Mendalami Profesi Demand Planner yang Berperan Penting bagi Sales

Diperbarui 11 Jun 2025 - Dibaca 9 mnt
Ditulis oleh : Geofanni Nerissa Arviana

Demand planner adalah salah satu profesi yang punya peran krusial bagi tim sales. Sehari-harinya, mereka bersentuhan dengan supply chain management.

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Pekerjaan ini ada di hampir semua industri, terutama bisnis ritel. Kebutuhan perusahaan akan demand planner pun terus meningkat dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu, jika punya ketertarikan di bidang sales, kamu patut mempertimbangkan profesi yang satu ini.

Penasaran apa saja tanggung jawab dan skill yang dibutuhkannya? Yuk, intip penjelasannya dalam artikel ini!

Baca Juga: Demand Generation, Strategi Marketing untuk Tingkatkan Minat Beli Pelanggan

Apa Itu Demand Planner?

demand planner adalah

© Freepik.com

Perusahaan yang menjual produk sangatlah bergantung pada stok barang. 

Bayangkan jika produksi dilakukan secara besar-besaran, tetapi hanya sedikit yang terjual. Apa jadinya?

Ya, barang akan menumpuk di gudang atau toko. 

Jika terlalu lama menumpuk, kualitas produk bisa saja menurun. Begitu pula dengan produk makanan yang bisa terbuang sia-sia karena kedaluwarsa.

Oleh karena itu, diperlukan seseorang yang bertanggung jawab atas supply chain management. Ialah demand planner.

Melansir Betterteam, demand planner adalah seseorang yang memperkirakan permintaan produk di masa depan. Mereka bekerja sejak awal proses perencanaan logistik, mulai dari persediaan (supply), inventaris (inventory), hingga distribusi (distribution).

Adapun menurut People First Planning, demand planner menjalankan tiga tanggung jawab utama.

Pertama, mereka menyatukan perkiraan dari tim penjualan. Kedua, mereka memvalidasi perkiraan tersebut dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Ketiga, mereka harus menyempurnakan perkiraan tersebut dengan masukan dari para petinggi perusahaan.

Lantas, apa tujuan dari pekerjaan mereka?

Sejatinya, mereka harus bisa mendorong tingkat permintaan atau demand, seperti ditulis Colibri. Lebih dari itu, mereka juga harus bisa memaksimalkan cash flow dan penjualan.

Baca Juga :  UX Strategist: Definisi, Tanggung Jawab, dan Kualifikasi

Dalam pekerjaannya sehari-hari, seorang demand planner akan banyak berurusan dengan data. Dua di antaranya adalah data penjualan dan pemasaran.

Baca Juga: Rekomendasi 9 Sales Planning Tools Gratis untuk Meningkatkan Produktivitas Penjualan

Tanggung Jawab Demand Planner

demand planner

© Freepik.com

Dari penjelasan di atas, kamu bisa menangkap bahwa tanggung jawab utama demand planner adalah membuat perkiraan permintaan konsumen.

Namun, bagaimana dengan pekerjaan sehari-harinya? Apa yang mereka lakukan?

Simak penjabarannya berikut ini yang dirangkum dari People First Planning.

1. Menggabungkan sales pipeline

Sales pipeline adalah tahapan proses penjualan yang dilakukan oleh tim sales. Tahapan ini dimulai dari prospecting hingga closing.

Nah, biasanya sales associates akan memasukkan unsur-unsur sales pipeline ke tools customer relationship management (CRM).

Kemudian, demand planner bisa menggabungkan data-data tersebut dengan data perkiraannya.

Hal ini akan memudahkan tim sales dalam membaca keseluruhan data permintaan dan penawaran.

2. Menganalisis riwayat permintaan

Demand planner juga perlu menganalisis riwayat permintaan.

Misalnya, apakah ada momen tertentu yang membuat permintaan jadi melonjak tajam? Selain itu, seberapa banyak prospek yang melakukan permintaan berkali-kali?

Untuk mendapat jawaban dari pertanyaan di atas, seorang perencana permintaan bisa memanfaatkan sales pipeline.

3. Memberi masukan tentang tren produk

Seorang demand planner tentu memiliki data terkait penjual produknya. Salah satunya yakni tentang produk apa saja yang memiliki permintaan tinggi.

Data tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendukung tim marketing.

Misalnya, dengan memberi tahu produk apa saja yang sedang digemari, marketer bisa memfokuskan usahanya pada produk-produk tersebut.

4. Berkolaborasi dengan pemimpin bisnis

Hasil demand planning perlu disampaikan kepada para pemimpin bisnis. Nantinya, mereka akan menilai apakah perkiraan-perkiraan yang ada masih sesuai dengan tujuan perusahaan.

Baca Juga :  Mengenal Profesi Security Engineer dan Perannya dalam Cybersecurity

Selain itu, jika hasil demand planning kurang baik, para pemangku kebijakan bisa langsung memberikan saran.

5. Membuat rencana jangka panjang

Demand planning umumnya dilakukan satu bulan sekali. Proses tersebut dilakukan dengan mengevaluasi jumlah permintaan pada bulan sebelumnya.

Lebih dari itu, demand planner juga perlu membuat rencana jangka panjang hingga 12-18 bulan ke depan.

Jadi, apakah kamu tertarik untuk menjalankan deretan tanggung jawab di atas?

Jika iya, ada lowongan demand planner di situs Glints, lho. Kamu bisa mengecek kualifikasi dan tanggung jawab detailnya terlebiih dahulu.

Caranya mudah. Kamu hanya perlu klik tombol di bawah ini!

TEMUKAN LOWONGAN KERJA

Skill yang Dibutuhkan

sales pipeline adalah

© Freepik.com

Di Indonesia, belum ada fakultas atau jurusan kuliah yang fokus pada demand planning.  Namun, kamu tak perlu khawatir. Kamu tetap bisa berkarier di bidang ini, kok!

Biasanya, seorang demand planner memulai kariernya di berbagai bidang yang relevan, seperti sales, supply chain, dan finance.

Selain itu, kamu juga perlu membekali diri dengan beberapa skill berikut ini:

  • analisis
  • statistik
  • kerja sama
  • komunikasi

Baca Juga: Pilihan 6 Aplikasi untuk Mempermudah Customer Relationship Management

Semoga penjelasan di atas bisa membuka wawasanmu terkait demand planning, ya.

Apabila tertarik berkarier di bidang ini, asahlah berbagai skill di atas. Kemudian, perluas pemahamanmu mengenai dunia sales dan supply chain management.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon