×

Hari Raya Semakin Dekat, Begini Cara Mudah Menghitung Pajak THR

March 19, 2020 | No Comments

Hari Raya Idul Fitri semakin dekat, bagi kamu pejuang pundi-pundi uang, sudah tahu belum cara menghitung pajak THR atau disebut juga PPh 21?

Menerima THR berarti kamu juga perlu mengetahui pengenaan pajak penghasilan PPh 21 THR, loh.

Lalu, bagaimana perhitungan pajak THR? Di bawah ini Glints bagi informasi seputar THR dan perhitungan pajak yang dapat membantumu.

Dasar Hukum Perhitungan Pajak THR

Jenis pajak di Indonesia

© Pixabay.com

Sebelum membahas mengenai perhitungan pajak THR, perlu diketahui bahwa THR dan bonus akhir adalah 2 hal yang berbeda.

Perbedaan paling mendasar adalah THR diberikan menjelang hari raya dan diberikan kepada karyawan.

Sedangkan bonus adalah pemberian penghargaan atau apresiasi perusahaan yang diberikan kepada karyawan atas dasar penilaian kinerja.

Baik THR maupun bonus, keduanya wajib dikenakan pajak penghasilan (PPh 21), khususnya bagi Wajib Pajak Orang Pribadi.

Pemotongan Pajak penghasilan (PPh 21) bagi setiap karyawan tidaklah sama. Pemotongan PPh 21 juga dipengaruhi oleh kepemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Karyawan yang tidak memiliki NPWP akan dikenakan pajak 20% lebih besar dibandingkan karyawan yang memiliki NPWP.

Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-15/PJ/2006 Tahun 2006 tentang Perubahan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP-545/PK/2000.

Selain itu disebutkan pula pada, Petunjuk Pelaksanaaan Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi (“Peraturan Dirjen Pajak 15/2006”).

Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai, penerima pensiun, atau mantan pegawai secara tidak teratur berupa jasa produksi.

Ada juga penerima kriteria lain seperti tantiem, gratifikasi, tunjangan cuti, tunjangan hari raya, tunjangan tahun baru, bonus, premi tahunan, dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap.

Adapun perhitungan pajak THR cenderung lebih besar. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan THR masuk ke dalam perhitungan atas Pendapat Bersifat Tidak Teratur serta tidak dijadikan setahun.

Seperti yang disebutkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER – 31/PJ/2012 Pasal 14 ayat 2 huruf a dan b yaitu,

“a. perkiraan atas penghasilan yang bersifat teratur adalah jumlah penghasilan teratur dalam 1 (satu) bulan dikalikan 12 (dua belas).”

“b. dalam hal terdapat tambahan penghasilan yang bersifat tidak teratur maka perkiraan penghasilan yang akan diperoleh selama 1 (satu) tahun adalah sebesar jumlah pada huruf a ditambah dengan jumlah penghasilan yang bersifat tidak teratur.”

Baca juga: Mengenal Apa Itu Kurs Pajak

Cara Menghitungnya Bagaimana?

akuntan perpajakan

© TaxExpertUSA.com

Berikut adalah tahapan yang dilakukan untuk menghitung pajak THR:

I. Seluruh penghasilan (bruto) – biaya-biaya = penghasilan neto (penghasilan bersih);

II. Penghasilan bersih – PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) = Penghasilan Kena Pajak (“PKP”).

Seluruh penghasilan (bruto) ini adalah penambahan upah dan THR, serta penghasilan lain wajib pajak yang kemudian dikurang biaya-biaya untuk memperoleh penghasilan neto.

Pasal 8 Peraturan Dirjen Pajak 15/2006 mengatur mengenai biaya apa saja yang dikurangi dari penghasilan bruto untuk memperoleh penghasilan neto yang antara lain adalah:

  1. Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto;
  2. Iuran Jaminan Hari Tua;
  3. PTKP.

Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh kemudian dikenakan tarif pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 17 UU Pajak Penghasilan:

Jenis pajak di Indonesia

© HukumOnline.com

Adapun besar pajak yang dikenakan terhadap karyawan sebagai wajib pajak bergantung pada penghasilan dari wajib pajak tersebut.

Sebagaimana yang tertera pada tabel di atas, jika penghasilan kena pajak dari wajib pajak di atas kurang dari Rp50 juta, maka tarif pajak yang dikenakan adalah 5%. dengan perhitungan berjenjang.

Berikut simulasi dari penghitungan pajak bagi seorang karyawan tanpa tanggungan dengan gaji bulanan Rp 6.000.000

Pajak Atas Gaji

Gaji Bruto Setahun

12 bulan x Rp 6.000.000 = Rp 72.000.000

Biaya Jabatan

5% x 72.000.000 = Rp 3.600.000

Penghasilan Neto (Penghasilan Bersih)

Gaji Bruto – Biaya Jabatan = Rp 68.400.000

PTKP setahun = Rp 54.000.000

Penghasilan Kena Pajak = penghasilan bersih – PKTP setahun

Rp 68.400.000 – Rp 54.000.000 = Rp 14.400.000

Besaran Pph 21 terutang

5% x Rp 14.400.000 = Rp 720.000

Pajak atas Penghasilan (Gaji dan THR)

Gaji Setahun = Rp 72.000.000

THR = Rp 6.000.000

Penghasilan Bruto = Rp 78.000.000

Biaya Jabatan 

5% x Rp 78.000.000 = Rp 3.900.000

Penghasilan Neto Setahun (Penghasilan Bersih)

Gaji Bruto – Biaya Jabatan = Rp 74.100.000

PTKP Setahun = Rp 54.000.000

Penghasilan Kena Pajak

Rp 74.100.000 – Rp 54.000.000 = Rp 20.100.000

Besaran PPh 21 terutang

5% x Rp 20.100.000 = Rp 1.005.000

PPh Pasal 21 atas THR adalah:

Rp 1.005.000 – Rp 720.000 = Rp 285.000

Maka, jika kamu mendapatkan THR sebesar Rp 6.000.000, kamu akan memperoleh THR Rp 5.715.000 setelah dipotong pajak

Demikianlah informasi tentang pajak THR yang perlu kamu ketahui. Untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai dunia kerja serta lowongan pekerjaan terpercaya, kamu bisa mendapatkannya di Glints. Yuk, sign up sekarang!

YOU MAY ALSO LIKE

Scroll Up