Ciri-Ciri Kepemimpinan Transaksional dan Plus Minusnya

Diperbarui 31 Agu 2022 - Dibaca 11 mnt

Isi Artikel

    Pernah punya atasan dengan gaya kepemimpinan transaksional?

    Jika belum, kali ini Glints akan membagikan penjelasan rinci tentang seperti apa bentuk gaya kepemimpinan yang satu ini.

    Apakah menguntungkan untuk karyawan? Seperti apa ciri-cirinya? Apa saja kekurangannya? Semuanya akan dikupas tuntas berikut ini!

    Selain gaya kepemimpinan transaksional, masih ada banyak tipe kepemimpinan di perusahaan, lho.

    Apa Itu Gaya Kepemimpinan Transaksional?

    perilaku customer bulan ramadan

    © Freepik.com

    Teori kepemimpinan ini pertama kali digagas oleh sosiolog Max Weber, yang kemudian dikulik lebih dalam oleh Bernard M. Bass pada awal 1980-an.

    Gaya kepemimpinan ini juga banyak dikenal sebagai gaya kepemimpinan manajerial, lho.

    Kepemimpinan transaksional cenderung menekankan hasil.

    Itu kenapa kepemimpinan transaksional lebih menitikberatkan peran pemimpin secara formal sebagai koordinator, pengawas, dan penilai kinerja tim. 

    Selain itu, pemimpin transaksional juga bertanggung jawab untuk mempertahankan rutinitas dengan mengelola kinerja individu dan memfasilitasi kinerja kelompok.

    Demi mencapai tujuan akhir dengan hasil terbaik, pemimpin manajerial menggunakan sistem “hadiah dan hukuman” untuk memastikan anggota timnya patuh menyelesaikan tugas mereka sebaik mungkin.

    Baca Juga: Bagaimana Menentukan Gaji yang Kamu Pantas Dapatkan

    Gaya kepemimpinan transaksional dijalani layaknya simbiosis mutualisme. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

    Ketika suatu tugas berhasil diselesaikan anggota sesuai arahan, tentu hal ini menguntungkan pemimpin. Dengan begitu, bisa dibilang ia sudah memenuhi target.

    Nah, sebagai “imbalan” bagi anggota tersebut, pemimpin dapat memberikan insentif sesuai yang telah dijanjikan di awal.

    Insentif yang umum biasanya berupa pembayaran upah atau gaji, kenaikan jabatan (promosi), fasilitas tambahan di luar gaji pokok, hingga bonus tahunan. Menyenangkan bukan?

    Bentuk ucapan terima kasih ini, akhirnya membuat bawahan merasa kerja kerasnya dihargai.

    Ciri-Ciri Kepemimpinan Transaksional

    gaya kepemimpinan demokratis

    © Freepik.com

    Seorang pemimpin pada dasarnya adalah panduan bagi suatu kelompok.

    Maka, mereka dapat meyakinkan para pengikut untuk mematuhi instruksi yang diberikan. Inilah yang membangun aspek paling penting dari kepemimpinan transaksional. 

    Mengutip Very Well Mind, berikut adalah beberapa karakteristik utama dari gaya manajerial transaksional:

    • Anggota akan berkontribusi melakukan yang terbaik ketika rantai komando jelas.
    • Adanya iming-iming hadiah dan hukuman selalu memotivasi.
    • Mematuhi instruksi pemimpin adalah tujuan utama para anggota.
    • Bawahan perlu dimonitor dengan hati-hati untuk memastikan target terpenuhi.

    Jika atasanmu menganut gaya kepemimpinan transaksional, biasanya mereka menunjukkan sifat-sifat seperti:

    • Berfokus pada tujuan jangka pendek; penekanan hanya pada penyelesaian tugas. 
    • Mendukung kebijakan dan prosedur terstruktur.
    • Menekankan pentingnya aturan dan melakukan hal-hal dengan benar sesuai prosedur.
    • Menyukai efisiensi.
    • Condong menggunakan otak kiri.
    • Menentang perubahan (pro status quo).

    Baiknya untuk perusahaan, jika seorang manajer tahu apa yang membuat perusahaan lebih sukses, mereka akan membimbing tim ke arah yang benar untuk mencapainya.

    Jadi, ketika seorang manajer berhasil meyakinkan karyawannya untuk mengutamakan organisasi, mereka akan berakhir sama-sama sukses.

    Apa Gaya Kepemimpinan Transaksional akan Paling Menguntungkan Perusahaan?

    manajemen bisnis

    © Freepik.com

    Kepemimpinan transaksional akan paling efektif dalam industri yang mementingkan struktur saklek, lho.

    Pemimpin fokus pada pemeliharaan struktur kelompok.

    Mereka bertugas memberi tahu anggota apa yang diharapkan, memberikan imbalan dari pelaksanaan tugas, menjelaskan konsekuensi kegagalan.

    Serta menawarkan umpan balik yang dirancang untuk menjaga anggota tetap menjalankan tugasnya.

    Baca Juga: 4 Soft Skill Yang Harus Dimiliki Seorang Manajer di Era Digital

    Militer, organisasi kepolisian, dan responden pertama menggunakan gaya kepemimpinan ini sehingga jalur instruksi di semua area organisasi konsisten.

    Pasalnya, gaya ini lebih mudah diterapkan dalam situasi krisis.

    Setiap orang harus tahu persis apa yang diminta dari mereka dan bagaimana tugas harus dilakukan di bawah tekanan.

    Gaya kepemimpinan ini juga sering digunakan dalam bisnis.

    Ketika karyawan berhasil, mereka dihargai; ketika mereka gagal, mereka ditegur atau dihukum.

    Kelebihan Gaya Kepemimpinan Transaksional

    Lalu, apa saja yang menjadi kelebihan gaya kepemimpinan ini?

    Merangkum dari laman St. Thomas University (STU), kelebihan dari gaya kepemimpinan transaksional lainnya dapat meliputi:

    • Ada imbalan bagi orang-orang yang termotivasi oleh kepentingan diri sendiri untuk mengikuti instruksi.
    • Memberikan struktur yang jelas untuk organisasi besar.
    • Memberikan alur kerja yang jelas untuk sistem yang membutuhkan tugas berulang dan dapat diulang tanpa batas.
    • Mencapai tujuan jangka pendek dengan cepat.
    • Insentif dan penalti didefinisikan dengan jelas.
    • Mudah dipelajari dan tidak memerlukan pelatihan ekstensif.

    Style manajerial juga memungkinkan pengikut memenuhi kepentingan mereka sendiri, dan meminimalkan kecemasan di tempat kerja.

    Setelah struktur dan persyaratan dipelajari, mudah bagi anggota untuk menyelesaikan tugas dengan sukses.

    Alur kerja seperti ini juga memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas, layanan pelanggan, pengurangan biaya, dan peningkatan produksi.

    Kekurangan Gaya Kepemimpinan Transaksional

    Sayangnya tidak sedikit juga kekurangan gaya kepemimpinan ini. Berikut beberapa kekurangan dari gaya kepemimpinan transaksional:

    • Tidak memberikan ruang untuk berpikir mandiri.
    • Tidak mempertimbangkan emosi atau nilai-nilai orang lain.
    • Ada kemungkinan dan ruang untuk mengeksploitasi anggota.
    • Anggota mungkin termotivasi hanya karena insentif, bukan untuk membuat kelompok atau perusahaan lebih baik.
    • Tidak memaksimalkan potensi anggota, tapi justru rentan membuat mereka kewalahan.
    • Sulit untuk mengganti orang, karena tim hanya mengandalkan pemimpin.
    • Insentif hanya berupa hal-hal praktis, seperti uang atau tunjangan.
    • Kreativitas individual terbatas karena tujuan, sasaran, dan cara mencapainya sudah ditetapkan.
    • Tidak menghargai inisiatif pribadi.
    • Minim peluang pengembangan diri.

    Kepemimpinan transaksional tidak cocok diterapkan dalam organisasi yang mengedepankan partisipasi aktif dan inisiatif.

    Baca Juga: 7 Langkah untuk Membantumu Menemukan Potensi Diri

    Tips Efektif Menerapkan Kepemimpinan Transaksional

    pengertian sales

    © leadereconomics.com

    Nah, bagaimana jika ini merupakan gaya kepemimpinanmu di kantor?

    Tenang, ada banyak solusi untuk memaksimalkan transactional leadership style tanpa harus mengorbankan rekan-rekan satu timmu.

    Berikut caranya menyiasati gaya kepemimpinan transaksional di kantor agar suasana bekerja lebih produktif:

    1. Kombinasikan gol jangka pendek dengan tujuan akhir jangka panjang

    Menyusun rencana kerja di awal demi mencapai gol atau visi yang disepakati untuk jangka panjang memang memusingkan.

    Di sini, pemimpin transaksional bisa bekerja sama dengan pemimpin gaya lainnya untuk menciptakan rancangan kerja yang ideal guna mengantisipasi burn out dan penurunan motivasi kerja.

    Para pemimpin ini terbukti efektif menjaga organisasi bertahan melewati krisis.

    2. Pantau dan nilai aspek selain performa anggota

    Seorang manajer transaksional mungkin terlihat sebagai orang yang tidak peka.

    Namun, rekan kerjamu akan dalam kondisi terbaiknya jika mereka merasa termotivasi, terlibat, dan dihormati.

    Ambisi dan gagasan mereka harus didukung. Mereka harus diakui ketika mengeluarkan ide-ide yang dapat memperbaiki perusahaan.

    3. Tingkatkan peluang pengembangan diri

    Perusahaan tidak akan bertahan jika tidak memiliki bibit-bibit pemimpin untuk menggantikan mereka yang akan pergi.

    Maka itu, pemimpin dengan gaya kepemimpinan transaksional juga perlu ikut mendukung proses pengembangan kepemimpinan.

    Ini akan menghemat banyak waktu dan uang bagi perusahaan jika mereka mampu menghasilkan pemimpin secara internal.

    4. Selesaikan masalah secara proaktif

    Masalah harus segera diatasi ketika muncul. 

    Pemimpin yang menganut gaya transaksional perlu menangani masalah-masalah ini dengan cepat begitu muncul. 

    Jika tidak diselesaikan secara proaktif, tugas-tugas yang ada akan memerlukan waktu lebih lama untuk diselesaikan. Konflik pun dapat meningkat.

    Maka itu, kamu juga perlu meluangkan waktu untuk merancang strategi problem solving yang tidak hanya terkait dengan produktivitas.

    Nah, sudah paham kan seperti apa gaya kepemimpinan transaksional ini.

    Ingin berdiskusi lebih banyak tentang berbagai macam gaya kepemimpinan?

    Glints Komunitas akan menjadi tempat paling tepat untuk sharing pengalaman dengan sesama pengguna. Yuk, daftarkan gratis akunmu sekarang juga!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 3.8 / 5. Jumlah vote: 4

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait