Lean Startup: Cara Membangun Usaha Berdasarkan Kebutuhan

Diperbarui 23 Des 2020 - Dibaca 12 mnt

Isi Artikel

    Lean startup adalah sebuah metode populer untuk kamu yang sedang mencari ide untuk membangun startup.

    Perlu diketahui bahwa proses membangun startup hingga akhirnya bisa bertahan atau berkembang pesat bukanlah hal yang mudah.

    Pasalnya, dalam tahap awal membangun startup biasanya sumber daya sangatlah terbatas. Baik itu sumber daya manusia, modal, atau hal lainnya.

    Namun, kebutuhan sumber daya yang terbatas itu tidak lagi menjadi masalah utama sejak dicetuskannya metodologi lean startup oleh Eric Ries pada tahun 2011 lalu.

    Melalui bukunya yang berjudul The Lean Startup, ia berhasil mengenalkan metode ini hingga akhirnya dikenal ke seluruh dunia.

    Brand terkenal seperti Dropbox hingga Wealthfront merupakan beberapa perusahaan sukses yang menerapkan metode lean startup.

    Ingin tahu lebih banyak soal metode lean startup mulai dari pengertian hingga fase-fasenya? Yuk, simak rangkumannya di bawah ini.

    Baca Juga: 6 Jenis Pekerjaan yang Selalu Dibutuhkan Perusahaan Startup

    Pengertian Lean Startup

    lean startup adalah

    © Freepik.com

    Dilansir dari University Lab Partners, lean startup adalah suatu metode untuk mengembangkan produk dan bisnis dalam waktu yang singkat.

    Mengapa metode ini disebut bisa mengembangkan bisnis dalam waktu yang relatif singkat?

    Rupanya karena dalam menerapkan lean startup pemilik bisnis harus fokus pada pengembangan produk sekaligus mendapatkan feedback dari pelanggan.

    Jadi, biasanya mereka akan merilis contoh produk ke pelanggan dan meminta pendapat mereka mengenai produk tersebut.

    Misalnya, produk yang dibuat tidak sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan tidak dapat memuaskan mereka, maka perusahaan akan segera tahu.

    Perusahaan pun akhirnya bisa segera memutuskan apakah model bisnis mereka layak dan tetap mempertahankannya.

    Misalnya hasil produknya tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka bisa segera diputuskan apakah akan membuat produk baru atau hanya meningkatkannya saja.

    Sementara itu, menurut website resmi TheLeanStartup menyebutkan bahwa metode ini bisa menyampaikan produk ke pelanggan lebih cepat.

    Metode ini akan mengajari para pebisnis untuk mengelola startup dengan lebih cepat dan tahu kapan waktunya bertahan dan berbalik.

    Hal utama yang ditekankan dalam metode ini adalah pengembangan produk baru yang sesuai dengan kebutuhan para pelanggannya.

    Salah satu kesalahan perusahaan startup adalah memulai bisnis dengan menemukan ide membuat produk yang mereka pikir diinginkan oleh pelanggan.

    Kemudian, mereka akan menghabiskan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk menyempurnakan produk tersebut.

    Namun, tanpa ditunjukkan kepada pelanggan dan mendapatkan tanggapan dari mereka tentunya produk tersebut bisa saja tidak disukai.

    Jadi, saat produk akhirnya dirilis ke pasar dan pelanggan tidak memberikan respon yang positif, tentunya bisnis tidak akan berakhir baik.

    Bahkan, tidak sedikit startup yang akhirnya gagal bertahan karena produk tidak disukai oleh pelanggan.

    Fase Lean Startup

    lean startup

    © Freepik.com

    Tujuan dari diciptakannya metode lean startup oleh Eric Ries adalah untuk meminimalkan risiko saat mendirikan sebuah startup.

    Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko tersebut adalah dengan menciptakan produk yang disukai pelanggan.

    Selain itu, selalu konsisten belajar hal baru saat proses pengembangan produk sangat perlu dilakukan. Tidak lupa, berani bereksperimen juga ditekankan dalam melakukan metode lean startup.

    Metode ini diciptakan Eric Ries setelah mengalami dua kegagalan saat membangun bisnisnya.

    Ia akhirnya percaya bahwa efisiensi adalah satu-satunya cara agar startup bisa berhasil tanpa membuang banyak sumber daya yang diperlukan.

    Supaya bisa efisien dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, lean startup memiliki fase yang berpusat pada build (membangun), measure (mengukur), dan learn (mempelajari).

    Berikut ini penjelasannya.

    Build

    Build merupakan fase pertama dari metode lean startup. Perusahaan bertujuan untuk membuat dan mengembangkan produk sederhana atau MVP (Minimum Viable Product).

    Sebelum mulai mengembangkan produk tentunya perusahaan sudah memiliki sebuah ide untuk membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

    MVP yang dikembangkan tersebut akan diuji langsung ke pasar untuk menentukan apakah produk tersebut memang diinginkan oleh pelanggan.

    Perlu diingat bahwa MVP tidak boleh diberikan kepada semua pelanggan. Namun, harus diberikan kepada kelompok kecil pelanggan di berbagai demografi.

    Merilis MVP akan memudahkan perusahaan untuk mengetahui seperti apa respon dari pelanggan. 

    Jadi, saat dirilis versi finalnya pelanggan sudah memiliki gambaran yang jelas dari produk tersebut.

    Measure

    Dalam fase measure harus diperhatikan seperti apa feedback yang diberikan oleh pelanggan saat mereka mencoba menggunakan MVP.

    Respon tersebut sangat berguna untuk menyempurnakan produk sehingga bisa memenuhi kebutuhan dari para pelanggan.

    Namun, jika pelanggan memberikan respon yang kurang baik, segeralah untuk mengambil keputusan apakah akan menghentikan proses pembuatan produk atau tidak.

    Jika respon yang diberikan sangat buruk, tentu pilihan untuk mulai membuat produk lagi bukanlah hal yang salah. Malahan, hal itu bisa menghemat sumber daya dan tidak membuang-buang waktu.

    Learn

    Pada fase terakhir dari lean startup ini data yang didapatkan dari proses measurement akan dianalisis lebih lanjut.

    Dalam tahapan ini akan dibuat kesimpulan dari hasil proses measurement dan menentukan langkah yang akan diambil oleh perusahaan selanjutnya.

    Pasalnya, hasil dari fase learn ini akan dijadikan dasar apakah perusahaan perlu melakukan suatu perbaikan pada produk atau tetap mengembangkannya.

    Selain itu, dari fase ini juga bisa menentukan apakah perusahaan akan melakukan perubahan pada strategi bisnis atau yang sering disebut dengan pivot.

    Perbedaan Lean Startup dan Tradisional Startup

    © Freepik.com

    Metode lean startup tentunya memiliki cukup banyak perbedaan dari model bisnis startup yang tradisional.

    Menurut Investopedia, perbedaan lean startup dengan model bisnis tradisional bisa dilihat dari perekrutan karyawan hingga metrik laporan keuangannya.

    Perusahaan yang menerapkan lean startup lebih memilih mempekerjakan karyawan yang mudah beradaptasi, belajar, dan bekerja secara cepat.

    Kemudian dalam metrik laporan keuangan, mereka lebih fokus pada customer value hingga customer acquisition cost.

    Selain beberapa hal tersebut, berikut ini beberapa karakteristik utama yang membedakan metode lean startup dan model bisnis startup yang tradisional.

    Karakteristik dari lean startup:

    • Mengembangkan produk berdasarkan keinginan pelanggan.
    • Menggunakan Validated Learning untuk menentukan minat pelanggan.
    • Fokus pada metrik seperti popularitas produk dan lifetime customer value.
    • Menggunakan MVP untuk menilai reaksi dari pelanggan terhadap produk yang dikembangkan.
    • Lebih fokus pada eksperimen daripada berpegang pada rencana yang sudah dibuat.

    Karakteristik dari metode startup yang tradisional:

    • Diawali dengan pembuatan rencana bisnis untuk beberapa tahun mendatang.
    • Memiliki proyeksi keuangan yang jelas.
    • Membuat produk secara rahasia di mana hanya karyawan dan investor saja yang mengetahui.
    • Rencana bisnis digunakan untuk mendapatkan dana dari angel investor dan perusahaan venture capital.

    Dapat disimpulkan bahwa lean startup adalah metode yang memiliki prinsip untuk meminimalisir sumber daya dan waktu yang terbuang sia-sia.

    Selain itu, hal yang satu ini juga bertujuan untuk melakukan pengujian hipotesis dari ide yang dimiliki. 

    Jadi, bisa diketahui bahwa produk yang dikembangkan memang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan.

    Tidak hanya info soal lean startup saja, blog Glints juga memiliki beragam informasi serta tips lainnya, lho.

    Kamu bisa berlangganan newsletter dari blog Glints agar tidak ketinggalan beragam informasi seputar dunia marketing hingga pengembangan diri yang paling update

    Yuk, segera sign up sekarang juga dan dapatkan info dan tips menarik dari Glints langsung ke kotak masukmu setiap minggunya.

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 2

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait