Hard Selling dan Soft Selling: Apa Sih, Perbedaannya?

Diperbarui 02 Jun 2021 - Dibaca 9 mnt

Isi Artikel

    Hard selling dan soft selling adalah dua teknik yang bisa digunakan untuk promosi dan penjualan produk. Lalu, apa perbedaan antara hard selling dan soft selling ini?

    Teknik manakah yang lebih baik untuk bisnis atau perusahaanmu?

    Yuk, simak lebih lanjut untuk mengetahui jawabannya!

    infographic-hard selling vs soft selling

    © Glints

    Baca Juga: Yuk, Pelajari Apa Itu Brand Awareness dan Cara Meningkatkannya

    Apa Itu Hard Selling dan Soft Selling?

    Sebelum mengetahui perbedaan antara hard selling dan soft selling, ada baiknya kamu mengetahui lebih dalam mengenai kedua teknik ini.

    Hard selling

    Dilansir dari Investopedia, hard selling adalah metode pendekatan sales yang bersifat langsung dan gamblang. 

    Tujuan penggunaan pendekatan ini adalah agar konsumen terdorong untuk langsung melakukan transaksi. 

    Hard selling bisa dilakukan secara langsung oleh salesperson, atau mungkin juga diaplikasikan melalui iklan online dan offline

    Banyak orang yang menganggap metode ini agresif dan membuat pelanggan merasa terlalu diburu-buru. 

    Untuk kebutuhan tertentu, metode ini bisa menjadi cukup efektif.

    Soft selling

    Lalu, apa itu soft selling?

    Dilansir dari Hubspot, soft selling adalah pendekatan sales dengan menggunakan bahasa yang cenderung halus dan membuat orang penasaran. 

    Ketika melakukan pendekatan soft selling, calon konsumen tidak merasa diburu-buru atau terpaksa harus segera melakukan transaksi. 

    Biasanya, mereka akan lebih tertarik untuk melihat iklan atau mendengarkan salesperson menjelaskan lebih lanjut.

    Baca Juga: Kupas Tuntas Peran Sales Manager di Sebuah Perusahaan

    Perbedaan Hard Selling dan Soft Selling

    perbedaan hard sell dan soft sell

    © Freepik.com

    Setelah melihat penjelasan mengenai apa itu hard selling dan soft selling, terlihat jelas perbedaan mendasar di antara keduanya.

    Jika hard selling mengandalkan penjualan yang to-the-point dan cenderung agresif, beda halnya dengan soft selling.

    Penjualan soft selling mengandalkan persuasi dan penggunaan kata-kata yang halus, sehingga konsumen yang ditargetkan menjadi lebih penasaran.

    Selain perbedaan mendasar tersebut, berikut ini adalah aspek lain dari hard selling dan soft selling yang juga berbeda:

    1. Jangka waktu penjualan

    Untuk hard selling, jangka waktu penjualan yang ditargetkan tentu saja untuk jangka pendek.

    Dengan menggunakan teknik hard selling, maka kamu menginginkan orang tersebut untuk segera membeli produk yang ditawarkan di tempat. 

    Sedangkan soft selling lebih terfokus kepada penjualan jangka panjang. 

    Dilansir dari B2C, terdapat riset dari New Century Media yang menunjukkan bahwa konsumen akan lebih ingin membeli produk dengan teknik penjualan soft selling.

    Tak hanya itu, 97% akan merekomendasikan ke teman-temannya dan 95% kemungkinan akan membeli lagi produk atau jasa yang ditawarkan brand tersebut. 

    Jadi, soft selling bisa dikatakan lebih efektif untuk penjualan jangka panjang serta memperluas jangkauan konsumen.

    2. Ketertarikan konsumen

    Perbedaan kedua adalah ketertarikan konsumen. 

    Dilansir dari Simplicable, soft selling biasanya digunakan oleh perusahaan yang ingin membangun keterikatan dan juga image baik di mata konsumennya. 

    Semakin tinggi brand engagement-nya, maka kemungkinan besar akan semakin tinggi juga penjualannya.

    Biasanya, konsumen akan lebih tertarik dengan brand yang melakukan penjualan secara halus.

    Dengan begitu, mereka akan lebih penasaran untuk mengeksplor apa saja yang dibuat oleh brand ini, apakah ada promo tertentu, dan lain-lain. 

    Meskipun begitu, bukan berarti hard selling tidak mampu menarik konsumen.

    Hanya saja ketertarikan tersebut biasanya bertahan untuk jangka waktu yang tidak terlalu panjang. 

    Konsumen hanya tertarik untuk membeli satu produk saja, tanpa mengeksplor brand lebih jauh.

    3. Bidang industri yang menggunakannya

    Setiap perusahaan tentu saja memiliki pilihannya sendiri, apakah mereka ingin melakukan penjualan dengan teknik hard selling atau soft selling.

    Meskipun begitu, secara umum, terdapat beberapa industri yang identik dengan satu dari dua teknik penjualan ini.

    Industri yang biasa menggunakan teknik hard selling antara lain adalah telemarketing, asuransi, perbankan, dan lainnya. 

    Sedangkan teknik penjualan soft selling biasa digunakan dalam bidang content marketing, konsultan, manufaktur, dan masih banyak lagi.

    Baca Juga: Mendalami Apa Itu Brand Loyalty Beserta Cara Meningkatkannya

    Nah, itu dia penjelasan mengenai hard selling, soft selling, dan juga perbedaannya.

    Dapat disimpulkan bahwa perusahaan apapun sebenarnya bisa menggunakan kedua teknik penjualan ini.

    Bahkan, untuk hasil yang optimal, kedua teknik ini sebenarnya bisa digabungkan penggunaannya dan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. 

    Jika mengincar penjualan jangka panjang dan loyalitas dari konsumennya, gunakan teknik soft selling.

    Sedangkan untuk penjualan yang cepat dan langsung banyak, hard selling adalah teknik yang tepat untukmu.

    Untuk mendapatkan penjelasan mengenai istilah lain di dunia sales, marketing, atau bidang pekerjaan lainnya, segera berlangganan newsletter blog dari Glints.

    Yuk, daftarkan email-mu dan jangan sampai ketinggalan informasi baru seputar dunia kerja!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 4.7 / 5. Jumlah vote: 10

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait