5 Front End Framework Terbaik yang Wajib Kamu Tahu

Diperbarui 25 Apr 2024 - Dibaca 6 mnt

Isi Artikel

    Ingin menjadi seorang front end developer? Yuk, ketahui front end framework yang biasa digunakan. Nah, di sini, Glints akan membahas jenis framework yang populer. Jadi, pastikan kamu menyimaknya, hingga selesai.

    Menurut Freecodecamp, setidaknya ada 5 jenis framework terbaik untuk front end. Penasaran apa saja? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini:

    1. React

    front end framework

    © Shutterstock

    React merupakan leader di dalam dunia JavaScript. React adalah sebuah front end framework yang telah menggunakan pendekatan reaktif.

    Selain itu, React juga mengenalkan konsepnya sendiri di dalam pengembangan front end web development.

    Jika kamu ingin mempelajarinya, kamu juga harus tahu berbagai tools tambahan. Tujuannya agar kamu bisa mencapai fleksibilitas yang tinggi dalam front end development.

    Selain itu, React juga bisa digunakan dengan fetch API, Axios, Speregent, dan jQuery AJAX.

    Hingga saat ini, React terus bekerja untuk meningkatkan kualitasnya.

    Pada tahun 2019 lalu, tim React membicarakan tentang peningkatan Concurrent Mode dan Supense Model. Kedua fitur tersebut dapat membuat aplikasi lebih responsif.

    Baca Juga: Kerap Beriringan, Apa Perbedaan Antara Front End dan Back End?

    2. Angular

    JavaScript

    © Unsplash

    Selain React, Angular juga menjadi salah satu yang sangat populer. Angular banyak digunakan untuk membuat desktop web, maupun aplikasi mobile.

    Ada banyak hal yang penting untuk dipelajari dari Angular, salah satunya yaitu Angular 2+. Angular 2+, merupakan web aplikasi untuk front end. Angular 2+ juga berbasis TypeScript.

    Selain itu, jika kamu sudah mempelajarinya, kamu juga dapat menggunakan kembali ability dan code lainnya. Tujuannya yaitu untuk membuat aplikasi yang baru.

    Angular saat ini sudah menjadi framework yang canggih dan modular, sangat cocok untuk front end development.

    Di Angular sebelumnya, user bisa menyisipkan tautan ke library. Sementara kini, user bisa melakukan hal yang sama dengan meng-install modul terpisah.

    3. Vue

    front end framework

    © Freepik

    Vue adalah yang paling populer untuk membangun user interface (UI). Front end framework ini, memiliki library yang terfokuskan hanya pada bagian layer view-nya.

    Hal itu, memudahkannya untuk dipelajari serta diintegrasikan oleh library-nya.

    Vue juga mampu menjalankan SinglePage Application yang rumit, lho. Apalagi ketika digunakan di dalam kombinasi library pendukung dan modern tooling.

    Dengan menggunakan Vue, kamu bisa menyimpan komponen dan layouts bersamaan dengan stylesheet. Semua bisa kamu simpan di dalam satu file. Sistem ini, sama dengan sistem yang digunakan React.

    Jika dibandingkan dengan Angular, Vue jauh lebih sederhana. Kerangka kerjanya tidak rumit seperti Angular. Selain itu, Angular adalah framework yang serba membatasi penggunanya, sedangkan Vue sebaliknya.

    Baca Juga: Mengenali Perbedaan Bahasa Pemrograman Java dan JavaScript

    4. Ember

    back end

    © Pexels

    Ember seri 3.13, adalah front end framework yang baru saja rilis di tahun 2020. Framework ini hadir dengan update dan fitur terbaru. Ember juga merupakan salah satu JavaScript tertua yang ada saat ini.

    Meski begitu, dengan kehadiran seri terbaru ini, tentu telah dirancang kompatibel dengan kebutuhan saat ini.

    Versi terbaru bahkan telah mengalami berbagai perbaikan. Khususnya perbaikan dalam hal bug yang mengganggu performanya.

    Ember adalah sebuah framework yang telah dibangun dengan arsitektur rumit. Namun, dengan framework ini, kamu dapat dengan cepat membangun sebuah aplikasi untuk klien.

    Arsitektur Ember sendiri terbagi ke dalam bagian seperti routes, service, utils, addons, components, controllers, helpers, dan models.

    Baca Juga: Ingin Belajar Web Developer? Pelajari Langkah-langkahnya di Sini!

    5. Backbone.js

    front end

    © Freepik

    Backbone.js sama halnya seperti Angular. Framework ini, diciptakan untuk mengatasi kerumitan. Khususnya kerumitan dari segi pengembangan front end suatu website.

    Framework yang satu ini, tergolong mudah digunakan. Bahkan, cocok untuk kamu yang ingin cepat dalam mengembangkan sebuah aplikasi.

    Agar kamu bisa menggunakan Backbone.js sepenuhnya, kamu harus memilih tools seperti Chaplin, Thorax, Marionette, dan lainnya.

    Jika kamu ingin merancang berbagai aplikasi, koleksi Backbone (array) bisa kamu gunakan untuk memisahkan modelnya.

    Dari penjelasan di atas, kini sedikit banyaknya kamu tahu mana front end framework terbaik yang harus dipilih. Ingin jadi developer di bidang front end? Yuk, segera sign up di Glints dan temukan pekerjaannya!


    Comments are closed.

    Artikel Terkait