Beda Penalaran Induktif dan Deduktif: Arti dan Cara Melakukannya

Tayang 01 Okt 2022 - Dibaca 5 mnt

Isi Artikel

    Penalaran induktif dan deduktif adalah kemampuan yang membantu seseorang untuk mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan kondisi tertentu.

    Lalu, seperti apa perbedaannya? Di artikel ini Glints sudah merangkumnya untuk kamu. Yuk, simak artikelnya!

    Penalaran Induktif dan Deduktif

    Penalaran induktif adalah kemampuan menarik kesimpulan umum berdasarkan dari berbagai skenario yang spesifik.

    Sedangkan, penalaran deduktif adalah kemampuan menarik kesimpulan yang didukung oleh berbagai skenario yang ada.

    Meski berbeda, keduanya tetap akan membantumu dalam melakukan problem-solving dan decision-making.

    Menurut Indeed, perbedaan mendasar di antara keduanya adalah dari mana penarikan kesimpulan berasal.

    Penalaran induktif dimulai dari sebuah observasi lalu didukung oleh pola yang ada dan berakhir pada sebuah hipotesis atau teori, sementara penalaran deduktif adalah kebalikannya.

    Penalaran induktif mengandalkan pola dan tren. Sedangkan, penalaran deduktif mengandalkan fakta dan peraturan yang berlaku.

    Masih melansir Indeed, kamu bisa melakukan penalaran induktif untuk memahami bagaimana masalah dapat terjadi dengan mengobservasi pola.

    Sedangkan, kamu bisa menggunakan penalaran deduktif untuk menjelaskan hubungan dari dua atau lebih masalah dan situasi yang ada.

    Baca Juga: Critical Listening, Skill yang Bantu Kamu Bedakan Fakta dan Opini

    Cara Melakukan Penalaran Induktif

    1. Melihat situasi dan tren

    Kamu bisa melakukan penalaran induktif dengan melihat situasi dan tren yang ada saat ini.

    Sebagai contoh, saat membuat strategi marketing baru, kamu harus menganalisis tren yang sedang booming di publik atau pasar sasaran.

    Lalu, mulai analisis strategi marketing yang sudah dilakukan sebelumnya dan juga dari kompetitormu. Cari tahu juga apakah strategi tersebut sukses.

    2. Melakukan observasi

    Setelah mengetahui situasi dan tren yang sedang terjadi, kamu bisa melakukan observasi. Carilah informasi yang berharga dari situasi dan tren tersebut.

    Sebagai contoh, kamu bisa mengobservasi seberapa besar penjualan perusahaan saat terakhir kali mengubah strategi marketing. Apakah meningkat, menurun, atau sama saja?

    Kemudian, catatlah informasi-informasi tersebut untuk dipelajari lebih lanjut melalui brainstorming atau meeting.

    Baca Juga: Jadi Kunci Kembangkan Karier di Masa Kini, Apa Itu Skill Fast Learning?

    3. Membuat teori

    Kemudian, kamu bisa membuat teori atau kesimpulan umum berdasarkan observasi sebelumnya.

    Coba lihat apakah ada pola yang terbentuk atau terjadi dalam proses observasi tersebut.

    Contohnya, kamu melihat kesuksesan strategi marketing yang telah dilakukan sebuah perusahaan selama 5 tahun terakhir.

    Kemudian, kamu bisa menyimpulkan bahwa komponen dari strategi marketing tersebutlah yang membawa kesuksesan untuk perusahaan.

    penalaran induktif dan deduktif

    © Pexels.com

    4. Mengimplementasikan penemuan

    Setelah teori dibuat, kamu bisa lakukan perubahan atau penyesuaian dalam strategi marketing dalam mengimplementasikan teori.

    Sebagai contoh, kamu menemukan bahwa brand awareness dan penjualan meningkat dengan melakukan posting secara rutin di Instagram saat prime time.

    Berdasarkan informasi tersebut, kamu dapat membuat keputusan untuk terus melakukan posting secara rutin saat prime time di Instagram.

    Baca Juga: Kuasai Cara Menemukan Nilai dan Pesan Utama Tulisan dengan Critical Reading

    Cara Melakukan Penalaran Deduktif

    1. Mulai dari teori

    Berbeda dengan penalaran induktif, penalaran deduktif berasal dari sebuah teori yang sudah ada dan kemudian dikaitkan dengan lingkungan di tempat kerja.

    Sebagai contoh, kamu ingin meningkatkan awareness dan menjaga relasi dengan konsumen.

    Lalu, kamu menemukan teori yang mengatakan bahwa media sosial adalah medium paling efektif untuk melakukan komunikasi dengan konsumen.

    2. Mengembangkan hipotesis

    Tahap berikutnya adalah mengembangkan hipotesis berdasarkan teori yang dibuat sebelumnya.

    Untuk mengembangkan hipotesis, kamu bisa menggunakan pernyataan jika-maka.

    Contohnya adalah sebagai berikut;

    Jika menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan konsumen, maka perusahaan dapat menjaga relasi sekaligus meningkatkan awareness mereka terhadap brand.”

    3. Mengambil data dan menganalisis hasil

    Berikutnya, kamu bisa mengambil data untuk mendukung hipotesis yang telah dibuat.

    Sebagai contoh, kamu bisa melihat berbagai metrik di media sosial seperti brand health dan scoring.

    Setelah data terkumpul, analisis hasil untuk menentukan apakah awareness dan relasi dengan konsumen sudah baik dan apa yang bisa diperbaiki.

    © Pexels.com

    4. Mengimplementasikan penemuan

    Setelah hasilnya didapatkan, implementasikan penemuan tersebut untuk meningkatkan awareness dan menjaga hubungan dengan konsumen di media sosial.

    Sebagai contoh, kamu bisa rutin melakukan post di Instagram untuk meningkatkan awareness dan menggunakan gaya bahasa yang luwes untuk menjaga hubungan dengan konsumen.

    Baca Juga: Bantu Kamu Memahami Perasaan Orang Lain, Ketahui Apa Itu Empathic Listening

    Nah, itulah beberapa perbedaan dari penalaran induktif dan deduktif.

    Dengan perbedaan dan juga cara mengimplementasikannya, akan lebih mudah untukmu membuat keputusan di tempat kerja.

    Selain kemampuan ini, masih ada banyak cara-cara membuat keputusan dan menyelesaikan masalah yang terjadi di tempat kerja.

    Maka, temukan artikel-artikel terkait yang sudah Glints siapkan dan tambah wawasanmu.

    Yuk, klik di sini untuk temukan dan baca selengkapnya!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 1

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Terkait