Bounce Rate: Definisi, Jenis, Mengapa Penting, dan Cara Menurunkannya

Diperbarui 20 Okt 2022 - Dibaca 11 mnt

Isi Artikel

    Sebagai penggiat dunia marketing, mungkin, bounce rate adalah istilah yang sudah sering kamu dengar.

    Katanya, situs yang memiliki bounce rate tinggi adalah situs yang kurang baik. Lantas, bagaimana cara menurunkannya?

    Tak perlu bertanya-tanya lagi, Glints sudah merangkum informasinya, hanya untukmu.

    Apa Itu Bounce Rate?

    Sebelum memahami apa itu bounce rate, kamu sebaiknya mengenali dulu apa yang dimaksud bounce dalam dunia digital marketing.

    Dirangkum dari Google Analytics, secara singkat, bounce adalah keadaan ketika pengunjung situs hanya datang dan tidak melakukan aksi apa pun.

    Aksi itu di antaranya mengklik link yang ada, memutar video, dan lain-lain. Intinya, hal yang dimaksud dengan aksi adalah interaksi yang dilakukan pengunjung situsmu.

    Setelah tidak melakukan aksi, dalam waktu kurang dari 0 detik, lantas pengunjung keluar dari website, kembali ke halaman sebelumnya.

    Itulah mengapa, bounce sering disebut dengan single-page session alias interaksi sekali saja antara pengunjung dan situs.

    Nah, bounce rate sendiri adalah pengukuran dari bounce. Ia dihitung dengan cara membagi bounce dengan semua session, yakni orang yang mengunjungi situsmu.

    Tentu saja, pada situs yang memang tak memiliki elemen interaksi atau hanya terdiri dari satu halaman, bounce rate-nya akan tinggi.

    Pasalnya, pengguna tidak bisa melakukan banyak hal di website sebelum menutupnya atau kembali ke halaman mesin pencari, tempatnya bertemu dengan situsmu.

    Jenis Bounce Rate

    jenis bounce rate adalah

    © Freepik.com

    Kamu telah memahami apa itu bounce rate dan bagaimana cara menghitungnya. 

    Nah, kata Search Engine Journal, ada tiga cara untuk melihat dan menganalisis bounce rate. Tiga cara itu di antaranya:

    • page level bounce rate, yakni jumlah bounce dalam satu halaman, dibagi dengan jumlah orang yang mengunjungi halaman tersebut (sering kali istilahnya adalah session), dalam periode tertentu
    • sitewide bounce rate, yakni jumlah bounce di semua halaman dalam suatu situs, dibagi dengan jumlah orang yang mengunjungi semua halaman, dalam periode tertentu
    • segmented bounce rate, yakni sitewide bounce rate, namun bukan untuk seluruh halaman pada situs, melainkan pada sebagian saja
    Baca Juga: 7 Cara Menulis Headline Artikel agar Dapat Menarik Perhatian Pembaca

    Pentingnya Memperhatikan Bounce Rate

    Berikut merupakan beberapa alasan mengapa kamu harus memperhatikan angka bounce rate.

    1. Evaluasi efektivitas website

    Ketika angka bounce rate website kamu tinggi, kamu perlu mengevaluasi efektivitas website, baik dari sisi kecepatannya maupun informasi di dalamnya.

    Pengunjung mungkin merasa bahwa informasi yang disediakan website terlalu berbelit-belit sehingga kurang efektif untuk membantu mereka memahami informasi yang dicari.

    2. Menjaga angka konversi

    Dilansir dari Business Assist, pengunjung website yang keluar dari website kemungkinan besar tidak akan terkonversi menjadi calon pembeli.

    Maka dari itu, mengurangi angka bounce rate adalah salah satu cara agar mencegah para pengunjung untuk tidak langsung menutup situsmu.

    Jadi, apabila selama ini target konversimu belum tercapai, bisa jadi salah satu penyebabnya ialah angka bounce rate yang masih terlalu tinggi.

    3. Mengukur relevansi konten

    Selain informasi yang kurang efektif, ada kemungkinan informasi yang kamu sajikan kurang relevan bagi target audiensmu sehingga mereka tidak menghabiskan waktu terlalu lama di website.

    Hal ini tentunya bisa menjadi bahan evaluasi bagi tim konten supaya lebih baik ke depannya.

    Bayangkan jika tidak memperhatikan bounce rate, kamu mungkin akan terus merasa tidak ada yang salah dengan kualitas konten padahal target audiensmu tidak engage dengan kontenmu.

    4. Evaluasi user experience

    Nah, selain berguna untuk tim konten, bounce rate juga berguna sebagai salah satu bahan evaluasi untuk tim UX.

    Baik dari segi desain maupun copy, angka bounce rate yang tinggi bisa jadi pertanda bahwa pengalaman pengunjung di website masih kurang baik karena ada kekurangan di dalamnya.

    Maka dari itu, kamu perlu mengevaluasi apakah desain, struktur, dan copywriting website masih menyulitkan pengunjung.

    Jika ya, berarti diperlukan adanya penyederhanaan sesegera mungkin.

    Cara Menurunkan Bounce Rate

    Bounce rate adalah data yang dipengaruhi oleh banyak sekali hal. Oleh karena itu, strategi menurunkannya juga bermacam-macam.

    Dikutip dari HubSpot dan Neil Patel, langkah-langkah yang bisa kamu terapkan di antaranya:

    1. Percepat kecepatan loading halaman

    Apa yang kamu lakukan ketika sedang membuka situs, lantas durasi loading-nya sangat lama?

    Biasanya, orang akan pergi dan mencari informasi dari situs lainnya. Ini akan meningkatkan bounce rate dari situsmu.

    2. Hindari hal-hal yang mengganggu user experience

    Saat kamu sudah berhasil masuk ke situs dan tengah membaca informasi, tiba-tiba, ada kotak pop-up besar yang menghalangi apa yang kamu baca.

    Kamu bisa saja merasa tidak nyaman. Beberapa orang bahkan memilih untuk keluar dari situs dan pergi mencari situs lainnya.

    Keluarnya orang tersebut adalah hal yang dapat meningkatkan bounce rate situs.

    3. Buat situsmu ramah pengguna HP

    Tahukah kamu, saat ini, sebagian besar pencarian dilakukan di HP? Oleh karena itu, membuat situs yang mobile friendly adalah hal yang penting saat ingin menurunkan bounce rate.

    Kamu bisa mengeceknya lewat berbagai tool seperti Google Mobile-friendly Test Tool.

    4. Pilih keyword dan konten yang tepat

    Dengan memilih keyword dan memasukkan konten yang tepat, tak sekadar clickbait saja, orang tentu akan membaca halaman situsmu dengan baik.

    Ia tak perlu kembali ke halaman pencarian Google, yang dapat membuat bounce rate-mu naik.

    Oleh karena itu, pemasangan keyword dan konten berkualitas dapat menjadi salah satu cara untuk menekan bounce rate.

    Baca Juga: Ikuti 6 Cara Ini agar Dapat Membuat Konten yang Berkualitas

    5. Buat meta description yang baik

    Sebelum mengklik suatu halaman di situs pencarian Google, seseorang bisa membaca cuplikan isi dari situsmu lewat meta description.

    Meta description ini memberikan pembaca ekspektasi soal apa saja isi dari artikelmu.

    Dengan membuat meta description yang tepat dan menggambarkan isi konten dengan baik, bounce rate bisa ditekan.

    Pasalnya, isi meta description yang sudah ia baca selaras dengan apa yang kamu sajikan dalam konten.

    Ia akan berlama-lama di situs, bahkan berinteraksi dengan berbagai elemen yang sudah kamu masukkan. Dengan alasan ini, meta description adalah hal yang dapat mempengaruhi bounce rate.

    6. Tulis konten dengan subheading atau poin-poin

    Memiliki konten dengan banyak poin atau subheading akan membuatnya jauh lebih mudah dibaca. 

    Ini membuat konten tidak terlihat banyak, sehingga pembaca merasa nyaman. Ia pun tidak perlu kembali ke halaman pencarian, yang dapat meningkatkan bounce rate.

    Tentu saja, ini merupakan sebagian dari banyak sekali hal yang mempengaruhi dan dapat menurunkan, atau malah meningkatkan bounce rate.

    Baca Juga: Yuk, Pelajari Apa Itu Clickbait serta Pro Kontranya!

    Itulah paparan informasi dari Glints soal apa itu bounce rate. Pahami dan terapkan cara menurunkannya sebagai strategi marketing-mu, ya!

    Selain bounce rate, sejatinya masih ada banyak sekali istilah dalam digital marketing, bidang yang saat ini sedang didalami oleh banyak orang karena prospek kariernya yang menjanjikan.

    Tenang saja, kamu bisa mempelajari bidang ini lewat beragam artikel yang ada di Glints Blog!

    Berbagai pembahasan tentang digital marketing mulai dari tips teknis hingga praktis, semuanya dikemas dalam artikel yang mudah dipahami.

    Tunggu apa lagi? Yuk, baca kumpulan artikel terbarunya di sini. Jangan sampai ketinggalan informasi!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 1

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait