9 Ciri-ciri Pemimpin Toxic yang Wajib Kamu Hindari di Kantor

Diperbarui 16 Apr 2021 - Dibaca 9 mnt

Isi Artikel

    Bekerja di bawah seorang atasan toxic menjadi salah satu alasan terbesar yang membuat karyawan jenuh di kantor. Seperti apa, sih, ciri pemimpin yang toxic itu?

    Ciri Pemimpin Toxic di Kantor

    Mengutip Leadership Forces, pemimpin toxic didefinisikan sebagai orang yang memiliki perilaku destruktif dan kepribadian buruk yang menimbulkan gangguan.

    Seorang pemimpin toxic tidak hanya membuat karyawannya mudah stres. Ia secara langsung juga menciptakan budaya kerja negatif dan lingkungan kerja yang tidak sehat.

    Berikut adalah ciri seorang pemimpin toxic yang perlu kamu waspadai di kantor:

    1. Tidak menerima saran dan kritik

    Salah satu ciri utama dari pemimpin toxic adalah otoriter.

    Mereka menginginkan karyawan selalu mematuhi dan mengikuti perintah tanpa pernah mempertanyakan keputusannya.

    Biasanya mereka akan mencoba mengendalikan situasi dan memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan ide dan pendapat dari tim.

    Alasannya, karena mereka percaya mereka benar dan yang terbaik dalam segala hal.

    Komunikasi pun cenderung bersifat satu arah (top-down). Mereka tidak menerima masukan dan tidak mau mendengarkan apa kata orang lain.

    Kamu dapat mengamati ciri pemimpin toxic dengan mendengarkan bagaimana cara mereka berkomunikasi di kantor. Mereka biasanya akan mengatakan hal-hal seperti:

    “Kita tidak punya waktu untuk membahas ini.”

    “Masalahnya adalah A, B, C dan inilah yang harus kalian lakukan mulai sekarang.”

    Baca Juga: Cara Membangun Relasi yang Baik Antara Bos dan Karyawan

    2. Manipulatif

    Tidak memiliki empati adalah ciri lainnya dari seorang pemimpin toxic. Mereka tidak peduli dengan apa yang dibutuhkan orang-orang di sekitar mereka.

    Pemimpin yang seperti ini hanya tertarik pada kesuksesan dan keuntungan pribadi daripada pertumbuhan jangka panjang lingkungannya.

    Dalam prosesnya, mereka akan menyalahgunakan jabatan, hubungan, dan sistem organisasi demi meraih keuntungan sendiri.

    Mereka juga akan mencari peluang dan menghalalkan segala cara untuk bisa tampak lebih baik di mata orang lain.

    Sebagai contoh, mereka suka mendelegasikan tugas kepada bawahannya sembarangan. Tugas-tugas ini biasanya adalah pekerjaan yang tidak ingin mereka lakukan. 

    Namun, akhirnya merekalah yang mengambil kredit dari rampungnya tugas-tugas tersebut (yang aslinya dikerjakan oleh bawahan mereka).

    3. Micromanaging

    Kemampuan delegasi adalah salah satu ciri dari pemimpin yang baik, tapi juga bisa menjadi toxic jika caranya salah.

    Mendelegasikan tugas atas dasar ketidakpercayaan adalah satu lagi ciri pemimpin yang toxic.

    Ketika atasanmu tidak mempercayai bawahannya untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, ia akan cenderung me-micromanage

    Nah, Micromanagement adalah gaya seorang pemimpin mengawasi, mengarahkan, dan mengendalikan pekerjanya secara berlebihan.

    Istilah awamnya, bos yang control-freak atau “tukang ngatur”.

    Micromanaging dapat menyebabkan ketegangan dan stres di tempat kerja, karena karyawan terus-menerus merasa diteror dan tidak dipercaya.

    Karyawan pun tidak diberikan kesempatan untuk berinisiatif, berpendapat, dan menunjukkan potensinya sehingga sulit berkembang.

    Akibatnya, ini jadi menumbuhkan budaya kerja “asal bos senang saja”. 

    4. Tidak fleksibel

    Seorang pemimpin mengepalai beragam individu dengan kepribadian, kemampuan, dan keinginan yang berbeda-beda.

    Itu sebabnya, pemimpin yang baik harus bisa luwes bertindak dan berkomunikasi demi memfasilitasi kebutuhan dari banyak orang. 

    Kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas bukanlah ciri yang dimiliki seorang pemimpin toxic.

    Pemimpin yang toxic justru mengharuskan semua orang di sekitarnya berpikir dan bertindak seperti mereka. 

    Mereka sangat tidak fleksibel, dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sekecil apa pun di tempat kerja. 

    5. Tidak konsisten

    Mengutip Psychology Today, pemimpin yang toxic juga seringnya tidak konsisten.

    Mereka bisa sewaktu-waktu mengubah atau mencampuradukkan aturan yang sebelumnya mereka sudah tetapkan untuk setiap karyawan.

    Meski begitu, ciri pemimpin toxic ini bukan berarti berlawanan dengan infleksibilitas.

    Perubahan pada protokol atau prosedur di tempat kerja boleh saja diterapkan jika pemimpin merasa itu perlu.

    Akan tetapi, setiap perubahan harus dikomunikasikan secara jelas dan gamblang ke semua orang di perusahaan.

    Ketika seorang pemimpin secara semena-mena mengubah aturan atau membuat peraturan baru tanpa pemberitahuan massal, hal ini dapat memicu konflik dan persaingan tidak sehat di antara karyawan di kantor.

    6. Tukang bully

    penyebab jenuh bekerja

    © shutterstock.com

    Suka mengintimidasi bawahan adalah ciri seorang pemimpin toxic yang paling kentara.

    Ya! Pemimpin toxic biasanya memerintah dengan tangan besi.

    Selain dengan taktik manipulasi, mereka juga menggertak bawahan mereka untuk menjalankan perintahnya demi kesuksesan pribadi. 

    Dalam skenario terburuk, seorang pemimpin yang toxic bisa menunjukkan sikap kasar dan meremehkan orang-orang di sekitarnya dengan cara-cara yang buruk.

    7. Terlalu kompetitif

    Pemimpin yang toxic menunjukkan ciri terlalu kompetitif.

    Pokoknya, mereka merasa harus selalu menang di situasi apapun, dengan segala cara.

    Ini berarti mereka lebih memilih untuk memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa ada celah untuk diskusi.

    Mereka juga sering kali menggunakan cara yang tidak etis untuk menang.

    Mereka percaya mereka memiliki standar kerja yang tinggi. Oleh karena itu, mereka justru menetapkan tujuan yang tidak adil dan tidak realistis.

    Baca Juga: 6 Indikator Kepemimpinan yang Baik

    8. Diskriminatif

    Ciri toxic lainnya dari seorang pemimpin yang buruk adalah sikap diskriminatif. 

    Pemimpin yang toxic tidak menghargai keberagaman.

    Malah, mereka memandang keberagaman sebagai hal yang mengancam kepemimpinannya. 

    Atasan yang toxic tidak ingin ditantang oleh orang-orang dengan sudut pandang berbeda.

    Maka itu, mereka hanya akan mengelilingi diri mereka sendiri dengan orang-orang yang sependapat dengannya.

    9. Ketidakhadiran

    Seorang pemimpin yang baik akan secara fisik dan mental “turun tangan” di kantor untuk terlibat di setiap aspek pekerjaan.

    Sebaliknya, “ketidakhadiran” adalah salah satu ciri pemimpin toxic yang paling merugikan.

    Entah itu atasan yang sering absen tidak masuk kantor, rutin menghilang di tengah hari, kerja malas-malasan, hingga menunjukkan keengganan secara psikologis untuk terlibat dengan orang-orang di kantor.

    Hal ini justru akan menurunkan motivasi karyawan untuk bekerja.

    Melihat atasan yang “ogah-ogahan”, mereka bisa saja malah merasa tidak dipedulikan dan tidak diberikan peluang untuk berkembang.

    Lingkungan kerja seperti ini rentan memiliki turnover karyawan yang tinggi.

    Baca Juga: Ingin Minta Bantuan di Kantor tapi Bingung Caranya? Klik di Sini!

    Sembilan ciri pemimpin toxic di atas jarang muncul terpisah, kadang akan ada satu karakteristik utama yang lebih menonjol daripada lainnya.

    Namun, secara umum pemimpin toxic cenderung menunjukkan karakter buruk yang mencerminkan kombinasi semua ciri tersebut.

    Nah, sekarang bagaimana dengan atasan kamu di kantor? Toxic-kah mereka? Jika iya, inilah saatnya cari kantor baru!

    Yuk, daftar gratis di Glints dan dapatkan info lowongan kerja menarik yang sesuai jenjang kariermu.

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 4.3 / 5. Jumlah vote: 22

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait