Kenali 5 Jenis Bunga Ini supaya Tidak Salah saat Mengajukan Kredit

Diperbarui 19 Jan 2023 - Dibaca 8 mnt

Isi Artikel

    Di Indonesia ada beberapa jenis bunga yang mungkin belum kamu ketahui secara mendalam.

    Bunga menjadi salah satu hal yang wajib diperhatikan oleh orang-orang yang hendak meminjam uang kepada bank atau mengambil cicilan.

    Pasalnya, dengan memperhitungkan bunga yang diterapkan oleh pihak kreditur, kamu sebagai debitur dapat menghitung besaran uang yang harus dikeluarkan.

    Lantas, kira-kira apa saja jenis bunga yang ada di Indonesia? Glints sudah merangkumnya untukmu.

    Apa Itu Bunga?

    jenis bunga

    © Freepik.com

    Sebelum melangkah kepada pembahasan jenis-jenisnya, mari kita bahas terlebih dahulu definisi dari bunga itu sendiri. Dilansir dari The Balance, bunga adalah biaya yang didapatkan dari uang orang lain. 

    Dalam artian lain, saat kamu sebagai nasabah meminjam uang kepada bank, akan dikenakan bunga yang berlaku.

    Sebaliknya, dari pihak bank justru akan mendapatkan biaya dari hasil meminjamkan uang kepada nasabah.

    Sebagai contoh, kamu meminjam uang kepada bank sebesar Rp5.000.000 dengan bunga sebesar 2%.

    Dengan begitu, kamu harus membayar bunga kepada bank sebesar Rp5.000.000 x 2% = Rp100.000.

    Jadi, setiap bulannya bunga yang harus dibayarkan kepada bank sebesar Rp100.000. Dalam perhitungannya, setiap jenis bunga memiliki perhitungan masing-masing.

    Selain pinjam-meminjam, bunga juga biasanya berlaku saat kamu mengajukan kredit, seperti kredit mobil, KPR dan sebagainya.

    Sementara itu, bunga dalam konteks investasi memiliki makna yang lain. Dalam investasi, kamu justru akan mendapatkan bunga dari uang yang diinvestasikan secara rutin.

    Baca Juga: 3 Jenis Simpanan yang Lazim Tersedia di Bank

    Jenis-Jenis Bunga

    jenis bunga

    © Freepik.com

    Nah, setelah mengetahui definisi dari bunga, mari kita membahas mengenai jenis-jenis bunga kredit yang berlaku di Indonesia.

    1. Bunga efektif

    Bunga efektif biasanya digunakan dalam kredit yang memiliki jangka panjang, seperti ketika kamu mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR).

    Pasalnya, bunga efektif dihitung berdasarkan sisa pokok utang atau sisa saldo pinjaman dari nasabah.

    Secara tidak langsung, apabila kamu mengajukan jenis bunga yang satu ini, beban bunga yang dibayarkan setiap bulannya akan semakin kecil.

    Sederhananya, besaran angsuran kedua akan lebih kecil dibandingkan dengan angsuran pertama, dan seterusnya. Istilah lain dari jenis bunga ini adalah sliding rate.

    Agar lebih mudah dipahami, berikut rumus yang dipakai untuk suku bunga efektif: Saldo akhir periode x bunga tahunan/12.

    Misalnya, uang yang kamu pinjam sebesar Rp30.000.000 dan bunganya sebesar 10%. 

    Maka, angsuran bulan pertama yang harus dibayarkan adalah Rp30.000.000 x 10%/12 = Rp250.000. Lalu, untuk bulan kedua kamu hanya tinggal hitung saldo akhir periodenya.

    Jadi, Rp29.750.000 x 10%/12 = Rp247.916, dan seterusnya sampai jangka waktu pinjaman selesai.

    2. Bunga flat

    Jenis bunga ini bisa dibilang perhitungannya yang paling mudah. 

    Dilansir dari Kompas, suku bunga flat biasanya menggunakan sistem perhitungan yang mengacu pada pokok utang di awal pembayaran

    Biasanya, kamu akan menemukan perhitungan suku bunga flat diterapkan dalam kredit kendaraan, handphone, atau kredit tanpa agunan.

    Dalam sistem bunga flat, porsi bunga dan pokok dalam angsuran selalu sama setiap bulan. Hal ini tentu berbeda dengan suku bunga efektif.

    Tiap bulan jumlah angsuran, bunga, dan cicilan pokoknya tetap sama. 

    Agar lebih mudah dipahami, Glints akan memberikan contoh dari kasus nasabah yang menggunakan jenis suku bunga ini.

    Sebagai contoh, kamu mengajukan KTA (kredit tanpa agunan) sebesar Rp150.000.000 dengan jangka waktu kredit 12 bulan dan dikenai bunga sebesar 10% per tahun.

    Hitung terlebih dahulu cicilan pokoknya, yaitu Rp150.000.000 : 12 bulan = Rp12.500.000/bulan.

    Lalu, hitung bunganya dengan rumus: (pokok pinjaman x bunga) : waktu kredit.

    Berarti, (Rp150.000.000 x 10%) : 12 bulan = Rp1.250.000.

    Jadi, angsuran per bulan yang harus dibayarkan adalah Rp12.500.000 + Rp1.250.000 = Rp13.750.000.

    Dengan begitu, kamu harus membayar angsuran sebesar Rp13.750.000 per bulan sampai pinjaman tersebut lunas.

    Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Kredit Kendaraan di Bank yang Perlu Kamu Ketahui

    3. Bunga fixed (tetap)

    Secara sederhananya, suku bunga fixed atau tetap menerapkan besaran bunga yang dibayarkan tidak akan berubah sampai masa pinjaman berakhir.

    Dengan demikian, apabila suku bunga yang dijanjikan di awal disepakati sebesar 10%, sampai masa kredit berakhir suku bunganya tetap 10%.

    Kelebihan dari suku bunga ini adalah ketika suku bunga di pasaran mengalami kenaikan.

    Jika hal tersebut terjadi tidak akan mempengaruhi besaran suku bunga yang sedang dijalani.

    Sebagai contoh, misalnya kamu mengajukan pinjaman sebesar Rp25.000.000 dengan bunga 10% dan jangka waktu pinjaman selama 12 bulan.

    Hitung bunganya terlebih dahulu, yaitu 10% x Rp25.000.000/12 x 1 = Rp 208.333

    Lalu, hitung pokok pinjamannya, Rp25.000.000 : 12 = Rp2.083.333

    Jadi, angsuran bulan pertama yang harus dibayarkan adalah Rp2.291.666.

    4. Bunga anuitas

    Pada umumnya suku bunga anuitas menggunakan sistem perhitungan modifikasi dari perhitungan suku bunga efektif.

    Dalam jenis suku bunga ini jumlah angsuran bulanannya akan tetap, tetapi komposisi bunga dan pokok angsuran akan berbeda di setiap periodenya.

    Untuk penghitungan dari suku bunga anuitas terlihat agak rumit. Kamu bisa menggunakan software untuk melakukan penghitungan terhadap jenis suku bunga yang satu ini.

    5. Bunga floating

    Dilansir dari Kompas, suku bunga float merupakan kebalikan dari flat, di mana suku bunga ini memiliki tingkat suku bunga yang tidak tetap karena tergantung suku bunga di pasar.

    Dengan demikian, keunggulan sekaligus kelemahan dari jenis suku bunga ini adalah apabila suku bunga di pasaran sedang naik ataupun turun.

    Cara perhitungan dari suku bunga float tergantung dengan keadaan suku bunga yang terjadi. Bisa jadi tahun pertama bunganya stabil sebesar 10%, tetapi di tahun kedua naik menjadi 15%.

    Misalnya, kamu mengajukan pinjaman pokok sebesar Rp50.000.000 dalam jangka waktu 12 bukan

    Tahun pertama perhitungan bunganya adalah 12% x Rp50.000.000/12 x 1 = Rp500.000.

    Lalu, tahun kedua dikali dengan 15%, sesuai dengan kenaikan suku bunga yang terjadi.

    Baca Juga: Butuh Dana? Ketahui Cara Mengajukan Pinjaman di Koperasi

    Itu dia pengertian serta jenis-jenis bunga yang ada di Indonesia. Sekarang, kamu sudah memahaminya sehingga harus lebih berhati-hati dalam mengajukan pinjaman.

    Jika ingin mendapatkan informasi menarik lainnya seputar keuangan, kamu bisa lho mendapatkannya secara gratis di newsletter blog dari Glints sekarang juga.

    Caranya bagaimana? Yuk segera sign up dan dapatkan informasi menarik lainnya!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote: 0

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait