Bingung Memilih Framework yang Tepat untuk Website-mu? Ini 6 Tipsnya

Diperbarui 15 Des 2020 - Dibaca 5 mnt

Isi Artikel

    Ada banyak jenis framework yang bisa digunakan untuk membangun sebuah website. Akan tetapi, banyak yang belum tahu apa saja tips untuk memilih framework yang tepat untuk website.

    Pemilihan framework bagi website penting, karena memengaruhi, apakah situs yang dibangun sesuai keinginanmu?

    Melalui artikel ini, Glints akan membagikan enam tips yang bisa kamu lakukan ketika menentukan framework yang tepat untuk website-mu.

    Baca Juga: React Native, Framework yang Jadi Topik Hangat di Kalangan Developer

    Tips Memilih Framework yang Tepat untuk Website

    1. Kebutuhan website

    Sebelum kamu mulai menentukan framework yang tepat, kamu harus menentukan tujuan dari pembuatan website dan apakah kerangka kerja cocok untuk tujuan itu.

    Kamu akan membutuhkan framework untuk kondisi-kondisi berikut.

    • Aplikasi yang digunakan didasarkan pada operasi CRUD.
    • Perlu melakukan pemisahan UI dan logika yang mendasarinya, tetapi tidak punya waktu untuk mengimplementasikan sistem yang tepat.

    Selain kondisi-kondisi di atas, kamu juga harus memperhatikan hal-hal teknis lainnya. Mulai dari ukuran website, jenis website yang akan dibuat, hingga biaya yang dibutuhkan.

    2. Fitur inti framework

    © Unsplash.com

    Kamu tentu ingin merangkum secara singkat fitur inti framework agar memiliki harapan yang memadai saat kamu akan memulai coding.

    Untuk tujuan itu, pindai seluruh dokumentasi. Kamu perlu memahami tentang framework yang akan digunakan secara umum.

    Cari topik berikut dalam dokumentasi: pembuatan template, pengelolaan status, komunikasi HTTP, pemrosesan dan validasi formulir, hingga perutean.

    Itu adalah hal yang perlu kamu perhatikan ketika memilih framework menurut TopTal.

    Tidak semua ini dapat disajikan dalam framework, atau mungkin ada beberapa pendekatan berbeda untuk masalah tertentu

    3. Lisensi

    Sebelum menggunakan framework, kamu perlu mlihat jenis lisensi apa yang didistribusikan framework tersebut.

    Meskipun sebagian besar lisensi cukup bebas untuk digunakan dan memungkinkanmu membuat website komersil, beberapa framework tidak bisa digunakan untuk tujuan komersil.

    Hal terakhir yang kamu inginkan adalah membuat seluruh aplikasi hanya untuk mengetahui bahwa lisensinya tidak memungkinkanmu untuk mendistribusikannya secara komersil.

    Lebih baik cari tahu lisensi dari framework yang digunakan sebelum daripada kamu menyesal.

    4. Persyaratan hosting

    © Pexels.com

    Sebagai web developer, kamu mungkin cenderung membangun website pada platform mutakhir. Akan tetapi, seringkali kebutuhan dan anggaran klien menjadi yang utama.

    Seringkali, anggaran yang ada tidak cukup untuk mendapatkan host khusus untuk menempatkan website kamu. Sehingga, kamu harus puas dengan hosting bersama dengan modul dan pengaturan normal.

    Mengetahui persyaratan hosting sebelum membangun website menurut Monovm akan memudahkanmu menentukan framework yang sesuai.

    Baca Juga: Laravel, Framework Populer yang Mudahkan Web Developer Kembangkan Website

    5. Kemudahan instalasi

    Kemudahan instalasi memainkan peran yang sangat penting saat memilih framework.

    Sebuah framework dapat menimbulkan masalah jika kamu harus menjalankan sejumlah langkah hanya untuk menginstalnya dan bekerja.

    Ini juga akan menimbulkan masalah besar setelah aplikasi siap, diuji, dan perlu diterapkan ke server produksi.

    Framework dengan kemudahan instalasi dan penerapan yang mudah mendapat poin penting di sini.

    Untuk sebagian besar framework, penyiapannya sesederhana menetapkan nilai yang tepat di file konfigurasi.

    Sementara untuk framework lainnya mungkin akan memakan waktu, urusan yang rumit.

    Pilih framework yang memungkinkanmu bekerja secepat mungkin.

    6. Kurva belajar (learning curve)

    Setiap framework memiliki dunia kecilnya sendiri. Mulai konvensi penamaan, struktur direktori, dan sebagainya.

    Beberapa framework agak fleksibel dalam hal ini sementara yang lain sangat, sangat ketat memunculkan kesalahan pada kesalahan terkecil.

    Sebagian framework mengikuti konvensi umum saat mengimplementasikan fitur sementara yang lain mungkin menyerang dan melakukan fungsinya sendiri.

    Saat memilih framework yang akan digunakan, ingatlah untuk memilih framework yang memiliki learning curve sekecil mungkin.

    Jika kamu perlu mempelajari framework dan bahasa yang digunakan untuk menuliskannya, atur kecepatan belajarmu sendiri.

    Baca Juga: 4 Cara Membuat Website agar Lebih Mobile Friendly, Yuk Disimak!

    Nah, itu dia enam tips yang bisa kamu pertimbangkan sebelum memilih framework yang tepat untuk website-mu.

    Selain keenam tips di atas, kamu bisa menyesuaikan framework yang kamu gunakan dengan website yang akan dibuat.

    Kamu juga bisa mempelajari berbagai tips dalam membangun website melalui Glints Expert Class.

    Glints Expert Class adalah webinar yang menghadirkan berbagai profesional sesuai dengan bidang keahliannya. Kamu bisa berdiskusi dan bertanya langsung kepada mereka sesuai dengan topik yang dibahas.

    Apakah kamu berminat mengikutinya? Yuk, daftar sekarang. Kuota kelasnya terbatas, lho!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote: 0

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait