×

Disebut dapat Menembus Batas Kenyataan, Apa Itu Augmented Reality?

September 21, 2020 | No Comments

Melansir vXchnge, per 23 Januari 2020, Pokémon GO sudah di-download lebih dari 1 milyar kali. Lantas, mengapa game ini begitu menarik? Augmented reality (AR) adalah salah satu jawabannya.

Sebenarnya, apa itu AR? Mengapa banyak orang tertarik dengannya? Bagaimana cara kerjanya?

Jawabannya ada di dalam artikel ini. Simak selengkapnya, yuk!

Apa Itu Augmented Reality?

ar adalah

© Unsplash.com

Kata BitDegree, AR merupakan teknologi penembus batas dunia nyata. Ia memberi tambahan realitas lewat jalan digital.

Pengertian ini tentu sejalan dengan pilihan kata yang digunakan untuk istilah AR. “Augmented” punya arti penambahan. Sementara itu, “reality” berarti realitas.

Dalam bahasa Indonesia, teknologi ini kerap disebut dengan realitas tertambah.

Kata Tech Target, penambahan realita ini terjadi secara real time. Semua itu dilakukan lewat teknologi tiga dimensi.

Pemaparan pengertian tadi mungkin membuatmu bingung. Memang, dari namanya, AR punya kesan mewah, canggih, dan hanya bisa diraih kaum jetset. 

Padahal, sejatinya, augmented reality adalah teknologi yang cukup dekat dengan kita. Agar bayangannya lebih tergambar, Glints akan memberikan beberapa contoh.

Kamu pernah bermain Instagram? Filter di fitur Instagram Story adalah salah satu wujud dari AR.

Software yang ada di sana bisa membaca wajahmu, lantas menambahkan animasi di layar. Contohnya ada di bawah ini:

ar instagram story

© Theverge.com

Mengutip The Conversation, game terkenal Pokémon GO juga menggunakan realitas tertambah. Contohnya ada di bawah ini:

ar dalam pokemon go

© Livescience.com

Perusahaan furnitur IKEA juga punya aplikasi AR, lho. Di sana, kamu bisa mencoba “menata rumah” secara virtual. Contohnya ada di bawah ini:

augmented reality ikea

© Ikea.com

Kata Just in Mind, AR bisa menjadi fitur baru produk demi meningkatkan user experience. Tak heran, di dunia technopreneurship, penggunaan AR semakin masif.

Baca Juga: 6 Skill yang Harus Dimiliki oleh Startup Founder

Sejarah Singkat Augmented Reality

sejarah augmented reality

© Forbes.com

Kamu telah memahami pengertian dari AR. Lantas, sebenarnya, bagaimana awal mula teknologi ini?

Kata Harvard Business Review, AR pertama kali muncul pada tahun 1968. 

Kala itu, Ivan Sutherland merancang gadget realitas tertambah yang dipasang di kepala. Wujudnya seperti di bawah ini:

kacamata ar ivan sutherland

© Roadtovr.com

Layaknya augmented reality di masa kini, fungsi gadget itu adalah menambah informasi digital dari realita.

Akan tetapi, penggunaannya terbatas pada informasi geografis. Misalnya adalah melihat suatu lokasi dengan tambahan informasi kemiringan tanah.

Oleh karena itu, saat itu, perangkat ini digunakan pada industri tertentu saja. Dua di antaranya adalah penerbangan dan militer.

Penggunaan AR di dunia komersial baru terjadi pada tahun 2008. Pihak yang memulainya adalah perusahaan otomotif BMW.

Saat itu, fitur augmented reality disisipkan untuk majalah cetak mereka. Di sana, ada gambar sebuah mobil bernama BMW Mini.

Jika lembarannya diarahkan ke kamera komputer, kamu akan melihat mobilnya di layar. 

Saat ini, AR terus digunakan di banyak industri. Kata Interaction Design Foundation, di antaranya adalah konstruksi, pendidikan, game, pariwisata, dan lain-lain.

Ke depannya, AR diprediksi semakin berkembang. Melansir The Franklin Institute, ini merupakan dorongan dari luasnya penggunaan smartphone.

Baca Juga: 6 Jenis Pekerjaan yang Selalu Dibutuhkan Perusahaan Startup

Cara Kerja Augmented Reality

sejarah augmented reality

© Disruptedx.com

Augmented reality adalah teknologi yang berbeda dari biasanya. Oleh karena itu, cara kerjanya pun punya keunikan tersendiri.

Kata Construct Digital, AR bekerja lewat tiga komponen. Ketiganya yaitu:

1. Hardware

AR hanya bisa dilihat lewat layar digital. Oleh karena itu, kamu membutuhkan hardware untuk mengaksesnya.

Sejatinya, ada kacamata khusus yang bisa digunakan untuk AR. Akan tetapi, smartphone juga bisa dipakai, kok!

Komponen pentingnya adalah prosesor, yakni “otak” dari hardware. Selain itu, ada pula graphic processing unit yang mengolah gambar yang tampil secara digital.

Komponen terakhirnya adalah sensor. Ingat, augmented reality bekerja dengan menambah realitas. 

Oleh karena itu, ia butuh sensor untuk membaca realitas. Dengan begitu, perangkat bisa tahu, apa yang harus ditambah? Bagaimana penambahan itu ditampilkan?

Sensor sendiri mendeteksi beberapa hal, di antaranya adalah:

  • sensor kedalaman, mengukur kedalaman dan jarak
  • sensor gyroscope, mengukur posisi perangkatmu
  • sensor proximity, mengukur jauh-dekat benda
  • accelerometer, mengukur kecepatan, gerakan, dan rotasi
  • sensor cahaya, mengukur intensitas dan pencahayaan

2. Software

Komponen kedua adalah software. Software bertugas memproses data dari hardware.

Seberapa datar sebuah permukaan? Seberapa terang sebuah sudut ruangan? Bagaimana sudut tanganmu saat memegang perangkat?

Lantas, dari informasi tadi, perangkat bisa menentukan bagaimana realitas harus ditambah. Pemrosesan inilah yang menjadi tugas dari software.

3. Aplikasi

Di mana kamu mengakses software dan menggerakkan hardware AR? Aplikasi adalah jawabannya.

Oleh karena itu, ia dianggap sebagai komponen yang terpisah. Software dimiliki oleh fitur, sedangkan aplikasi merupakan tempatmu mengakses fitur tersebut.

Karier di Dunia Augmented Reality

karier augmented reality

© Freepik.com

Kamu telah mengetahui bahwa augmented reality adalah teknologi yang berkembang pesat. Konsekuensi darinya adalah melebarnya lapangan kerja di sana.

Pilihan pekerjaan di dunia AR itu di antaranya:

1. 3D artist

Ingat, AR bisa jadi nyata lewat desain tiga dimensi. Oleh karena itu, 3D artist, orang yang membangunnya, bisa bekerja di bidang ini.

Dengan pesatnya perkembangan dunia AR, secara otomatis, 3D artist semakin dicari-cari. Hal ini disampaikan oleh Joe Coggins, 3D artist di Zappar.

3D artist wajib punya kreativitas. Kemampuan software desain D3 juga wajib mereka miliki.

Apakah kamu merasa pekerjaan ini tepat untukmu? Intip berbagai peluang kerja desain 3D di marketplace Glints dulu.

Jangan tunda-tunda lagi, segera lamar lowongan itu, ya!

2. Software developer atau engineer

Siapa yang bertanggung jawab membangun aplikasi? Software developer dan engineer adalah jawabannya.

Melansir Vox, banyak perusahaan yang mulai mencari mereka. Terutama, untuk membangun fitur atau aplikasi dengan AR.

Untuk jadi salah satunya, kamu wajib punya kemampuan matematis. Kamu juga harus menguasai berbagai bahasa pemrograman.

Tertarik jadi salah satunya? Lamar lowongan kerja software developer atau software engineer di marketplace Glints, yuk!

Baca Juga: Bekali Diri dengan Beragam Skill Ini untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Demikian informasi dari Glints soal augmented reality. Ternyata, inovasi ini mampu mengubah dunia kerja.

Nah, augmented reality sendiri adalah satu dari banyak teknologi yang mampu lakukan itu. Masih banyak inovasi lainnya yang bisa mempengaruhi kariermu.

Kamu bisa membaca kabar terbaru seputar pekerjaan di newsletter blog Glints. Agar tak ketinggalan, kamu bisa berlangganan secara gratis, lho.

Dengan begitu, informasinya akan terkirim ke inbox-mu secara rutin. Jadi, tunggu apa lagi? Daftarkan emailmu sekarang, ya!

YOU MAY ALSO LIKE

Scroll Up