6 Perbedaan People Person vs People Pleaser, Mana yang Lebih Baik?

Tayang 07 Des 2020 - Dibaca 6 mnt

Isi Artikel

    Sehari-hari, kamu bertemu banyak orang. Mulai dari si people person yang ramah hingga si people pleaser yang tidak pernah berkata “tidak”. Keduanya tampak mirip, tapi apa perbedaan people person vs people pleaser?

    Baik people person maupun people pleaser, keduanya tampak ramah terhadap orang lain.

    Sehingga, terkadang sulit membedakan mana yang benar-benar ramah dan mana yang terlihat ramah hanya untuk menyenangkan hatimu.

    Bagaimana cara membedakannya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

    Baca Juga: Baca Ini Kalau Kamu Tidak Punya Teman di Kantor

    People Person vs People Pleaser

    © Freepik.com

    1. People person

    Dilansir dari Cambridge Dictionarypeople person merupakan sebutan untuk seseorang yang ramah serta senang bertemu dan berinteraksi dengan orang lain.

    Sikap ramahnya membuat ia disenangi oleh banyak orang di sekitarnya. Orang dengan sifat ini umumnya cenderung memiliki perkembangan karier yang pesat.

    Ia juga memiliki kehidupan sosial yang cenderung aktif dan cenderung lebih bahagia.

    Berikut beberapa ciri-ciri seorang people person.

    • Pandai menyapa orang lain.
    • Mampu menjadi pendengar yang aktif.
    • Menunjukkan sikap rendah hati.
    • Dapat mengingat hal-hal penting tentang orang lain.

    2. People pleaser

    Berkebalikan dengan people person, people pleaser merujuk pada sikap seseorang yang merasa harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain.

    Psychology Today menyebut bahwa orang yang memiliki sikap ini sering salah mengartikan antara menyenangkan orang dengan kebaikan.

    Saat membahas keengganannya untuk menolak permintaan bantuan seseorang, ia mengatakan hal-hal seperti, “Saya tidak ingin menjadi egois,” atau “Saya hanya ingin menjadi orang baik.”

    Akibatnya, ia membiarkan orang lain memanfaatkannya.

    Hal-hal berikut dapat menjadi pertanda seseorang memiliki sifat people pleaser.

    • Selalu terlihat setuju dengan pendapat orang lain.
    • Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.
    • Sering meminta maaf.
    • Merasa terbebani dengan hal-hal yang harus dilakukan atau selesaikan.
    • Tidak bisa berkata “tidak”.
    • Haus akan pujian.
    • Selalu menghindari perselisihan.

    Baca Juga: Sulit Akur dengan Rekan Kerja yang Pasif Agresif? Ini Cara Menghadapinya

    Perbedaan People Person dan People Pleaser

    © Freepik.com

    1. Kebutuhan akan validasi

    People pleaser tidak ingin semua orang bersenang-senang karena mereka benar-benar suka melihat orang lain bersenang-senang.

    Ia menginginkan validasi yang datang bersamaan dengan memastikan orang lain bahagia.

    Sebaliknya, people person tidak membutuhkan validasi ini. Upayanya untuk memperlakukan orang lain dengan baik tidak dimotivasi oleh validasi,

    Ia berusaha dengan tulus untuk memuaskan orang lain. Namun, jika ia menyadari bahwa ia tidak dapat menyenangkan seseorang, itu tidak mengganggunya.

    2. Kebutuhan akan feedback

    Validasi bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh people pleaser. Ia juga membutuhkan seseorang untuk mengungkapkan kepadanya bahwa ia telah membuat mereka bahagia secara eksplisit.

    Di tempat kerja, ia akan membutuhkan atasan untuk mengomentari pekerjaan baik yang dilakukannya. Seorang people pleaser akan selalu merasa membutuhkan feedback yang positif.

    Sementara itu, people person memang ingin menyenangkan orang lain, Akan tetapi, ia tidak akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan feedback yang positif dari orang lain.

    Baginya, kepuasan datang dari membahagiakan seseorang. Jika ia mendapatkan tanggapan yang positif, itu akan menyenangkan. Akan tetapi, hal itu tidak menjadi masalah besar untuknya.

    3. Rasa identitas

    People pleaser begitu terbiasa mengakomodasi keinginan orang lain sehingga ia kesulitan membuat keputusan sendiri.

    Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dalam situasi tertentu. Ini karena ia tidak pernah membiarkan dirinya sendiri mempertimbangkan pilihan untuk membuat dirinya bahagia terlebih dahulu.

    Berkebalikan dengan itu, seorang people person tahu persis apa yang diinginkannya. Ia cukup membuat pertimbangan tertentu jika itu melibatkan kesempatan untuk membuat orang lain bahagia.

    People person tahu apa yang diinginkannya, namun tidak merasa perlu memilikinya.

    4. Motivasi

    Ironisnya, people pleaser adalah orang yang cukup egois. Ia memang ingin orang lain bahagia, tetapi itu karena ia kemudian dapat mengasosiasikan kepuasan orang itu dengan harga dirinya.

    People person berpeliraku sebaliknya. Ia akan mengesampingkan apa yang ia inginkan.

    Saat ia membantu orang lain, ia tidak melakukannya untuk merasa lebih baik, ia melakukannya karena itu adalah hal yang benar.

    5. Batasan

    People pleaser cenderung membiarkan dirinya dimanfaatkan. Ia menempatkan dirinya dalam situasi yang memungkinkan orang lain memanfaatkan kebaikannya.

    Ia juga tidak bisa mengatakan “tidak”, terutama jika itu berarti mengecewakan seseorang. Akibatnya, ia kesulitan untuk menetapkan batasan dalam hidupnya.

    People person adalah kebalikannya. Ia cenderung memiliki lebih banyak kendali atas situasi dalam hidupnya.

    Ia dapat melakukan berbagai hal untuk membuat orang lain bahagia.

    Namun, jika ia merasa tidak lagi diperlakukan dengan adil, ia akan menyampaikannya. Ia juga menjaga dirinya sendiri seperti halnya merawat orang lain.

    6. Perspektif

    Perspektif people person vs people pleaser dalam melihat dunia sangat berbeda.

    People pleaser melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya. Ia merasa terus-menerus berada dalam bahaya konfrontasi.

    Ia akan melakukan upaya apapun untuk menghindari situasi seperti itu, untuk memastikan bahwa setiap orang yang ia temui menyukainya.

    People person melihat dunia sebagai sebuah komunitas. Ia tidak memberikan dukungan karena ia melindungi dirinya sendiri.

    Ia memberikan dukungan karena percaya bahwa memperlakukan orang lain dengan baik adalah prinsip hidup yang berharga.

    Baca Juga: Menghadapi Rekan Kerja yang Keras Kepala? Pahami 5 Tips Ini

    Lantas, mana yang lebih baik antara people person dan people pleaser? Tentu saja, menjadi seorang people person akan lebih baik untukmu.

    Dibandingkan people pleaser, menjadi people person dengan keramahan yang tulus akan memberi banyak kemudahan dalam hidupmu.

    Kamu bisa mendapatkan berbagai informasi dan tips bermanfaat lainnya seputar dunia kerja melalui newsletter Glints.

    Setiap minggu, Glints akan mengirimkan artikel-artikel pilihan dan bermanfaat langsung ke inbox email kamu.

    Yuk, buruan daftar sekarang untuk dapatkan newsletter mingguan dari Glints!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 4.7 / 5. Jumlah vote: 3

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait