Apa Dampak Menulis Harga Rp9.999, Bukan Rp10.000? Simak Penjelasannya!
Ditulis oleh : Khairina F. Hidayati
Pernahkah kamu menjumpai penulisan harga Rp9.999, bukannya Rp10 ribu? Nah, istilah untuk penulisan harga itu adalah odd-even pricing.
Memangnya, kenapa angkanya harus ditulis seperti itu? Kira-kira, apa dampaknya terhadap penjualan?
Jawabannya ada di dalam artikel ini. Simak selengkapnya, yuk!
Mengenal Odd-Even Pricing
Melansir Monash Business School, odd-even pricing (OEP) adalah strategi penentuan harga. Ia merupakan bagian dari psychological pricing.
Nah, OEP terdiri dari dua strategi. Keduanya punya tujuan beda, namun sama-sama bertujuan memengaruhi persepsi konsumen.
Sejatinya, strategi ini bisa dilakukan oleh pelaku industri apa saja. Meski begitu, ia sering kali dijumpai dalam industri retail, restoran, hingga e–commerce.
Sekarang, bagaimana teknis penerapan strategi ini? Dirangkum dari HubSpot dan Shopify, informasinya adalah:
1. Odd pricing
Pernahkan kamu melihat barang seharga Rp9.999 di pasar swalayan? Selain itu, pernahkah kamu melihat merek yang menjual HP dengan harga Rp6.999.999?
Ini merupakan bagian dari odd-even pricing. Lebih tepatnya, ia merupakan bagian dari odd pricing. Angka terakhir dari harga tersebut adalah 9, sebuah angka ganjil.
Strategi ini membuat calon konsumen fokus pada angka pertama atau awal saja.
Kita kembali ke contoh tadi. Misalnya, ada merek yang menjual HP seharga Rp6.999.999. Ini akan menciptakan ilusi harga HP sebesar Rp6 juta, bukannya mendekati Rp7 juta.
Dapat disimpulkan, odd pricing bisa membuat harga terlihat murah. Ini juga mendorong terciptanya ilusi diskon.
Di zaman sekarang, odd pricing sangat sering kamu temui. Padahal, dulunya, ia diciptakan dengan tujuan yang sangat berbeda, lho.
Saat berbelanja, angka yang tidak bulat memaksa petugas kasir membuka mesin kasirnya. Ini dilakukan untuk mengambil kembalian.
Pada zaman dulu, pembukaan mesin inilah yang dihitung sebagai satu kali penjualan.
Pada masa sekarang, penjualan tak melulu soal terbukanya mesin kasir.
Oleh karena itu, strategi ini tak lagi berhubungan dengan perhitungan penjualan. Ia semata-mata digunakan untuk menciptakan ilusi harga yang lebih murah.
2. Even pricing
Jika odd pricing memicu kesan terjangkau, lain halnya dengan even pricing. Strategi ini justru bertujuan sebaliknya.
Misalnya, sebuah merek anting menuliskan harga sebesar Rp82.000. Akhiran dari harga tersebut adalah nol. Meski bukan bagian darinya, nol kerap dimasukkan ke rumpun angka genap.
Pelanggan dibuat tergiur dengan harga barang yang mahal. Ingat, beberapa orang memang menyukai barang yang punya nilai prestisius.
Nah, kesan harga mahal ini akan memberi kesan mewah. Inilah tujuan utama dari strategi even pricing.
Merek yang sering menggunakan strategi ini adalah kelompok high end. Sebab, kesan mahal adalah bagian dari pesona merek tersebut.
3. Kombinasi keduanya
Memang, OEP merupakan dua strategi yang sangat berbeda. Meski begitu, kamu bisa menciptakan kombinasi keduanya, lho.
Kita ambil contoh merek mewah. Mereka tentu pernah menjalankan strategi diskon.
Pada saat itu, merek tersebut bisa menggunakan odd pricing untuk barang diskonnya. Sementara itu, barang nondiskonnya memanfaatkan sistem even pricing.
Penggunaan dua strategi ini justru memperkuat harga yang sudah didiskon. Harga normal terlihat semakin mahal, namun harga diskonnya terlihat sangat murah.
Ini tak berlaku untuk harga diskon dan harga normal saja, lho. Kamu bisa menggunakan trik serupa untuk barang clearance sale, lini produk low budget, dan lain-lain
Strategi Psychological Pricing Lainnya
Ingat, odd-even pricing adalah bagian dari strategi psychological pricing. Selain OED, masih ada strategi lainnya. Strategi-strategi itu di antaranya:
1. Batas waktu
Pertama, ada strategi batas waktu. Sama seperti odd-even pricing, strategi ini umum dijumpai di e–commerce.
Kita ambil Hari Belanja Online Nasional sebagai contoh. Pada saat hari ini tiba, ada deretan toko online yang ikut berpartisipasi menawarkan promo besar-besaran.
Nah, banyak dari toko itu yang membatasi diskonnya hanya saat 12 Desember saja. Batas inilah yang jadi ciri khas strategi ini.
Diskon hanya berlaku dalam jangka waktu tertentu saja. Mengutip Price Intelligently, ini membuat calon pelanggan tergiur dan ingin segera membeli produkmu sebelum diskon usai.
2. BOGOF
BOGOF merupakan singkatan dari buy one get one free. Bahasa Indonesia dari strategi ini adalah beli 1 gratis 1.
Siapa yang tidak suka mendapat lebih banyak barang meski hanya membayar satu saja? Inilah yang jadi titik utama dari strategi BOGOF.
Melansir Entrepreneur, kamu juga bisa membuat variasi dari strategi ini, lho. Salah satunya adalah, beli 1 dengan harga Rp10 ribu, beli 2 dengan harga Rp13,5 ribu.
Dalam artikel ini, Glints hanya menunjukkan dua strategi tambahan. Akan tetapi, sejatinya, masih ada banyak strategi lainnya, lho.
Kamu bisa mempelajari semua itu di Glints ExpertClass. Glints ExpertClass adalah kelas dengan pemateri ahli berpengalaman.
Di sana, kamu bisa memelajari semua hal tentang penjualan dan pengembangan bisnis. Strategi penentuan harga hanyalah salah satunya.
Jangan sampai ketinggalan kelasnya, ya. Daftarkan dirimu sekarang juga!
Demikian informasi dari Glints soal odd–even pricing. Terapkan strategi ini untuk meningkatkan penjualanmu, ya!
