Waspadai Thin Content: Perusak Strategi SEO Situsmu

Tayang 16 Mar 2021 - Dibaca 8 mnt
Ditulis oleh : Khairina F. Hidayati

Psst, konten yang ditulis asal-asalan tak hanya membuat pembaca kesal, lho. Google juga tak menyukainya. Istilah untuk halaman seperti ini adalah thin content.

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Memangnya, apa saja ciri dari konten ini? Mengapa Google tak menyukainya? Selain itu, bagaimana cara memperbaikinya?

Simak jawabannya dalam artikel ini, yuk!

Mengenal Thin Content

mengenal thin content

© Freepik.com

Secara singkat, thin content adalah konten yang dianggap kurang berkualitas oleh mesin pencari. 

Dirangkum dari Google Webmaster dan WebFX, ciri-cirinya adalah:

1. Konten yang kurang berkualitas

Apakah di situsmu ada konten yang tata bahasanya perlu banyak perbaikan? Hati-hati, itu merupakan salah satu ciri konten yang thin, lho.

Kualitas konten juga bisa turun jika kamu menulisnya menggunakan artificial intelligence. Hati-hati, hindari hal ini, ya!

Baca Juga: Hati-hati, Hindari Black Hat SEO yang Berdampak Buruk untuk Situsmu

2. Affiliate page yang kurang baik

Secara umum, affiliate page bukanlah sebuah masalah. Meski begitu, tetap waspada dalam menuliskan kontennya, ya!

Sama seperti halaman lainnya, affiliate page harus punya informasi yang berguna untuk pembaca. 

Jadi, jangan sekadar copy-paste dari halaman aslinya, ya! Dengan begitu, ia tak dianggap thin content oleh Google.

3. Hasil copypaste

Kalau memang terinspirasi dari suatu karya, kamu tentu harus melakukan modifikasi. Ini merupakan salah satu etika yang umum diketahui.

Ternyata, algoritma mesin pencari juga “setuju” dengan hal ini, lho. Tulisan yang merupakan hasil copy-paste akan dianggap thin.

4. Adanya doorway page

Kamu punya berhalaman-halaman dengan keyword atau keyphase mirip? Hati-hati, halaman itu bisa dianggap doorway page.

Biasanya, konten-konten itu dibuat untuk meningkatkan rank dari kata kunci tertentu. 

Dengan alasan ini, Google menganggap halaman itu kurang berkualitas. Ingat, tujuan awal dibuatnya saja demi ranking, bukan membantu para pembaca.

Baca Juga :  5 Tips Copywriting dengan Teknik Persuasi dan Contohnya

5. Konten pendek

Kadang kala, ada konten yang hanya berisi 250 kata. Hati-hati, ia bisa dianggap thin content, lho.

Jumlah katanya saja sudah terlalu sedikit. Google bisa menganggap konten itu kurang informatif bagi audiens atau pembaca.

Jadi, tulis artikel dengan jumlah kata yang cukup, ya! Selain itu, jangan sekadar mengejar word count. Pastikan informasi di sana bisa membantu para pembaca.

Baca Juga: Blogger Berkumpul! Yuk, Belajar SEO Blogspot lewat Rekomendasi Glints Ini

Google memang selalu ingin memberikan hasil terbaik untuk pencariannya. Hasil terbaik berarti konten tersebut sesuai dengan search intent dari sang pencari.

Dengan alasan ini, mereka mencari konten yang tak asal ditulis. Oleh karena itu, kata Yoast, tulislah konten yang mudah dimengerti dan informatif.

Pihak yang akan menyukai kontenmu juga tak hanya algoritma Google. Audiens dan pembacamu juga betah membacanya. Pada akhirnya, kamu pun diuntungkan.

Nah, selain thin content, apa lagi yang harus dihindari saat menulis dengan strategi SEO? Ketahui jawabannya dengan ikut Glints ExpertClass, yuk!

Di kelas ini, kamu akan dipertemukan dengan praktisi-praktisi pemasaran yang hebat. Mereka siap berbagi ilmu dan pengalaman denganmu.

Dengan begitu, kamu bisa tahu apa saja ciri-ciri konten yang berkualitas.

Psst, kuota kelas ini terbatas, lho. Jadi, jangan tunda lagi, ya! Klik gambar di bawah ini untuk memilih kelas pemasaran yang tepat.

kelas marketing glints expertclass

Tips Memperbaiki Thin Content

Nah, sekarang, bagaimana cara memperbaiki konten ini? Dirangkum dari Search Engine Journal dan WebFX, ini dia penjelasannya.

1. Prioritaskan konten dengan traffic tinggi

Bingung harus mulai dari mana? Pilihlah konten dengan traffic tertinggi dulu. 

Halaman seperti ini menjangkau lebih banyak audiens. Tentu lebih baik jika pembaca yang banyak ini tak bertemu dengan konten yang thin.

Baca Juga :  8 Strategi Snapchat Marketing untuk Curi Perhatian Audiens

2. Perbaiki halaman yang kurang berkualitas

Kamu bisa mulai dengan site audit. Ketika menemukan konten-konten yang tak memenuhi standar, kamu bisa:

  • menghapus (terutama jika ada dua konten yang sama atau mirip)
  • memperbaiki tata bahasa
  • menambah informasi dan jumlah kata
  • sesuaikan penyebaran dan jumlah pengulangan keyword
  • dan lain-lain

3. Sesuaikan keyword, search intent, dan konten

Kamu menemukan dua halaman dengan keyword sama, namun kontennya berbeda? Cara paling tepat untuk memperbaiki thin content ini adalah mengganti keyword-nya.

Ingat kembali prinsip pemilihan kata kunci, yakni sejalan dengan search intent pembaca. Oleh karena itu, pastikan kamu memilih kata kunci yang tepat, ya!

Baca Juga: Tak Ingin SEO Website-mu Rusak? Hindari Keyword Cannibalization!

Selesai sudah penjelasan dari Glints. Bagaimana, sudah siapkah kamu memperbaiki thin content untuk memaksimalkan strategi SEO?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon