Iterative Development Model: Arti, Tahapan, Plus, dan Minusnya

Tayang 26 Sep 2022 - Dibaca 6 mnt

Isi Artikel

    Beda dari model waterfalliterative development model proses iterasi menambahkan fitur satu per satu, menghasilkan produk kerja di akhir setiap iterasi, dan meningkatkan fungsionalitasnya dari siklus ke siklus.

    Model iteratif lebih seperti proses yang berputar dibanding tahapan proses selangkah demi selangkah yang kaku.

    Saat fase perencanaan awal selesai, beberapa tahapan lain diulang, sehingga menghasilkan sebuah siklus. 

    Setiap satu siklus selesai, perangkat lunak diperbaiki dan diiterasi.

    Nah, yuk, pahami lebih jauh model pengembangan software ini selengkapnya di bawah ini.

    Pengertian Iterative Development Model

    Iterative development model adalah pendekatan pengembangan perangkat lunak (software) yang memecah proses pengembangan aplikasi besar menjadi bagian-bagian kecil.

    Setiap bagian yang disebut “iterasi” mewakili proses pengembangan keseluruhan serta berisi langkah-langkah perencanaan, desain, pengembangan, dan pengujian.

    Bagi kamu yang belum paham dengan istilah iterasi, menurut Vocabulary, ini bermakna pengulangan. 

    Dalam ilmu komputer, iterasi berarti mengeksekusi seperangkat instruksi berkali-kali atau sampai hasil tertentu diperoleh.

    Iterative model development merupakan implementasi dan bagian dari software development life cycle (SDLC).

    Iterative model development punya beragam metodologi pengujian dan pengembangan, aktivitas, tools, serta teknik.

    Model iteratif adalah implementasi spesifik siklus hidup pengembangan perangkat lunak

    Model ini berfokus pada implementasi sederhana yang semakin kompleks dan memiliki set fitur yang lebih luas seiring perjalanannya menuju sistem final.

    Baca Juga: 6 Skill yang Wajib Ditekuni Software Developer, Bukan Hanya Coding

    Proses Iterative Development Model

    Berikut tahapan dalam iterative development model menurut Planbox:

    1. Tahap perencanaan

    Digunakan untuk mengatur detail spesifik, termasuk kebutuhan perangkat keras atau lunak serta persiapan tahapan berikutnya.

    2. Tahap analisis

    Dilakukan untuk memasang model database, logika bisnis, dan perangkat lain yang diperlukan untuk tahapan ini.

    Desain juga ada di tahap tersebut, di mana persyaratan teknis dibentuk. 

    Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang ditentukan di tahap analisis.

    3. Tahap implementasi dan proses coding

    Dokumen spesifikasi, perencanaan, dan desain dijalankan dan di-coding di titik ini.

    4. Tahap testing

    Prosedur pengujian dilakukan untuk mengidentifikasi masalah atau bug yang muncul.

    5. Tahap evaluasi

    Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk semua perkembangan sampai tahap ini.

    Tim dan klien atau pihak eksternal dapat memeriksa proyek tersebut dan memberikan masukan terkait apa yang perlu atau bisa diubah.

    Setelah tahapan-tahapan tadi selesai, iterasi software yang terakhir dibangun berikut masukan dari evaluasi dikembalikan ke tahap perencanaan dan pengembangan (tahap 1) untuk diulangi lagi.

    Baca Juga: Earned Value Management, Sistem Evaluasi Kinerja dalam Sebuah Manajemen Proyek

    Kelebihan Iterative Development Model

    • Karena prosesnya bertahap, model ini memungkinkan identifikasi dan koreksi kekurangan di tahap awal agar tidak terlanjur masuk ke proses yang lebih jauh.
    • Dengan model iteratif, versioning (produksi versi software yang berbeda) lebih mudah dengan memastikan setiap iterasi yang baru adalah versi yang lebih baik dari iterasi sebelumnya.
    • Jika iterasi baru gagal, iterasi sebelumnya bisa diimplementasikan atau rolled-back dengan kerugian minimal.
    • Lebih mudah dapat masukan dari pengguna, seperti tanggapan mereka tentang produk saat ini dan apa yang mereka harapkan dari produk tersebut di masa depan. Dengan demikian, kamu bisa membuat perbaikan dan perubahan yang dibutuhkan.
    • Bisa menghemat waktu untuk dokumentasi yang seringkali terjadi di cara kerja waterfall.
    • Jadi bisa lebih fokus pada desain proyek.
    • Cocok untuk organisasi yang cepat berubah, terutama yang memiliki tim kecil dan tangkas.
    • Dengan iterasi yang sering dan konstan secara reguler, adaptabilitas yang cepat memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan kebutuhan proyek atau klien secara cepat.
    • Meski kelihatannya banyak tahapan yang harus diikuti dan diulangi, model iteratif menawarkan proses penyelesaian yang cepat.

    Kekurangan Iterative Development Model

    Menurut Eastern Peak, meski keseluruhan proses iteratif cukup fleksibel, fase iterasi kaku dan harus diikuti dengan hati-hati. 

    Perubahan yang tidak diduga bisa terjadi pada pengembangan iteratif karena tidak semua persyaratan ditentukan sejak awal proyek.

    Hal ini dapat menyebabkan proses yang tersendat, atau bahkan diulangi. Alhasil kerugian waktu, materi, dan biaya akan dirasakan.

    Baca Juga: Jangan Tertukar, Pelajari Perbedaan antara Waterfall dan Agile Testing

    Nah, itulah serba-serbi iterative development model yang sudah Glints rangkum untuk kamu.

    Untuk lebih menguasai proses software developmentGlints sudah menyiapkan ragam artikel untuk kamu baca dan pelajari.

    Yuk, klik di sini untuk temukan dan baca artikel-artikelnya sekarang juga!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote: 0

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Terkait