5 Mitos Social Media Marketing yang Wajib Ditinggalkan di 2021

Diperbarui 11 Nov 2024 - Dibaca 9 mnt
Ditulis oleh : Andre Oliver

Di era modern ini, hampir semua perusahaan menggunakan media sosial untuk keperluan marketing. Hasilnya, muncul banyak mitos mengenai social media marketing.

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Tak bisa dipungkiri bahwa lanskap media sosial yang dinamis mengalami perubahan besar hampir setiap harinya.

Namun, sebagai marketer, penting sifatnya untuk memisahkan kenyataan dari mitos agar strategi pemasaranmu bisa berjalan dengan efektif.

Nah, kali ini Glints akan paparkan lima mitos social media marketing yang perlu kamu hindari di tahun 2021.

Baca Juga: Hati-hati Salah Paham, 5 Mitos Content Marketing Ini Perlu Kamu Ketahui

1. Perusahaan perlu memanfaatkan semua jejaring sosial

mitos social media marketing

© Pexels.com

Nah, salah satu mitos social media marketing ini paling sering dipercaya oleh marketer.

Padahal, hal ini tidak benar. Sebab, jika mayoritas audiens brand tidak menggunakan media sosial tersebut, kampanye marketing perusahaan tidak akan meraih hasil apa pun.

Maka dari itu, menyadur laman Hubspot, marketer sebaiknya hanya fokus pada kinerja mereka di platform media sosial yang paling sering dimanfaatkan audiens brand.

Umumnya, marketer yang andal akan menggunakan data untuk mengidentifikasi platform jejaring sosial yang efektif.

Jika platform menunjukkan hasil yang buruk, tidak masalah, kok, untuk ditinggalkan dari rencana besar perusahaan.

2. Feedback negatif tidak perlu ditanggapi

mitos social media marketing

© Freepik.com

Mitos social media marketing ini bisa memberikan perusahaan kerugian yang amat besar.

Mengapa demikian? Pasalnya, feedback negatif di platform media sosial adalah bentuk umpan balik yang paling berharga untuk perkembangan brand, sesuai ujaran Strike Social.

Daripada menghindari keluhan dan komentar negatif, marketer sebaiknya menerima customer feedback dan membahas cara mengatasi masalah tersebut.

Hal ini akan berguna untuk strategi penanganan isu perusahaan di masa-masa mendatang.

Baca Juga :  Tak Ingin SEO Website-mu Rusak? Hindari Keyword Cannibalization!

Selain itu, jika audiens melihat feedback negatif tidak ditanggapi, mereka akan menganggap bahwa perusahaan tidak profesional.

Baca Juga: 6 Mitos Digital Marketing yang Perlu Kamu Tahu, Jangan Salah Kaprah!

3. Media sosial membuat email marketing tidak relevan

mitos social media marketing

© Freepik.com

Dewasa ini, banyak perusahaan yang menganggap bahwa email marketing sudah tidak lagi efisien.

Pemikiran ini muncul karena mereka dapat menggunakan fitur media sosial yang lebih canggih untuk berinteraksi dengan audiensnya.

Nah, hal satu ini merupakan mitos besar di dunia social media marketing. Sebab, email marketing bisa melengkapi strategi pemasaran media sosial dan meningkatkan brand visibility dengan baik, sesuai kata Social Pilot.

Bahkan, seperti halnya kampanye di media sosial, pemasaran email bisa bantu perusahaan untuk gaet audiens yang banyak, lho.

Nah, meski demikian, terdapat berbagai strategi email marketing yang bisa bantu perusahaan gaet banyak audiens.

Penasaran dengan informasi tersebut? Tenang, kamu bisa pelajari semuanya di Glints ExpertClass.

Dipandu oleh para pakar, dijamin kamu bisa jadi marketer yang lebih andal dengan mengikuti kelas kategori marketing.

Yuk, daftar kelasnya sekarang dengan klik gambar di bawah ini!

mitos media sosial pemasaran

4. Semakin banyak followers, semakin baik

mitos social media marketing

© Rawpixel.com

Mitos selanjutnya yang kerap dipercaya marketer mengenai social media marketing adalah followers haruslah banyak.

Hal ini berkaitan dengan gengsi perusahaan untuk tetap populer serta pemikiran bahwa followers yang banyak bisa menghasilkan engagement tinggi.

Nyatanya tidak demikian. Menurut Duboseweb, jumlah followers yang berlimpah tidak mengisyaratkan bahwa audiens tertarik untuk berinteraksi dengan kampanye brand.

Alih-alih berfokus pada jumlah followers, marketer sebaiknya merancang strategi yang bisa buat audiens lebih terlibat dengan kampanye mereka. 

Jika marketer dapat mengajak audiens untuk lebih aktif, secara tidak langsung mereka telah memastikan jalan untuk menggaet audiens baru.

Baca Juga :  Takut Penjualan Tidak Mencapai Target? Atasi dengan Memahami Inventory Turnover

5. Metrik social media marketing tidak dapat diukur

mitos pemasaran media sosial

© Pexels.com

Jika marketer ingin mengetahui kualitas strategi pemasaran berdasarkan satu aspek saja, mereka tidak akan menemukan jawabannya.

Namun, bukan berarti metrik social media marketing tidak dapat diukur marketer, hal tersebut hanyalah sebuah mitos.

Sebab, ada banyak hal yang harus diukur marketer untuk menilai kualitas kampanye pemasaran mereka, mulai dari CTR hingga customer behaviour

Semua informasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai keunggulan kampanye pemasaran brand, sesuai ujaran Entrepreneur.

Baca Juga: 6 Cara Mudah Menghindari Kesalahan Email Marketing

Itulah kelima mitos social media marketing yang perlu dipahami oleh setiap marketer.

Intinya, jangan sampai mitos-mitos di atas dianggap sebagai sebuah hal yang nyata, ya.

Sebab, jika tetap dilaksanakan, marketer tidak akan bisa untuk merancang strategi pemasaran yang efektif di media sosial.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon