Mendalami Divergent vs Convergent Thinking untuk Mengambil Keputusan Terbaik

Tayang 12 Mar 2022 - Dibaca 5 mnt
Ditulis oleh : Rena Widyawinata

Pola pikir divergent dan convergent sama-sama bisa membantu mengambil keputusan atau mencari ide. Lalu, sebenarnya apa perbedaan divergent vs convergent thinking?

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Kapan kamu harus menggunakan pola pikir divergent dan kapan yang convergent agar keputusan dan ide yang dihasilkan benar-benar yang terbaik?

Tenang, Glints sudah menyiapkan jawabannya untukmu berikut ini.

Memahami Perbedaan Divergent vs Convergent Thinking

© Freepik.com

Konsep dari kedua pola pikir ini pertama kali diangkat oleh psikolog J.P. Guilford pada 1950-an, mengutip Cleverism.

Untuk memahami perbedaan divergent vs convergent thinking, ketahui dulu masing-masing pola pikir lebih dalam lagi.

Baca Juga: Cara Mengasah Pola Pikir Agar Sukses Dalam Karier

Convergent thinking

Psychology Today menjelaskan bahwa dalam pola pikir convergent, semua kemungkinan solusi ditimbang berdasarkan informasi yang sudah diketahui secara pasti.

Maka, umumnya convergent thinking akan menghasilkan satu ide atau pemecahan masalah yang terbaik.

Pola pikir ini cocok digunakan untuk masalah-masalah yang memang butuh pemecahan secara logis. Atau misalnya saat menjawab soal pilihan ganda.

Divergent thinking

Sementara itu, dalam pola pikir divergent kamu harus lebih kreatif dalam melihat suatu permasalahan.

Kamu bisa saja menemukan banyak solusi sekaligus, tak cuma satu.

Karena itu, proses berpikir ini lebih membutuhkan brainstorming dan keterbukaan.

Divergent vs convergent thinking

Ada cara mudah untuk memahami perbedaan divergent vs convergent thinking.

Dilansir dari Asana, convergent thinking fokus pada pemecahan masalah yang sifatnya analitis untuk menghasilkan sebuah solusi.

Sementara itu, divergent thinking fokus pada pemecahan masalah secara kreatif dengan membuka peluang selebarnya untuk mendapatkan banyak solusi sekaligus.

Contoh perbedaan divergent vs convergent thinking bisa disederhanakan sebagai berikut:

  • Convergent: kalau printer di kantor bermasalah, solusinya adalah panggil teknisi untuk memperbaiki printer-nya
  • Divergent: kalau printer di kantor bermasalah, cari tahu dulu akar masalahnya lalu pikirkan semua solusi yang mungkin. Misalnya cari video memperbaiki printer macet di YouTube, tanya ke teman-teman kantor yang terakhir menggunakan printer, atau memanggil teknisi untuk langsung memperbaiknya.
cara membuat artikel

© Freepik.com

Menyeimbangkan Divergent dan Convergent Thinking

Menurut Scott Barry Kaufman, psikolog kognitif asal Amerika Serikat, kedua pola pikir ini bisa dan harus dipraktikkan secara seimbang.

Baca Juga :  Divergent Thinking: Pengertian dan Cara Menerapkannya di Tempat Kerja

“Tingkat kreativitas tertinggi membutuhkan baik pola pikir convergent maupun divergent,” tulisnya dalam Psychology Today.

Lalu kapan sebaiknya menggunakan pola pikir divergent, kapan convergent? Berikut ulasannya.

1. Mencari sebab suatu permasalahan: divergent thinking

Ketika ada masalah di kantor, cari tahu dulu semua kemungkinan pemicu masalahnya dengan pola pikir divergent.

Misal anggaran untuk proyekmu membengkak, atau bisa jadi komunikasi yang tidak lancar dalam tim, proyek harus berjalan lebih lama dari rencana awal, atau alokasi dananya kurang tepat.

Jadi jangan langsung menyimpulkan anggaran jadi membengkak karena satu hal saja.

Baca Juga: 9 Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Strategis

2. Mengerucutkan akar masalah: convergent thinking

Sudah tahu apa saja yang mungkin jadi penyebab masalahmu? Nah, sekarang kerucutkan akar masalah yang paling penting untuk diselesaikan.

Kamu membutuhkan convergent thinking untuk bisa mengerucutkan akar masalah terbesarnya.

3. Mencari solusi: divergent thinking

Dalam tahap ini, kamu harus kembali berpikir menggunakan pola pikir divergent.

Carilah sebanyak kemungkinan solusi dari akar masalah yang sudah kamu kerucutkan.

Misalnya anggaran proyekmu bengkak karena alokasi dananya kurang tepat. Maka, solusinya antara lain:

  • menggunakan template khusus untuk mengatur alokasi dana
  • melakukan riset lebih dalam untuk mencari tahu berapa dana yang diperlukan
  • mengadakan rapat rutin untuk memantau jalannya proyek dan anggaran yang sudah terpakai

4. Menentukan solusi terbaiknya: convergent thinking

Dari berbagai solusi yang sudah kamu pikirkan, kamu akan memilih mana solusi yang paling efektif dan penting.

Nah, kamu bisa kembali menggunakan convergent thinking untuk memilihnya.

Dengan memanfaatkan perbedaan divergent vs convergent thinking dalam situasi yang berbeda, kamu pun bisa mencapai keputusan terbaik.

Baca Juga: Penting untuk Karier, Ini 5 Cara Mengembangkan Growth Mindset

Itulah perbandingan divergent vs convergent thinking yang akan membantumu dalam membuat keputusan.

Baca Juga :  Bisa Tumbangkan Pesaing, Kenali Apa Itu Flagship Product dan Ciri-cirinya

Selain pola pikir, untuk mengambil keputusan terbaik, kamu juga harus melengkapi amunisimu dengan berbagai skill relevan.

Tenang, Glints sudah menyiapkan berbagai tips, panduan, serta penjelasan lengkap seputar pola pikir dan skill profesional yang kamu butuhkan dalam dunia kerja.

Langsung klik di sini, yuk!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon