Product-Led Growth: Apa Itu, Manfaat, Pilar yang Membentuknya

Tayang 01 Feb 2022 - Dibaca 7 mnt

Isi Artikel

    Product-led growth adalah sebuah strategi bisnis yang semakin populer saat ini, terlebih dalam produk-produk SaaS (software as a service).

    Contohnya seperti Spotify, Slack, Zoom, hingga Netflix. Keempat aplikasi itu adalah brand yang menggunakan strategi ini dalam masing-masing produknya.

    Kepopuleran strategi ini bukan tanpa alasan. Hal ini didorong oleh faktor-faktor seperti terjadinya perubahan besar-besaran dalam consumer demand dan juga market supply .

    Perubahan yang dimaksud adalah konsumen sekarang menginginkan produk yang membantu kehidupan mereka sehari-hari.

    Lalu, apa itu product led-growth dan manfaat-manfaat yang bisa didapatkan? Lalu hal-hal apa yang membentuknya?

    Berikut Glints berikan paparannya untukmu.

    Apa Itu Product-Led Growth?

    product-led growth

    © Pexels.com

    Menurut Product-Ledproduct-led growth (PLG) adalah sebuah strategi yang bergantung pada penggunaan produk sebagai “ujung tombak” untuk akuisisi, konversi, ekspansi, dan retensi (mempertahankan) konsumen.

    Maksudnya, kamu membuat sebuah produk yang bagus dan membiarkan konsumen untuk mencoba keseluruhan atau sebagian fiturnya dalam jangka waktu tertentu sebelum mereka membeli akses penuh.

    Dalam product-led growth, kamu mengombinasikan seluruh komponen (marketingsales, engineering, design, dan masih banyak lagi) untuk menghasilkan produk dengan user experience yang baik.

    Strategi ini tentu berbeda dengan sales-led growth dan marketing-led growth, di mana kedua strategi ini membuat konsumen menginginkan sebuah produk melalui janji yang diberikan.

    Lebih jauh, kedua strategi tersebut pun hanya terlibat dengan decision-maker dalam sebuah perusahaan saja.

    Sedangkan, PLG dimulai dengan memberikan produk kepada end user dan membuat mereka mengetahui bagaimana produk tersebut membantu kehidupan, bisnis, dan pekerjaan.

    Sehingga, ketika end user menyukai penawaranmu, para decision-maker akan memiliki keinginan untuk membeli dan menggunakan produk tersebut.

    Jika produkmu bagus, ada pula kemungkinan beberapa end user akan membagikan pengalamannya ke orang-orang yang berada di luar perusahaannya.

    Sehingga, awareness terhadap produkmu akan meningkat secara sendirinya.

    Baca Juga: Product Strategy, Dokumen Penting untuk Jaga Fokus Pengembangan Produk

    Manfaat Product-Led Growth

    product-led growth

    © Pexels.com

    Mengutip ProductBoard, adapun manfaat dari strategi product-led growth adalah sebagai berikut.

    1. Mengurangi customer acquisition cost

    Dalam strategi ini, ide dasarnya adalah apabila produk yang kamu buat sangat bagus, produkmu akan masuk ke pasar dan berkembang dengan sendirinya.

    Sebagai contoh, temanmu mengajakmu untuk menggunakan Spotify saat ini sebagai sarana mendengarkan dan streaming musik.

    Lalu, kamu tertarik dan menjadi user dengan mendapatkan free trial fitur-fitur premiumnya selama beberapa bulan.

    Ketika masa free trial selesai, kamu yang merasa nyaman pun tertarik untuk terus menggunakan layanan Spotify dan akhirnya membeli program subscription-nya (berlangganan).

    Karena kamu menyukai produk ini, kamu juga merekomendasikannya ke teman atau orang-orang di sekitar yang belum memakainya.

    Nah, jika dipikirkan kembali, apakah Spotify mengeluarkan uang untuk secara spesifik membuatmu jadi konsumennya? Tentu tidak, bukan?

    Itulah salah satu manfaat dari PLG yaitu turut mengurangi customer acquisiton cost.

    Biasanya, salah satu teknik yang digunakan dalam strategi ini adalah dengan memberikan free trial atau freemium kepada prospek konsumen.

    Sehingga, setelah menjajal produk dan mendapatkan value dari produk, orang-orang akan tertarik untuk membeli produkmu.

    2. Kesempatan melakukan upselling lebih besar

    Salah satu manfaat lain dari strategi product-led growth adalah kesempatan upselling yang lebih besar.

    Dengan strategi ini, tim sales-mu akan dengan mudah menemukan leads yang lebih berpotensi karena mengetahui siapa saja yang tertarik dengan produkmu.

    Setelah mengetahui siapa saja yang tertarik, kamu pun bisa melakukan upselling dengan menawarkan fitur yang lebih banyak kepada konsumen dengan harga yang lebih tinggi pula.

    3. Memberikan user experience yang lebih baik

    Karena strategi ini sangat berorientasi pada produk, product-led growth fokus untuk memberikan value bagi usernya.

    Sehingga, strategi ini sangat bergantung pada user feedback.

    Dengan mendengarkan user feedback dan memberikan apa yang konsumen butuhkan, hal ini akan meningkatkan user experience yang juga turut meningkatkan customer retention.

    Selain itu, karena produk adalah segalanya dalam strategi ini, kamu pun akan memberikan usaha maksimal untuk menghasilkan produk yang terbaik.

    Baca Juga: Ingin Peluncuran Produkmu Sukses? Kenali Early Adopter dan Perannya

    Hal yang Membentuk Product-Led Growth

    product-led growth adalah

    © Pexels.com

    Tentunya, ada beberapa hal yang membuat suatu strategi bisa dikategorikan sebagai PLG.

    Seperti mengutip dari OpenView, berikut adalah beberapa hal yang membentuk strategi product-led growth.

    1. Desain untuk end user

    Artinya, kamu membuat produk yang didesain untuk membantu dan menyelesaikan masalah yang dimiliki konsumen.

    Sehingga, kamu menempatkan kebutuhan konsumen sebagai prioritas utama, mendengarkan masalah mereka, dan berkomitmen untuk terus membuat perkembangan terhadap produkmu.

    Hal ini dilakukan supaya produkmu dapat terus menyelesaikan masalah konsumen secara efektif.

    Selain itu, kamu pun harus memahami apa yang user lakukan selain mengetahui siapa saja target audience-mu dan membuat personalization.

    2. Memberikan value terlebih dahulu

    Dalam strategi product-led growth, kamu harus memberikan value dari produkmu terlebih dahulu sebelum berekspektasi untuk meraih bayaran dari konsumen.

    Karena itu, beberapa perusahaan yang menggunakan strategi ini menggunakan time to value (TTV) untuk menggaet konsumen dengan menawarkan model free trialfreemium, atau open-source.

    Dengan hal ini, user dapat mengetahui apa saja yang dapat mereka dapatkan dari produkmu dan bagaimana hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka sebelum memutuskan untuk membelinya.

    3. Investasi terhadap produk yang memiliki intensi go-to-market

    Dalam strategi product-led growth, kamu harus menginvestasikan uang dan waktu untuk produk yang dihasilkan dengan intensi akuisisi, konversi, serta ekspansi konsumen.

    Sehingga, data produk yang masif dibutuhkan supaya kamu bisa melacak, mengukur, dan menganalisis perilaku konsumen.

    Selain itu, kamu pun memastikan produk dapat memberikan value yang dibutuhkan konsumen dengan cepat.

    Kamu pun akan terus melakukan eksperimen untuk memastikan terus terjadinya perbaiki serta perkembangan pada produkmu, agar user’s journey semakin baik.

    Baca Juga: Ini Dia Perbedaan dan Persamaan antara User dan Buyer Persona

    Nah, itu adalah beberapa hal yang perlu kamu tahu seputar product-led growth.

    Semoga, informasi dapat kamu terapkan dalam bisnis dan memberikan impact di dalamnya.

    Jika kamu ingin tahu lebih banyak soal beragam strategi dalam produk, kunjungi Glints Blog, yuk!

    Ada banyak artikel terkait yang telah Glints siapkan dan bisa menambah wawasanmu.

    Menarik, bukan? Makanya, yuk, tambah pengetahuanmu dengan temukan dan baca artikelnya di sini sekarang!

    Seberapa bermanfaat artikel ini?

    Klik salah satu bintang untuk menilai.

    Nilai rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 1

    Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

    We are sorry that this post was not useful for you!

    Let us improve this post!

    Tell us how we can improve this post?


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Terkait