagai penguat argumen dan rencana bisnis selanjutnya.
Dengan memiliki data ini, perusahaan takkan kebingungan dan bisa melihat hal apalagi yang bisa diperbaiki dari produk.
Bukan hanya itu saja, UX metrics juga bisa dibalik dan digunakan sebagai petunjuk atas tercapai atau tidaknya berbagai rencana bisnis yang ada.
Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Beda Product Manager dan Project Manager
Implementasi UX Metrics
Untuk dapat mengukur UX, sebelumnya, kita perlu menentukan beberapa hal, yaitu tujuan dan sinyal. Setelah itu, kita melakukan penentuan metrics-nya.
1. Menentukan tujuan
Menentukan tujuan di awal sangatlah penting. Dengan begitu, tiap anggota tim bisa memiliki pemahaman yang sama.
Misalnya, bagaimana cara membuat pengguna bisa menyelesaikan registrasi dengan baik? Contoh lainnya adalah, bagaimana cara memicu perusahaan mendapatkan lebih banyak transaksi?
Kamu juga harus ingat, tujuan dari produk atau fitur bisa berbeda-beda. Hal ini juga bisa terjadi dalam satu aplikasi yang sama.
Memang, kita pasti memiliki banyak sekali tujuan. Akan tetapi, tetap pilih tujuan yang dirasa paling penting. Dengan begitu, kegiatan mengukur UX bisa berjalan dengan fokus.
2. Mendefinisikan sinyal
Selepas menentukan tujuan, saatnya memilih sinyal yang tepat untuk UX metrics.
Tiap-tiap tujuan tadi tentu berkaitan dengan serangkaian aktivitas. Oleh karena itu, kita perlu memikirkan dan memetakan aktivitas apa yang berkaitan dengan tujuan tadi.
Pemetaan ini kita sebut dengan sinyal. Agar kamu lebih paham apa maksudnya, saya akan memberikan contoh.
Misalnya, tujuan yang telah ditetapkan adalah membuat pengguna bisa menyelesaikan registrasi dengan efektif.
Nah, sinyal yang bisa dipilih adalah, pengguna mampu menekan tombol “Daftar” sebagai langkah terakhir dalam registrasi.
Baca Juga: Meski Mirip, Ini Letak Perbedaan antara UX Designer dan Product Designer
3. Penentuan metrics
Setelah sinyal ditetapkan, kita wajib memilih ukuran yang memperlihatkan sinyal tersebut. Ukuran ini merupakan angka alias data kuantitatif.
Misalnya, masih dengan tujuan yang sama, yaitu membuat pengguna bisa registrasi dengan baik. Sinyal yang dipilih adalah mampunya pengguna menekan tombol “Daftar” di akhir tahap registrasi.
UX metrics yang bisa ditetapkan adalah tingkat keberhasilan registrasi. Dalam hal ini, sejak langkah pertama hingga terakhir, pengguna diharapkan bisa menyelesaikan pendaftaran. Target yang dipilih berupa angka, misalnya sebesar 80%.
Akan lebih baik jika, sambil mengukur UX, data bisa disajikan di real-time dashboard. Dengan begitu, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita bisa mengambil tindakan dengan cepat.
Metrics yang digunakan bisa berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh tujuan dan sinyalnya. Secara ringkas, berikut ini saya berikan contoh penerapan framework HEART dari Google.
Kesalahan yang Umum Terjadi
Ada kesalahan yang sering kali terjadi dalam proses mengukur UX. Dua di antaranya adalah:
1. Tidak merencanakan pengkuran dari awal
Pada praktiknya, sering kali, kita hanya mendefinisikan masalah dan solusinya tanpa menetapkan ukuran keberhasilan.
Hal ini membuat ketika fitur atau produk sudah dirilis ke pengguna, kita tidak tahu tingkat keberhasilannya.
Tidak adanya UX metrics inilah yang menyebabkan fitur atau produk tersebut tidak dapat berkembang.
2. Ukuran yang tidak sesuai sinyal dan tujuan
Misalnya, tujuan yang sudah ditetapkan adalah konversi pengguna untuk berlangganan. Akan tetapi, data yang saat ini tersedia adalah jumlah pengunjung pada halaman situs atau aplikasi.
Pengembangan produk atau fitur menjadi tidak efektif jika hal yang dilakukan hanya berusaha meningkatkan jumlah pengunjung.
Pasalnya, pengguna alias pengunjung hanya menunjukkan orang yang datang ke halaman situs atau aplikasi. Data ini belum menunjukkan konversi pengguna untuk berlangganan.
Baca Juga: Microcopy: Definisi dan Fungsinya untuk Meningkatkan User Experience (UX)
Demikian penjelasan dan uraian saya. Nah, topik ini juga pernah saya bahas di Glints ExpertClass bertajuk “UX Metrics: Measuring UX Effectiveness of Your Product” pada Kamis, 6 Agustus 2020 lalu.
Kalau ketinggalan, kamu tak perlu sedih. Semua tentang user experience bisa dipelajari di kelas online Glints ExpertClass. Tinggal cari topik yang pas, lalu daftarkan dirimu.
Jadi, tunggu apa lagi? segera pesan tiketnya sebelum kehabisan. Klik link ini sekarang juga.
