Coaching: Arti, Bedanya dengan Mentor, dan Contoh Sesinya

Tayang 01 Mei 2025 - Dibaca 9 mnt
Ditulis oleh : Tim Glints TapLoker

Coaching adalah istilah yang makin populer di dunia kerja. Tapi, banyak yang masih belum paham benar apa artinya, bedanya dengan mentoring, atau bagaimana cara memanfaatkannya dalam karier.

Glints App

Ribuan Loker Terbaik Menantimu,
Lamar Cepat Hanya 1x Tap!

Akses peluang karier terbaik dengan aplikasi Glints TapLoker

Download Sekarang

Tenang, Glints TapLoker akan bedah topik ini secara praktis dan mudah dipahami. Yuk, kita kupas tuntas.

Apa Itu Coaching?

Coaching adalah proses kolaboratif antara dua orang: klien atau coachee (orang yang dibimbing) dan coach (pembimbing), di mana coach akan membantu klien mencapai suatu tujuan pribadi atau profesional.

  • Fokus utama coaching adalah membantu seseorang menemukan solusi sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif.
  • Seorang coach tidak akan memberi jawaban langsung, tapi memancing pemikiran, kesadaran diri, dan pengambilan keputusan kliennya.
  • Proses ini bisa dilakukan oleh profesional bersertifikat, atasan, rekan kerja, atau siapa pun yang punya keahlian coaching.

Contoh:

Seorang karyawan yang ingin naik jabatan bisa dibantu coach untuk menyusun strategi, mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya, serta mengatur langkah-langkah yang konkret.

Manfaat Coaching

Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah kamu butuh coaching dalam kariermu. Nah, beberapa manfaat dari coaching adalah:

  1. Bantu keluar dari rasa terjebak di kerjaan sekarang. Career coach bisa bantu kamu berefleksi, kenali akar masalah, dan arahkan ke pilihan karier yang lebih cocok.
  2. Strategi cari kerja yang lebih terarah. Tak perlu bingung mulai dari mana, coach bisa bantu susun langkah-langkahnya, terutama kalau kamu mau pindah jalur karier.
  3. CV dan portofolio jadi lebih kuat dan menarik. Mereka tahu cara menyusun CV yang relevan, rapi, dan bisa lolos screening ATS sekaligus menarik perhatian HR.
  4. Latihan wawancara. Coach akan bantu kamu mengasah cara menjawab, menceritakan pengalaman kerja dengan meyakinkan, dan menyiapkan mental kalau interview-nya tidak mulus.
  5. Bantu menetapkan tujuan karier yang jelas. Peran coach adalah membantumu memasang goal yang realistis dan memberikan arah supaya kamu tak jalan tanpa tujuan.
  6. Tingkatkan rasa percaya diri. Lewat proses coaching, kamu jadi lebih mengenali kekuatan diri sendiri dan tidak gampang down waktu hadapi tantangan kerja.
  7. Memperluas networking. Coach sering punya koneksi profesional yang bisa memperluas jaringan kamu juga.
  8. Ruang aman untuk curhat soal karier. Kamu bisa diskusi jujur tanpa takut di-judge, dan mendapat perspektif yang objektif sebelum mengambil keputusan besar.
Baca Juga :  Cara Memunculkan dan Menghilangkan Ruler di Microsoft Word

Perbedaan Coaching dengan Mentoring atau Arahan dari Atasan

Perbedaan coaching, mentoring, dan supervisi dari atasan sering kali membingungkan. Simak penjelasan singkatnya:

Dari segi tujuan

  • Coaching: pengembangan pribadi dan profesional berdasarkan kebutuhan klien
  • Mentoring: transfer pengalaman dan wawasan
  • Arahan atasan: penyelesaian tugas di kantor dan peningkatan performa kerja

Dari segi pendekatan

  • Coaching: dialog tanya jawab reflektif
  • Mentoring: melalui cerita, saran, dan arahan
  • Arahan atasan: instruksi langsung

Dari segi durasi

  • Coaching: biasanya terbatas (hanya beberapa kali sesi)
  • Mentoring: bisa jangka panjang
  • Arahan atasan: selama masa bekerja dengan atasan tersebut

Jadi, intinya kira-kira begini: coaching membangun kesadaran, mentoring membagikan pengalaman, atasan memberi perintah.

Penerapan Coaching dalam Dunia Kerja

Mendapatkan coaching adalah cara strategis untuk mempercepat perkembangan kariermu. Tidak hanya untuk seorang manajer atau eksekutif, tapi juga untuk karyawan level mana pun; asal ada niat dan ruang untuk berkembang.

Kamu bisa memanfaatkan coaching dari dua sumber utama:

1. Coaching dari Pihak Eksternal (External Coaching)

Ini berarti kamu menggandeng coach profesional secara individu, biasanya di luar organisasi.

  • Cocok untuk kamu yang ingin eksplorasi karier, naik jabatan, pindah industri, atau butuh kejelasan soal tujuan jangka panjang.
  • Umumnya dilakukan dalam format sesi 1-on-1 secara berkala (misalnya 1x seminggu atau 2x sebulan).
  • Coach eksternal biasanya bersertifikat, memiliki pendekatan metodologis, dan netral (tidak terlibat dalam dinamika kantor).

Dampaknya:

  • Membantu kamu membuat rencana karier yang lebih jelas dan konkret.
  • Membuka blind spot dan pola pikir yang selama ini membatasi.
  • Meningkatkan fokus, motivasi, dan rasa percaya diri di tempat kerja.

2. Coaching dari Internal (Atasan, HR, atau Rekan Kerja)

Banyak perusahaan mulai membangun budaya coaching dari dalam. Bentuknya bisa:

  • Atasan yang rutin melakukan sesi coaching, bukan hanya memberikan tugas.
  • Program coaching antar rekan kerja (peer coaching) untuk berbagi tantangan dan solusi.
  • HR atau leader yang terlatih untuk melakukan coaching, bukan sekadar mengawasi kinerja.

Contoh penerapan internal coaching:

  • Manajer melakukan sesi bulanan untuk membantu anggota tim menyusun rencana pengembangan diri.
  • Tim marketing saling coaching saat brainstorming kampanye agar ide lebih matang dan terarah.
  • HR menyediakan sesi coaching untuk karyawan yang mengalami kebingungan arah karier.
Baca Juga :  8 Manfaat Kurma untuk Kesehatan, Jaga Tubuh Prima

Dampaknya:

  • Meningkatkan engagement dan ownership (kepedulian tinggi) terhadap pekerjaan.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan terbuka.
  • Menurunkan risiko burnout karena kamu merasa didengar dan dibantu.

Contoh Dialog dalam Sesi Coaching

Supaya kamu bisa membayangkan peran seorang coach dan klien dalam sebuah sesi, Glints TapLoker sudah buatkan contoh dialog antara seorang klien (karyawan kantoran) dan coach-nya. Disimak, yuk!

🧑‍💼 Klien (karyawan kantoran):

Saya sudah kerja di kantor saya dua tahun. Tapi, kok, makin lama makin bingung, ya. Saya nggak merasa stres banget, tapi juga nggak merasa excited atau puas. Kayak jalan di tempat.

🧑‍🏫 Coach:

Terima kasih sudah terbuka. Kalau boleh tahu, apa yang membuat kamu merasa nggak puas atau stuck?

🧑‍💼 Klien:

Mungkin karena saya ngerasa kerjaan saya itu-itu saja. Nggak berkembang, nggak bikin saya penasaran lagi. Ya sudah seperti dijalani saja begitu tanpa makna. Tapi anehnya, saya juga nggak yakin mau pindah ke bidang lain. Seolah ini bukan passion saya, tapi saya juga nggak tahu passion saya apa.

🧑‍🏫 Coach:

Kalau kamu bayangkan situasi kerja yang ideal buat kamu, seperti apa rasanya? Apa yang kamu lakukan di sana?

🧑‍💼 Klien:

Hmm… mungkin saya ingin merasa lebih hidup, ya. Merasakan apa yang saya kerjakan itu meaningful, terlihat dampaknya. Dan saya ingin belajar hal baru yang lebih menantang, bukan cuma eksekusi yang sudah-sudah.

🧑‍🏫 Coach:

Oke. Jadi ada kebutuhan akan makna dan tantangan. Kita bisa mulai dari situ. Menurut kamu, aspek mana dari pekerjaanmu sekarang yang paling kamu nikmati; walaupun cuma sedikit?

🧑‍💼 Klien:

Saya lumayan enjoy waktu brainstorming campaign. Saya suka mikir konsep, diskusi, membangun ide dari nol.

🧑‍🏫 Coach:

Menarik. Itu bisa jadi petunjuk arah. Kalau kamu ingin lebih banyak pengalaman seperti itu, kira-kira langkah kecil apa yang bisa kamu ambil minggu ini?

🧑‍💼 Klien:

Mungkin saya bisa ngobrol sama manajer saya dan minta dilibatkan lebih awal di proses kreatif, bukan hanya waktu eksekusi.

🧑‍🏫 Coach:

Nah, itu langkah bagus. Yuk, kita tuliskan sebagai action point. Dan minggu depan, kita bisa refleksi bareng: apakah langkah itu membantumu merasa lebih engaged.

Dialog di atas tidak memberi solusi instan, tapi memfasilitasi refleksi dan tindakan yang bisa membuka arah karier secara bertahap. Inilah tujuan coaching: bukan memberi tahu jalan, tapi menemani proses pencarian jalan itu.

Baca Juga :  9 Teknik Coaching untuk Dipakai Manajer Bikin Pelatihan Tim

Plus-Minus Coaching untuk Pekerja

Apakah semua orang yang mau mengembangkan karier pasti cocok dengan sistem coaching? Belum tentu.

Kamu mungkin sudah berada di momen dan waktu yang tepat untuk menerima coaching, bisa juga belum. Atau memang ada tipe orang yang kurang cocok dengan pendekatan reflektif seperti ini.

Untuk merenungkan apakah coaching adalah metode yang tepat buatmu, simak pertimbangan dari Glints TapLoker berikut ini.

Kelebihan coaching adalah:

  • Meningkatkan self-awareness dan kepercayaan diri. Namun, ini artinya kamu sendiri harus sudah punya modal dasar self-awareness atau mengenali dirimu sendiri.
  • Membantu menetapkan tujuan yang jelas dan realistis.
  • Mempercepat proses pengambilan keputusan.
  • Mendorong pertumbuhan karier jangka panjang.
  • Meningkatkan hubungan interpersonal dan komunikasi. Maka, kamu harus sudah siap membuka diri terhadap orang, gagasan, nilai-nilai, serta cara pandang yang baru.

Kekurangan coaching adalah:

  • Butuh komitmen waktu dan energi.
  • Hasilnya tidak selalu instan, apalagi jika tidak dilakukan secara konsisten.
  • Coach yang kurang kompeten justru bisa membingungkan atau merugikan.
  • Kurang cocok untuk pekerja yang hanya ingin solusi cepat atau instruksi langsung.

Tips Mendapatkan Coaching yang Efektif

Sudah yakin mau mencoba coaching dan ingin mendapatkan coaching yang tepat dan berdampak? Ikuti tips berikut:

1. Kenali kebutuhanmu

  • Apa yang ingin kamu capai?
  • Apakah kamu butuh coaching untuk komunikasi, kepemimpinan, atau perencanaan karier?

2. Pilih coach yang cocok

  • Bisa dari atasan, HR, atau coach profesional bersertifikat. Lebih baik kalau coach yang bersangkutan sudah direkomendasikan orang lain supaya lebih yakin dan kamu bisa menimbang-nimbang dulu kecocokannya denganmu.
  • Pastikan coach mau mendengarkan dan tidak menggurui.

3. Bersikap terbuka dan siap berproses

  • Coaching bukanlah terapi, tapi proses reflektif.
  • Jangan harap coach memberi jawaban. Kamu sendiri yang akan menemukannya.

4. Konsistensi adalah kunci

  • Satu sesi tidak cukup. Minimal lakukan 3–5 sesi agar terasa dampaknya.
  • Buat jurnal atau catatan setelah setiap sesi.

Akhir kata, coaching adalah alat penting dalam dunia kerja modern. Bukan hanya untuk manajer atau top performer, melainkan untuk siapa pun yang ingin berkembang secara sadar dan strategis.

Proses ini bisa mempercepat kemajuan karier, memperdalam hubungan profesional, dan membuka potensimu yang selama ini terpendam.

Referensi: 

  1. What Is a Career Coach? What They Do and How to Find One to Fit Your Needs
  2. How to Choose the Right Career Coach: A Complete Guide to Finding Your Perfect Match

Komentar ditutup.

Artikel Terkait

Glints TapLoker Icon