4 Penyebab Waktu Kerja Jadi Lebih Lama Saat Work From Home
Ditulis oleh : Ajeng Quamila
Waktu kerja lebih lama saat work from home (WFH)? Ternyata penyebabnya adalah hal-hal yang tidak kita sadari, lho!
Walaupun memiliki keuntungan dengan lebih hemat ongkos, work from home tetap memiliki banyak kelemahan karena memang ini adalah situasi kerja yang baru untuk semua orang.
Jika kalian juga merasakan waktu kerja terasa lebih lambat, Glints akan menjelaskan apa saja yang menjadi penyebabnya berikut ini.
Kenapa Kerja Lebih Lama Saat Work From Home?
1. Sulit adaptasi ke kebiasaan baru
Rutinitas hidup yang berubah drastis sejak WFH karena pandemi corona, mau tidak mau berdampak juga pada ritme sirkadian kita.
Ritme sirkadian adalah jam biologis tubuh yang bekerja mengikuti pola aktivitas fisik, mental, dan perilaku manusia dalam waktu 24 jam.
Jam biologis inilah yang mengatur rutinitas harian kita, seperti kapan kita pergi dan bangun tidur, berangkat kantor, kapan harus makan, istirahat, ke toilet, dan lain-lain.
Jam biologis kita yang tadinya punya jadwal teratur kini “kaget” karena dipaksa harus membiasakan diri dengan rutinitas baru.
Masalah ini adalah penyebab teratas kenapa waktu kerja terasa lebih lama.
Nah, lebih dari setengah pekerja mengatakan mereka memang masih bangun pagi mengikuti jadwal yang sama seperti waktu masih ngantor.
Namun, empat dari 10 pekerja mengaku mereka tidur sedikit lebih lama meski tetap mengusahakan mulai kerja di waktu yang biasa.
Sementara itu, 42% orang justru mengatakan mereka susah tidur di malam hari selama bekerja dari rumah.
Melansir situs berita CNBC, rata-rata lama waktu kerja dalam sehari bertambah 3 jam lebih lama saat work from home ketimbang di kantor.
Bisa jadi salah satu alasannya karena sebagai “kompensasi” dari waktu tidur yang berantakan.
2. Tidak ada batas yang jelas antara rumah dan kantor
Biasanya, kita menghitung jam kerja sejak berangkat ngantor sampai pulang ke rumah.
Namun saat WFH, tidak ada lagi urgensi untuk buru-buru pulang karena harus mengejar kereta atau bus.
Sama halnya dengan jam istirahat siang.
Di kantor, kita bisa tahu kapan waktu makan siang ketika sudah banyak ajakan dari teman untuk ke kantin. Di rumah, tidak demikian.
Nah, slot waktu yang biasanya kita pakai untuk commuting dan makan siang akhirnya terpakai untuk kerja lebih lama saat work from home.
Di sisi lain, slot waktu senggang yang biasanya dipakai untuk istirahat, justru mungkin dimanfaatkan untuk mengurus hal lain. “Mumpung WFH,” alasannya.
Melansir situs RTE, 51% karyawan melaporkan bahwa jam kerja mereka “terganggu” selama WFH oleh anggota keluarga.
Mulai dari anak yang rewel atau mengawasi mereka homeschooling hingga memasak untuk pasangan.
Sekitar 21% karyawan juga memanfaatkan waktu di rumah untuk beberes sana-sini, terutama mencuci baju dan piring.
Waktu yang terpakai di siang hari untuk mengurus rumah kemudian mereka ganti dengan bekerja lembur saat WFH.
3. Online setiap hari, termasuk di akhir pekan
Satu masalah terbesar dari tren WFH adalah, kita tidak bisa benar-benar “pulang kerja”.
Kita bisa duduk di depan komputer dan mulai kerja sejak pagi buta karena tidak harus berangkat ngantor.
Malam harinya, kita juga terbiasa masih online karena tidak ada kegiatan lainnya.
“Di rumah saja” justru semakin memberikan kita lebih banyak waktu untuk mengakses internet sehingga hampir mustahil untuk tidak memikirkan pekerjaan.
Apalagi, komunikasi antar rekan kerja sekarang hanya semudah lewat chat WhatsApp atau email.
Seakan tidak ada alasan untuk menunda atau tidak membalas email kantor, karena toh di rumah juga sedang senggang.
Survey menemukan, puncak waktu email berdatangan dimulai dari jam 9 pagi.
Sementara aktivitas penggunaan email terlihat melonjak dari tengah malam hingga pukul 3 pagi, sejak wabah COVID-19.
Alhasil, kita jadi kerja lebih lama saat work from home.
Bahkan tidak sedikit juga yang mungkin masih terus kerja selama akhir pekan.
Merangkum HRDive, satu studi dari Clockwise melaporkan rata-rata pekerja menghabiskan 24% waktunya lebih banyak untuk meeting online one-on-one dan 29% lebih banyak untuk team meeting sejak akhir Maret 2020.
4. Cemas tak berujung
Salah satu alasan lainnya kenapa jam kerja saat work from home terasa lebih lama adalah kecemasan.
Sebuah jajak pendapat profesional oleh Neuvana menemukan 43% karyawan kerja lebih lama saat work from home sejak pandemi, lebih membuat stres daripada bekerja di kantor.
Sementara itu, 51% lainnya melaporkan bekerja dari rumah meningkatkan stres harian mereka secara umum.
Hal ini terutama didorong oleh kecemasan akibat ekonomi yang loyo dan prospek PHK saat pandemi corona yang melonjak.
Dihantui oleh ketakutan dan kecemasan itu, tidak sedikit orang yang merasakan tekanan lebih besar untuk membuktikan mereka selalu bekerja keras, bahkan ketika di rumah.
Nah, sudah tahu kan sekarang apa saja penyebab waktu kerja lebih lama saat work from home.
Yuk, sign up di Glints sekarang untuk berbagi tips-tips menjaga kesehatan selama WFH dengan sesama pengguna di Glints Komunitas.
