8 Mitos Seputar Branding yang Harus Kamu Tahu Kebenarannya

Tayang 05 Feb 2022 - Dibaca 6 mnt
Ditulis oleh : Rena Widyawinata

Bisnis kecil tak perlu branding, yang penting penjualannya. Apakah hal tersebut benar adanya? Atau pertanyaan tersebut merupakan mitos dalam branding?

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Setiap bisnis, baik itu kecil atau besar, tentunya perlu melakukan usaha marketing, baik itu untuk mendatangkan konsumen, keuntungan, hingga brand awareness.

Nah, kalau kamu mau memajukan bisnismu dengan branding yang kuat, maka, yuk ketahui fakta dari mitos-mitos berikut ini!

1. Branding itu soal logo dan nama perusahaan 

Mitos branding satu ini memang sering menjebak orang-orang yang baru memulai bisnisnya.

Branding dianggap sebatas menamai perusahaan atau produk dan membuat logonya yang khas.

Faktanya:

Disari dari Parker White, branding mencakup keseluruhan pengalaman dan elemen-elemen perusahaan.

Maka, segala hal yang bersinggungan dengan pelanggan (termasuk penggunaan bahasa dan gaya komunikasi) membutuhkan brand management yang efektif.

Baca Juga: 7 Tips Membuat Logo Perusahaan yang Memikat

2. Branding sama saja dengan marketing

Branding kerap dianggap sebagai marketing atau advertising. Ketiganya memang sering saling beririsan.

Namun, tujuan dan proses masing-masing berbeda.  

Faktanya:

Marketing dan advertising punya tujuan yang lebih spesifik dan hasilnya lebih terukur.

Advertising fokusnya pada apakah orang akan membeli. Namun, menurut Entrepreneur, advertising kurang bisa menjual kredibilitas layaknya brand building.

Marketing sendiri lebih dekat dengan branding. Ini karena marketing berperan penting dalam membentuk brand recognition.

Selain itu, keberhasilan taktik marketing dipengaruhi oleh seberapa kuat brand identity perusahaan.

perbedaan brand analyst dan brand strategist

© Freepik.com

3. Perusahaan kecil belum perlu fokus ke branding

Mitos branding yang satu ini cukup sering ditemui.

Pasalnya, berbagai contoh dan strategi branding yang sukses umumnya datang dari perusahaan-perusahaan besar.

Faktanya:

Perusahaan besar memang memanfaatkan branding yang kuat untuk menjaga dan memelihara posisi mereka di pasar.

Baca Juga :  Makin Banyak Peminatnya di Era Digital, Apa Itu Kompetisi Hackathon?

Namun, prinsip yang sama berlaku juga untuk perusahaan kecil atau baru dirintis.

Bedanya hanya perusahaan besar membutuhkan brand management yang lebih rumit.

Baca Juga: Tahapan dan Contoh Strategi Branding yang Berhasil Dilakukan

4. Yang penting kita menawarkan produk bagus

Banyak orang berpikir bahwa selama perusahaan menawarkan produk yang bagus, orang akhirnya akan membeli juga.

Jadi, tak perlu memusingkan branding. Ini tentu pandangan yang keliru.

Faktanya:

Banyak brand besar dan sukses yang produknya biasa saja.

Sedangkan banyak juga bisnis yang terancam gagal atau sudah tutup padahal produk-produknya luar biasa.

Ini karena tanpa usaha branding yang kuat, bisnismu akan sulit bersaing di pasar serta mendapatkan posisi dan kepercayaan pelanggan.

event branding

© Freepik.com

5. Branding harus mengikuti tren yang ada

Ini juga jadi mitos branding yang banyak diyakini. Terutama sejak meningkatnya penggunaan media sosial

Banyak yang beranggapan branding akan sukses kalau perusahaan selalu bisa mengikuti tren-tren saat ini.

Faktanya:

Branding yang kuat justru bertahan lama. Sedangkan tren akan selalu berubah dan dalam waktu cepat.

Idealnya, kamu menciptakan brand yang sifatnya konsisten serta timeless atau tak lekang oleh waktu.

Kalau identitasmu berubah-ubah terus akan membuat pelanggan bingung dan tak yakin.

 

6. Branding itu cuma untuk B2C

Kamu mungkin beranggapan bahwa branding itu cuma berlaku bagi perusahaan yang memasarkan produk langsung ke konsumen (B2C).

Faktanya:

Pada dasarnya kamu tetap menjual produk ke orang-orang. Karena pengambil keputusan sebuah perusahaan tetaplah orang-orang dengan kebutuhan dan nilai tertentu.

Nah, pada akhirnya perusahaan pasti menginginkan pilihan strategi branding yang tepat, aman, dan paling menguntungkan.

cara mengembangkan brand voice

© Rawpixel.com

7. Branding itu mahal

Mitos bahwa branding itu mahal sudah lama dipatahkan. Sayangnya, pola pikir bahwa mengeluarkan biaya untuk branding itu tak sepadan masih banyak ditemukan.

Baca Juga :  Ad Exchange, Platform Jual-beli Iklan yang Para Advertiser Perlu Ketahui

Faktanya:

Branding tidak harus mahal. Inti dari branding itu menangkap pengalaman brand yang paling akurat dan memastikan bagaimana bisnismu dipandang pada setiap aspek serta tahapan.

Kamu bisa membangun branding dengan memanfaatkan kontak ke media untuk menayangkan press release, misalnya.

Tak perlu membuat kampanye yang menghabiskan puluhan atau ratusan juta, kok.

Bahkan membuat konten di media sosial bisa jadi salah satu cara gratis menunjukkan identitas brand-mu.

8. Tak ada hasil nyata dari usaha branding

Banyak yang kesulitan melihat dan menilai hasil nyata dari strategi branding.

Karena itu, orang-orang menyimpulkan bahwa branding tak menghasilkan sesuatu yang konkret.

Faktanya:

Kalau kamu mau menjual 100 barang, coba dorong penjualan dari marketing atau advertising terlebih dahulu

Namun, bila kamu mau memastikan konsumen akan membeli lagi, bangunlah brand loyalty.

Inilah hasil nyata dari usaha branding: kepercayaan pelanggan dan pandangan mereka tentang kualitas produkmu.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Buku tentang Branding

Sekarang kamu sudah tahu, kan, delapan mitos branding yang harus ditinggalkan?

Jangan sampai mitos-mitos tersebut menghalangi usaha branding-mu lagi, ya.

Kalau mau tahu lebih jauh soal branding, Glints punya kumpulan artikel yang bisa kamu baca, lho.

Cari tahu lebih jauh soal branding, dari tips, pilihan strategi, hingga trik-trik pentingnya dengan klik tombol di bawah ini!

CEK ARTIKELNYA


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon