Ketahui Kapan Saatnya Pakai Design Sprint atau Design Thinking

Tayang 28 Mei 2021 - Dibaca 7 mnt

Isi Artikel

    Design sprint dan design thinking digunakan oleh tim product untuk mengembangkan suatu produk dan jasa yang sesuai kebutuhan konsumen.

    Lalu, apakah design thinking dan design sprint itu sendiri? Serta, apa hubungannya dengan product sprint?

    Glints telah merangkum perbedaan keduanya yang bisa kamu temukan di bawah ini.

    Mengenal Design Sprint dan Design Thinking

    Sebelum mebahas apa yang membedakan kedua hal tersebut, maka kamu perlu mengetahui masing-masing pengertiannya. 

    1. Design thinking

    © clientresource.inc

    Bersumber dari Voltage Control, design thinking adalah pola pikir atau metodologi dalam menghadapi permasalahan bisnis dengan mengedepankan kepentingan konsumen. 

    Dengan menggunakan design thinking, maka seseorang akan dituntut untuk berfikir bagaimana membuat suatu produk atau keputusan bisnis yang mengutamakan kebutuhan konsumen. 

    Lebih lanjut, design thinking juga membuat seseorang tak hanya berfokus pada konsumen saja namun juga fokus untuk melakukan prototyping dan testing atau pengujian.

    Dalam design thinking sendiri, terdapat 5 tahap yang perlu dilalui, seperti empathize, define, ideate, prototype, test.

    Dengan melalui kelima tahap ini, maka sangat mungkin untuk mendapatkan solusi yang sesuai terhadap permasalahan tersebut.

    a. Kapan menggunakannya

    Bersumber dari UX Planet, diharapkan hampir di semua situasi untuk menerapkan design thinking.

    Pasalnya, hal ini akan membuat seseorang atau tim melihat masalah secara holistik atau menyeluruh. 

    Bahkan, menurutnya pula, semua orang seharusnya menerapkan ini untuk menyelesaikan permasalahan di kehidupan sehari-harinya.

    Namun, perlu diperhatikan bahwa design sprint hanyalah sebuah teori.

    Tentu, teori tidak akan berjalan dengan baik jika kamu tidak mengetahui bagaimana menerapkannya. 

    Itulah yang kemudian disebut design sprint.

    2. Design sprint

    user centered design adalah

    © Unsplash.com

    Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa design sprint dapat bekerja dengan baik menggunakan design thinking.

    Design sprint sendiri merupakan sistem atau cara yang digunakan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan.

    Biasanya, design sprint berlangsung selama lima hari. Idealnya, sprint berlangsung hingga dua minggu.

    Langkah-langkah yang dilakukan hampir sama dengan design thinking.

    Langkah-langkah yang digunakan yaitu memetakan masalah, membuat solusi kasar, memutuskan solusi yang tepat, melakukan prototyping, dan melakukan pengujian.

    Tiap langkah tersebut berlangsung paling tidak satu hari. Hal ini akan membuat hasil lebih maksimal. 

    Beberapa sumber menyebut design sprint dengan product sprint.

    Hal ini karena memang output dari keduanya terkadang sama, yaitu sebuah produk yang mengedepankan desain visual. Aplikasi misalnya. 

    a. Kapan menggunakannya

    Perlu diketahui bahwa design sprint bukanlah ‘senjata pamungkas’ dalam menyelesaikan permasalahan.

    Namun, terdapat beberapa kondisi yang membuat design sprint menjadi lebih efektif.

    Menurut Dallas design sprint, kondisi tersebut adalah saat membuat produk yang benar-benar baru, bekerja dengan tim baru, atau yang memerlukan penyelesaian dalam waktu yang relatif singkat. 

    Jika dirasa suatu produk memerlukan beberapa kondisi tersebut, maka penggunaan design sprint akan memberikan hasil yang lebih baik.

    Baca Juga: Yuk, Kenalan dengan Metode Scrum untuk Project Management!

    Perbedaan Design Sprint vs Design Thinking

    © Design-sprint.com

    Menurut Letshackity, perbedaan keduanya adalah:

    • Design thinking adalah sebuah filosofi dan pola pikir yang dibutuhkan dalam sebuah proses untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sedangkan design sprint adalah sebuah metode dalam menyelesaikan suatu masalah pada periode tertentu menggunakan pola pikir design thinking tersebut.
    • Singkatnya, design sprint adalah adalah langkah-langkah penyelesaian masalah, sedangkan design sprint adalah alat bantu untuk menyelesaikan masalah tersebut.
    • Bisa dibilang, suatu design sprint akan dapat berjalan baik jika menggunakan pola pikir design thinking di dalamnya.

    Meskipun pada akhirnya sangat jarang ditemukan suatu design sprint yang tidak menggunakan design thinking.

    Baca Juga: Tips Membangun Karier sebagai Product Manager
     

    Nah, itulah penjelasan Glints mengenai design sprint vs design thinking yang perlu kamu ketahui. 

    Sebenarnya, dalam mengembangkan suatu produk, tidak hanya bergantung pada design thinking dan design sprint saja. 

    Salah satunya adalah beberapa tools yang biasa digunakan, serta cara melakukan sprint yang baik.

    Pelajari lebih jauh soal desain produk di Glints ExpertClass. Terdapat webinar yang dipandu oleh pakar di bidang desain.

    Tentunya, mereka akan berbagi ilmu dan menjawab pertanyaanmu selama webinar. Tertarik?

    Yuk, klik di sini untuk mencari kelas desainnya, sebelum kehabisan kuota.

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 2.3 / 5. Jumlah vote: 3

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait