Pahami 3 Batasan Penting Ini agar Kamu Tak Dianggap Pamer di LinkedIn

Diperbarui 03 Mar 2023 - Dibaca 6 mnt
Ditulis oleh : Arkan Perdana

Seperti media sosial lain, LinkedIn memungkinkan user untuk membantu post dan mengisi profil sesuai dengan latar belakang mereka. Nah, boleh tidak, ya, pamer di LinkedIn lewat post ataupun profilmu?

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

LinkedIn memang lebih sering dipakai oleh profesional dalam mengembangkan koneksinya. Namun, tidak sedikit juga yang membagikan konten-konten inspirasi dan pencapaian melalui LinkedIn pribadinya.

Selain itu juga profil-profil profesional di LinkedIn biasanya berisi pengalaman-pengalaman serta skill yang dimilikinya.

Namun, apa, sih, batasannya untuk seseorang agar kontennya tidak dianggap pamer atau flexing secara berlebihan? Yuk cek rangkuman Glints berikut ini.

Baca Juga: 6 Hal yang Dilihat HRD dari LinkedIn Kandidat

Batasan Pamer di Linkedin

pamer di linkedin

© Freepik.com

Media sosial seperti Facebook dan Instagram memang digunakan untuk memamerkan hasil foto dan kenangan liburan, tapi berbeda dengan LinkedIn.

Menurut The Northwestern Business Review, LinkedIn adalah platform profesional untuk mendekatkanmu pada para rekruter. Ya, goal-nya adalah pada mendapatkan pekerjaan serta koneksi yang lebih luas.

Makanya, kamu pasti jarang melihat seseorang meng-upload post seperti jalan-jalan ataupun selfie dalam LinkedIn.

Tidak ada batasan pasti atau resmi untuk post di LinkedIn. Namun, kamu harus punya kesadaran diri untuk tahu bahwa LinkedIn bukanlah media sosial untuk mengejar likes.

1. Jangan melebih-lebihkan profilmu

Kamu tentu bebas untuk membagikan apapun, asal dapat bertanggung jawab terhadap konten tersebut.

Seperti yang disadur dari Fashionjournal, dalam memoles profil Linkedin harus dibarengi dengan pernyataan yang jujur dan tidak melebih-lebihkan. 

Contohnya, setiap profil LinkedIn punya headline, tempat untuk user menampilkan profesinya. Biasanya diisi dengan kumpulan skill yang dimiliki.

Namun ingat, jangan membuat headline-mu penuh akan informasi. Masukkan informasi yang penting dan utama saja.

Baca Juga :  Kenali Chronotype untuk Produktivitas: Cara Kerja dan Tipenya

2. Fokus pada personal branding

Bangun dan bagikan konten yang membuatmu dilirik rekruter. Bagaimana caranya? Dengan membanding personal branding yang positif dan profesional.

Jangan membagikan konten-konten seperti quotes yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan atau dunia kerja. Seperti quotes galau atau soal cinta.

Ingat, kamu membuat dan membagikan konten untuk mendapatkan koneksi profesional dan pekerjaan impian.

Buat konten yang memang berkaitan dengan pekerjaan dan skill-mu. Contohnya, pencapaian individu, timmu, atau perusahaan tempatmu kerja.

Kamu juga dapat meng-upload hasil kerjamu dan proyek-proyek yang pernah kamu kerjakan. Ini sangat berpengaruh bagimu, terutama yang sedang mencari kerja dan freelance.

Rekruter dan brand jadi lebih yakin karena kamu punya hasil kerja nyata.

3. Jangan post dalam jumlah yang berlebihan

Contohnya upload setiap dua jam. Kamu akan dianggap gabut atau tidak punya kesibukan lain hingga tak profesional, tentunya.

Buat durasi upload yang normal, atau saat ada moment pencapaian terjadi. Atau ketika kamu menemukan post orang lain yang inspiratif dan berkaitan dengan profesimu.

Kalau tidak ada pencapaian, kamu tidak wajib meng-upload konten di LinkedIn tiap hari. Cukup beri reaksi ataupun berkomentar di post koneksimu.

Baca Juga: Serba-serbi Menghubungi Recruiter Melalui LinkedIn saat Cari Kerja

Tips Memaksimalkan Post di LinkedIn

© Freepik.com

Setelah tahu batasan apakah kamu pamer atau tidak di LinkedIn, yuk, pahami juga cara memanfaatkan konten atau post-mu, melansir Workopolis.

1. Maksimalkan endorsement dan rekomendasi

Salah satu hal yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan daya tarik profilmu tanpa pamer adalah dengan memaksimalkan endorsement atau testimoni dari koneksimu.

Akan lebih baik jika endorsement atau rekomendasi diberikan oleh rekan kerja, mantan rekan kerja, atasan, atau mantan atasan.

Baca Juga :  3 Contoh Rekomendasi di LinkedIn Beserta Cara Menyusunnya

Hal ini akan memudahkan orang lain mengetahui bidang pekerjaan dan keahlian, serta bagaimana kebiasaan kerjamu.

2. Ceritakan pengalaman kala bekerja

Hal lain yang dapat kamu lakukan adalah membagikan pengalamanmu dalam bekerja atau kala memegang sebuah project.

Tentu akan lebih baik jika disertai dengan foto sebagai bukti konkret hasil kerjamu

Susun dengan kata-kata yang ringkas dan jelas, tanpa terlalu melebih-lebihkan.

3. Aktif memberikan reaksi dan komentar

Cara lain agar dapat menonjol tanpa harus terlalu pamer di LinkedIn adalah dengan aktif memberikan reaksi atau like dan komentar ke sebuah post.

Hasil reaksi dan komentarmu akan muncul pada bagian home atau beranda koneksimu. Ingat, berikan reaksi dan komentar pada konten yang profesional serta berhubungan dengan dunia kerja, ya.

4. Membagikan pengetahuan

Hal terakhir yang dapat kamu lakukan adalah dengan memberikan pengetahuan kepada koneksimu.

Tak perlu menjadi seorang ahli, cukup dengan membagikan pengetahuan-pengetahuan dasar berdasarkan pengalaman kerjamu.

Jangan sembarang berbagi informasi dan pengetahuan, lho, ya. Pastikan kamu memberikan informasi yang berkaitan dengan pekerjaanmu.

Baca Juga: 5 Langkah Merapikan Profil LinkedIn-mu

Itulah beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang flexing atau pamer di Linkedin.

Tentu semua media sosial harus digunakan dengan bijak agar tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.

Nah, supaya kamu bisa menggunakannya dengan lebih bijak. Yuk, ketehaui etika di media sosial yang harus kamu perhatikan sebagai pekerja.

Baca selengkapnya di sini.


Komentar ditutup.

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon