×

Memahami Marketing Funnel dan Strategi Suksesnya

April 16, 2020 | No Comments

Bagi kamu yang bekerja di dunia marketing, mempelajari marketing funnel adalah suatu keharusan. Dengan memahami marketing funnel, kamu akan mengetahui bagaimana persisnya sebuah pengerucutan di dunia marketing itu terjadi.

Itu baru pengertian secara sederhana. Glints akan menjelaskan kepada kamu tentang marketing funnel, kenapa pemasaran jenis ini harus dipahami, tahapan-tahapan dalam marketing funnel, serta strategi apa saja yang perlu diterapkan dalam funnel tersebut.

Baca Juga: Kupas Tuntas Affiliate Marketing, dari Pengertian Sampai Tips Menjalankannya

Apa Itu Marketing Funnel dan Kenapa Penting Dipahami?

marketing funnel

© Unsplash.com

Neil Patel memiliki penjelasan yang sederhana dalam memahami apa itu marketing funnel. Prinsipnya sama seperti corong. Ia mengibaratkan funnel itu seperti sebuah proses, yang kerap terlihat dalam situs-situs yang kita akses sehari-hari.

Jadi begini, kamu ingin membeli buku di Amazon.com. Tentu kamu tidak langsung tiba-tiba membeli buku kan? Hal pertama yang kamu buka adalah membuka situs Amazon.com, lalu berlanjut ke proses pemilihan buku yang ingin kamu beli.

Setelah mendapatkan buku yang ingin dibeli, maka buku itu akan dimasukkan ke dalam keranjang. Kemudian, kamu membeli buku itu dan membayar kepada Amazon.com. Selesai! Kamu sudah menjalankan sebuah marketing funnel.

Nah, sederhananya, marketing funnel adalah proses marketing yang memanfaatkan tahap-tahap di atas. Di penjelasan berikutnya, tahap-tahap itu akan dikenal sebagai sebuah stage. Setiap proses ini akan memiliki ciri khasnya masing-masing.

Lalu, mengapa mempelajari marketing funnel itu penting? Neil mengungkapkan bahwa dengan mempelajari funnel, maka kamu atau perusahaan yang giat memasarkan produknya lewat online marketing, akan mengetahui sesuatu.

Ya, ketika terjadi penurunan minat daya beli masyarakat, funnel bisa melacak di tahap sebelah mana pembeli biasanya mengundurkan diri. Hal itu akan jadi pembelajaran, sehingga kamu atau perusahaan akan menerapkan strategi yang baru.

Baca juga: Menyelami Konsep 7P dalam Marketing Mix (Bauran Pemasaran)

Penjelasan Masing-masing Stage dalam Marketing Funnel

marketing funnel

© Unsplash.com

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, marketing funnel memiliki tahap-tahap yang lazim disebut stage. Tiap stage biasanya mempunyai ciri khas masing-masing, sehingga pendekatan yang diterapkan kelak akan berbeda.

Meski begitu, dalam tiap stage yang ada di marketing funnel ini, kebocoran tentu akan terjadi. Ahrefs bahkan menyebut beberapa kebocoran adalah hal normal, dan itu memang bagian dari marketing funnel ini.

Kebocoran itu biasanya berupa adanya calon pembeli yang tidak tertarik atau adanya orang-orang yang melihat-lihat tapi akhirnya tidak jadi membeli. Hal ini perlu diwaspadai apabila terjadi secara terus menerus atau dalam skala besar.

Lalu, apa saja tahap yang biasanya ada dalam marketing funnel. Berikut penjelasannya.

1. Awareness

marketing funnel

© Unsplash.com

Di stage marketing funnel ini, orang-orang biasanya baru akan mengetahui produk yang kamu atau perusahaan pasarkan. Istilahnya, stage ini adalah bentuk perkenalan sebuah produk terhadap masyarakat luas sebelum digunakan.

Ada banyak hal yang membuat produk dikenal. Bisa jadi karena ia ditulis di Medium, dibicarakan dalam Podcast di Spotify, diiklankan di Facebook, tidak sengaja ditemukan di Google, atau videonya beredar di YouTube.

Bagaimanapun caranya sebuah produk dikenal, yang penting orang-orang tahu produk itu ada..

2. Interest

marketing funnel

© Unsplash.com

Setelah orang-orang sadar akan keberadaan suatu produk, ada kemungkinan mereka berubah jadi calon pembeli. Perubahan dari awareness ke interest ini terjadi karena banyak hal. Salah satunya adalah merasa bahwa suatu produk punya nilai.

Ketika mereka memasuki tahap marketing funnel ini, berarti mereka sudah tertarik dengan produk yang dipasarkan. Ciri terbesar suatu proses marketing yang sudah masuk ke interest adalah banyak dicari di Google. Tidak hanya itu, orang-orang akan banyak bertanya lebih dalam tentang produk ini.

3. Consideration

marketing funnel

© Unsplash.com

Di tahap ketiga marketing funnel, ketertarikan itu sudah menjadi pertimbangan. Pertimbangan yang dimaksud adalah soal keinginan membeli produk yang bersangkutan. Pertimbangan ini muncul karena banyak alasan.

Dua alasan utama perubahan interest ke consideration adalah harga dan nilai. Dengan harga yang terjangkau dan memiliki nilai, suatu produk akan lebih mampu mendapatkan pembeli dibandingkan yang sebaliknya. 

Namun demikian, proses ini belum disebut sebuah keberhasilan. Hal ini dikarenakan pada tahap ini, masyarakat masih akan menimbang-nimbang, terutama jika ada alternatif-alternatif lain di pasar yang serupa.

4. Conversion

marketing funnel

© Unsplash.com

Pada tahap ini, kepercayaan calon pembeli terhadap suatu produk sudah bulat. Mereka hanya tinggal menekan tombol beli di situs tempat penjualan produk dan akan langsung membayar untuk mendapatkan produk.

Baca Juga: Yuk, Memulai Karier Sebagai Social Media Marketing!

Strategi Masing-masing Stage dalam Marketing Funnel

marketing funnel

© Unsplash.com

Tiap stage dalam marketing funnel memerlukan strategi yang berbeda. Seperti yang sudah dijelaskan, mereka memiliki kekhasan mereka masing-masing, sehingga butuh pendekatan yang berbeda.

1. Awareness

marketing funnel

© Unsplash.com

Awareness bukan soal memasarkan produk ke masyarakat luas dengan sosial media. Produk juga bisa diperkenalkan secara offline dari mulut ke mulut.

Peluang untuk mendapatkan interest bahkan semakin besar karena proses offline membawa kepercayaan.

2. Interest

game

© Unsplash.com

Jika suatu produk mulai menarik perhatian, jangan terlalu bangga. Hal ini dikarenakan masih ada kemungkinan bahwa ketertarikan tersebut tidak akan berlangsung pada pembelian.

Lakukanlah dua hal berikut: analisis pencarian di Google mengenai kebiasaan orang di tahapan ini dan coba menjadi ahli soal pasar dari produk tersebut.

Dengan begini, kamu tidak hanya akan berlanjut ke fase marketing selanjutnya, tapi juga menjadi kiblat dari suatu pasar.

3. Consideration

© Unsplash.com

Saat orang mulai mempertimbangkan suatu produk, buat mereka yakin. Sebuah advokasi tentang produk harus dibuat, karena calon pembeli pasti akan membandingkan suatu produk dengan produk kompetitor.

Bagaimana caranya? Gunakan narasi tentang produk. Kamu bisa mulai dengan menjelaskan tentang konsep, ide, maupun cerita yang berkaitan dengan produk yang kamu jual.

Tentu saja, narasi yang digunakan tidak boleh bertele-tele. Tetap tegas dan lugas, sehingga dari pertimbangan, calon pembeli akan beranjak ke stage keempat ini.

4. Conversion

© Unsplash.com

Di fase ini, strategi marketing funnel-nya bukan lagi membuat seseorang menjadi pembeli produk. Tapi membuat pembeli mendapatkan kesan yang baik setelah berbelanja atau menggunakan produk yang bersangkutan.

Contohnya adalah pengingat manakala produk yang dijual sudah memasuki stok-stok terakhir. Selain itu, penjual juga dapat menyisipkan informasi tambahan mengenai produk lain agar pembeli merasa diingatkan.

5. Strategi Tambahan

© Unsplash.com

Jika merujuk pada Sprout Social sebenarnya ada tahap lain yakni loyalty dan advocacy. Untuk loyalty, kamu bisa memberikan diskon bagi para pembeli reguler (pelanggan). Rawat juga hubungan dengan pelanggan ini lewat email dan media sosial.

Kemudian untuk advocacy, jangan ragu menerima saran dari pelanggan, agar proses marketing funnel ke depan yang akan kamu jalani jadi lebih baik. Pelanggan juga punya suara, tidak hanya sekadar menjadi pembeli semata.

Nah, itu dia serba-serbi marketing funnel dan tips suksesnya. Ingin coba berkarier di bidang marketing atau ingin mencari pekerjaan yang berkaitan dengan ini? Yuk, sign up dan cek berbagai lowongan kerja marketing di Glints!

YOU MAY ALSO LIKE

Scroll Up