Disebut Bisa Menguntungkan Investor dan Emiten, Apa Sebenarnya Stock Split Itu?
Ditulis oleh : Trias Ismi
Stock split adalah salah satu istilah dalam dunia perdagangan saham yang perlu dipahami, terutama jika kamu berminat mencoba berinvestasi.
Sebelum mulai mencoba melakukan investasi, sebaiknya ketahui dahulu beberapa istilah saham yang paling sering disebutkan.
Salah satu istilah yang perlu dipahami adalah stock split. Kegiatan yang satu ini sering dilakukan oleh emiten yang ingin sahamnya lebih dilirik oleh investor.
Jadi, apa sebenarnya stock split itu dan mengapa bisa membuat investor lebih tertarik untuk membeli saham dari emiten?
Yuk, cari tahu jawabannya dari penjelasan yang sudah Glints persiapkan di bawah ini.
Baca Juga: Coba 6 Aplikasi Saham Ini untuk Kamu yang Pemula
Isi Artikel
Apa Itu Stock Split?
Menurut Investopedia, stock split adalah kegiatan yang dilakukan oleh emiten seperti perusahaan yang membagi sahamnya menjadi beberapa saham baru.
Jadi, sederhananya stock split adalah pemecahan nilai saham menjadi nominal yang lebih kecil.
Hal yang satu ini cukup sering dilakukan oleh perusahaan yang telah melakukan go public dan telah tercatat di Bursa Efek Jakarta.
Namun, sebelum mulai melakukan stock split perusahaan harus meminta izin terlebih dahulu kepada para pemegang saham saat melakukan rapat pemegang saham.
Setelah mendapatkan persetujuan, maka aksi stock split bisa segera dilakukan.
Dilansir dari CNBC Indonesia, salah satu tujuan melakukan stock split adalah untuk membuat harga saham menjadi lebih rendah.
Jadi, para investor bisa membelinya dengan harga yang lebih terjangkau dan mampu meningkatkan likuiditas dari saham.
Misalnya suatu perusahaan memiliki saham dengan harga Rp 20.000 per sahamnya. Supaya lebih menarik investor untuk membeli sahamnya, mereka melakukan stock split.
Kemudian, perusahaan tersebut melakukan split 1:5 sehingga harganya berubah menjadi hanya Rp 4.000 per sahamnya.
Harga saham yang lebih terjangkau tersebut tentunya akan lebih menarik investor untuk membelinya.
Pasalnya, pada dasarnya investor akan lebih tertarik untuk membeli saham dengan harga yang lebih murah.
Tujuan Dilakukannya
Seperti yang dijelaskan oleh Capital, ada beberapa tujuan dari perusahaan yang melakukan stock split.
Salah satu tujuan utama dari melakukan stock split adalah untuk membantu para investor kecil agar bisa membeli sahamnya.
Saat harga saham terlampau mahal, tentunya seorang investor kecil akan kesulitan untuk membelinya. Itulah mengapa perlu upaya untuk mengurangi harganya.
Dengan melakukan stock split harganya lebih masuk akal sehingga akan mudah untuk mempengaruhi investor agar segera membelinya.
Kemudian, tujuan lain dari melakukan stock split adalah untuk meningkatkan likuiditas dari perusahaan.
Saat harga saham lebih terjangkau dan banyak investor yang membelinya, maka lebih banyak saham yang beredar di pasaran.
Hal tersebut akan berdampak positif terhadap likuiditas perdagangan saham sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.
Baca Juga: Ingin Terjun ke Dunia Saham? Pahami 5 Risiko Menabung Saham Ini
Pro dan Kontra
Stock split juga memiliki beberapa pro dan kontra yang perlu dipahami sebelum mencoba melakukannya.
Pasalnya, tidak semua emiten yang melakukan stock split akan selalu sukses karena jika harga saham terlalu murah juga tidak baik.
Hal itu bisa membuat emiten berpotensi untuk delisting dari bursa efek.
Jadi, memang ada beberapa pro dan kontra saat melakukan stock split. Berikut ini penjelasannya dilansir dari The Balance.
Pro dari stock split
Meningkatkan likuiditas
Jika harga saham naik cukup drastis tentunya hal itu akan menurunkan volume perdagangan saham. Jadi, perlu strategi untuk menyebar saham untuk meningkatkan likuiditas.
Salah satu caranya adalah dengan melakukan stock split karena nilai saham akan berkurang sehingga bisa dengan mudah menambah likuiditas.
Dapat meningkatkan harga saham
Selain bisa meningkatkan likuiditas, rupanya melakukan stock split juga dapat meningkatkan harga rata-rata saham yang dimiliki perusahaan.
Sebuah studi dari Nasdaq telah menyebutkan bahwa perusahaan yang melakukan stock split bisa meningkatkan harga saham hingga rata-rata 2,5%.
Kontra dari stock split
Bisa meningkatkan volatilitas
Volatilitas adalah besarnya jarak dari harga naik turunnya saham. Hal yang satu ini bisa terjadi saat perusahaan melakukan stock split karena akan mempengaruhi harga saham di Pasar Modal.
Lebih banyak investor kemungkinan besar akan segera membeli saham saat harganya masih terjangkau. Hal itu akan membuat volatilitas saham bisa meningkat dan menyebabkan fluktuasi pada harga saham.
Stock split tidak selalu dapat meningkatkan harga saham
Kontra selanjutnya dari melakukan stock split adalah harga saham tidak selalu bisa meningkat. Jadi, masih besar kemungkinannya harga saham masih tetap murah dan tidak mengalami peningkatan.
Di atas sempat disinggung bahwa salah satu tujuan melakukan stock split adalah untuk menaikkan harga saham dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Sayangnya, jika harga saham yang terlanjur telah dipecah tidak kunjung meningkat akan berisiko membuat saham perusahaan mengalami delisting oleh BEI (Bursa Efek Indonesia).
Baca Juga: 5 Jenis Investasi Syariah yang Bisa Kamu Jadikan Pilihan
Demikianlah penjelasan mengenai stock split yang sudah Glints persiapkan untukmu.
Semoga informasi di atas bisa menambah pengetahuanmu dalam bidang investasi saham.
Jika tertarik mempelajari investasi, kamu bisa berlangganan newsletter Glints untuk mendapatkan informasi terbaru seputar hal tersebut.
Selain itu, blog Glints juga memiliki informasi menarik lainnya seputar pengembangan diri dan dunia kerja.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera sign up sekarang juga dan mulai berlangganan newsletter blog Glints, ya!
