Panduan Lengkap CSS untuk Programmer Pemula

Diperbarui 27 Feb 2023 - Dibaca 9 mnt

Isi Artikel

    Bagimu yang baru mulai mengasah skill programming, mungkin, CSS adalah istilah yang tak asing lagi di telinga.

    CSS biasanya disebut sebagai pasangan baik dari bahasa dasar pemrograman website yang wajib dikuasai, yaitu HTML.

    Lantas, mengapa CSS bisa mendapat sebutan itu? Selain itu, apa sebenarnya CSS itu dan apa kegunaannya?

    Glints telah merangkum penjelasan sederhananya, hanya untukmu.

    Apa Itu CSS dan Apa Kegunaannya?

    © Freepik.com

    CSS adalah salah satu istilah teknis dalam pemrograman. Meski sering dianggap sebuah bahasa pemrograman, CSS bukanlah bagian dari bahasa itu.

    Kata Tech Terms, CSS adalah salah satu styling language (bahasa desain), bagian dari markup language yang dapat “mewarnai” atau mendesain suatu halaman website.

    CSS sendiri adalah singkatan dari Cascading Style Sheet. Markup language ini biasanya dipasangkan dengan markup language (bahasa marka) seperti HTML.

    Apakah kamu bingung dengan penjelasan teknis ini? Intinya, CSS merupakan tools pelengkap HTML yang digunakan untuk mengubah tampilan suatu situs.

    Baca Juga: Beberapa Text Editor Terbaik untuk Para Programmer

    Kelebihan Menggunakan CSS

    © Freepik.com

    HTML boleh menjadi bahasa dasar yang dapat membuatmu membangun website. Selain itu, HTML juga biasa digunakan dalam melakukan desain dasar situs.

    Apabila HTML memang sudah bisa mengubah desain situs, mengapa programmer juga butuh CSS?

    Dilansir dari Hostinger, meski bisa mendesain, HTML tak seefisien CSS dalam mengubah warna, ukuran tulisan, hingga ukuran suatu tabel.

    Misalnya, satu halaman website ingin diubah seluruh ukuran hurufnya, dari 10pt menjadi 12pt.

    Di HTML, kamu harus mengubah semua teks mark pada website satu demi satu, paragraf per paragraf, heading per heading.

    Padahal, dalam satu dokumen HTML, ada banyak sekali paragraf dan heading. Hal ini tentu memakan banyak sekali waktu dan tenaga.

    Di sinilah CSS bisa dimanfaatkan. Dengan CSS, kamu bisa mengubah semua ukuran font satu situs sekaligus dalam kode yang singkat.

    Dengan begitu, waktu dan tenaga pun bisa dihemat. CSS tak bisa berdiri sendiri, tetapi bisa menjadi pelengkap HTML.

    Istilah CSS yang Perlu Dipahami

    istilah css yang perlu dipahami adalah

    © Freepik.com

    Layaknya bahasa lain yang berkaitan dengan pemrograman, CSS adalah bahasa yang memiliki beragam istilah teknis.

    Ada 4 istilah yang perlu dipahami oleh programmer. Istilah tersebut adalah selectorproperty, value, dan declaration.

    Dirangkum dari HTML Dog dan W3Schools, inilah maksud dari keempat istilah tersebut:

    1. Selector

    Istilah pertama adalah selector. Seperti artinya, selector adalah unsur yang ingin kamu ubah desainnya.

    Misalnya, kamu ingin mengubah bagian heading 1 di seluruh halaman. Maka, kamu mengetik “h1” saat menulis kode CSS.

    2. Property

    Istilah selanjutnya bernama property. Property merupakan aspek yang ingin kamu desain dari selector.

    Contoh dari property adalah “color” untuk warna, “font-size” untuk ukuran font, dan lain-lain. Penulisan property diakhiri titik dua (:).

    3. Value

    Setelah mengetik selector dan property, tahap selanjutnya adalah memilih value.

    Value adalah pasangan property yang menggambarkan nilai atau hasil akhir dari desainmu.

    Misalnya, “red” untuk property “color”, serta “10” untuk property “font-size”.

    4. Declaration

    Istilah terakhir dalam CSS yang perlu dipahami adalah declaration.

    Declaration merupakan property dan value yang terlah berpasangan. Tiap declaration diawali dengan kurung kurawal ({) dan ditutup dengan titik koma (;).

    Karena dalam 1 selector ada beberapa declaration yang bisa dibuat, di akhir seluruh declaration, ditulis tanda kurung kurawal (}).

    Baca Juga: Programmer Vs. Developer, Apa Bedanya?

    Apabila kamu masih bingung dengan penjelasan ini, gambar ini merupakan sebuah kalimat dalam kode CSS.

    Ada petunjuk mana yang marupakan selectorproperty, value, dan declaration.

    istilah yang perlu diketahui dalam css

    © etsav.upc.edu

    Berbagai Style CSS dalam Halaman

    berbagai style css dalam halaman adalah

    © Freepik.com

    Dalam praktiknya, CSS adalah bahasa yang memiliki tiga jenis style.

    Maksud dari style adalah cara memasukkan CSS dalam dokumen HTML yang telah dibuat.

    Melansir Hostinger, W3Schools, dan SkillCrush, inilah penjelasan style CSS serta kelebihan dan kekurangannya:

    1. Internal CSS

    Style pertama adalah internal CSS.

    Internal CSS adalah cara untuk mengubah desain suatu halaman web dengan memasukkan kode CSS langsung pada dokumen HTML.

    Untuk menggunakannya, kamu harus menuliskan kode ini dalam tag <head> pada dokumen HTML.

    Misalnya, kamu ingin mengubah warna background menjadi hitam dan warna heading 3 menjadi kuning.

    Maka, yang kamu masukkan di tengah tag <head> dan </head> di dokumen HTML adalah:

    <head>
    <style type="text/css">
    body {
    background-color: black; }
    h3 { color: yellow; }
    </style>
    </head>
    

    Kelebihan dari menggunakan internal CSS adalah, kamu tak perlu membuat dokumen CSS yang terpisah.

    Pasalnya, kode CSS sudah masuk dalam dokumen HTML-mu.

    Sayangnya, kelebihan ini datang dengan konsekuensi. Dokumen HTML yang semakin panjang juga menambah durasi loading dari halaman website-mu.

    2. External CSS

    Selain menulis kode CSS di dalam dokumen HTML, kamu juga bisa memilih untuk membuat dokumen baru, khusus untuk kode CSS.

    Ini disebut dengan style external CSS.

    Caranya adalah dengan membuat dokumen CSS baru, misalnya “desainsitusglints.css”. Dokumen ini berisi kode CSS saja.

    Misalnya, kamu ingin membuat warna background menjadi hitam dan tulisan heading 3 menjadi kuning. Isi dokumen “desainsitusglints.css” adalah:

    body {
        background-color: black;
    }
    h3 {
        color: yellow;
        padding: 60px;
    }

    Nah, pada dokumen HTML yang ingin kamu desain, kamu tinggal menambahkan kode ini:

    <head>
    <link rel=”stylesheet”  type=”text/css”  href=desainsitusglints.css”>
    </head>

    Keuntungan memilih style external CSS adalah dokumen HTML-mu takkan menjadi terlalu besar.

    Dengan ini, kamu bisa mempercepat loading halaman website-mu.

    Selain itu, dokumen desain CSS yang sudah kamu buat bisa digunakan untuk banyak dokumen HTML yang berbeda.

    Ini akan menghemat waktu, karena kamu tak perlu menulis kode CSS satu per satu di dokumen HTML yang ada.

    Sayangnya, apabila situsmu dibuka, akan ada jeda waktu hingga dokumen CSS terbuka dan desain website tampil sebagaimana mestinya.

    3. Inline CSS

    Selain kedua style CSS di atas, style CSS terakhir adalah inline CSS.

    Inline CSS sejatinya mirip dengan internal CSS. Akan tetapi, ada sedikit perbedaan di antara keduanya.

    Internal CSS ditulis di awal dokumen HTML dan menggunakan kode selector untuk memilih semua unsur halaman.

    Misalnya, “h2” ditulis untuk mengubah seluruh tulisan heading 2 di dalam halaman website.

    Kamu cukup menuliskan kode internal CSS sekali untuk satu halaman.

    Nah, inline CSS ditulis bukan untuk seluruh unsur tulisan dalam website, melainkan spesifik ke salah satunya saja.

    Misalnya, hanya ingin mengubah desain dari salah satu heading 2 dalam halaman, bukan heading 2 di seluruh halaman.

    Contoh dari penulisan kode internal CSS adalah:

    <!DOCTYPE html>
    <html>
    <body style="background-color:white;">
    
    <h2 style="color:black;padding:30px;">Glints Blog</h3>
    <p style="color:black;">Informasi terpercaya untuk kariermu.</p>
    
    </body>
    </html>

    Style ini cocok apabila digunakan sesuai dengan bagaimana style ini bekerja, yaitu hanya mengubah sebagian desain suatu halaman.

    Kamu juga tak perlu membuat dokumen CSS baru seperti style external CSS.

    Akan tetapi, style ini tak tepat apabila kamu mengubah banyak sekali unsur dalam situsmu. Pasalnya, kamu harus mengubah kodenya satu per satu.

    Selain itu, penambahan kode juga mempengaruhi ukuran dokumen HTML yang dapat memperlambat loading website.

    Baca Juga: Tips dan Trik Belajar Web Design untuk Pemula

    Itulah penjelasan lengkap mengenai Cascading Style Sheet. Dengan membaca artikel ini, Glints berharap, kamu tak lagi bingung dengan bahasa desain yang satu ini.

    Selain CSSmasih ada ragam istilah lain di dunia IT. Untuk kamu yang baru mulai mendalami skill IT, pastinya akan sangat bermanfaat untuk kamu ketahui.

    Nah, Glints sudah punya artikel yang membahas 33 istilah programming untuk kamu. Yuk, klik di sini untuk baca selengkapnya.

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 4.1 / 5. Jumlah vote: 8

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Comments are closed.

    Artikel Terkait