×

Apa Itu Obligasi dan Bagaimana Karakteristiknya?

May 26, 2020 | No Comments

Kamu mungkin tidak asing dengan kata obligasi. Salah satu instrumen investasi ini, belakangan memang mendapat banyak perhatian dari masyarakat Indonesia, termasuk milenial.

Dikutip dari CNBC Indonesia, jumlah pembeli SBR007 yang merupakan salah satu obligasi terbitan pemerintah melebihi target yang ditetapkan sejak awal. 

Terdapat 9.956 investor yang membeli surat berharga dengan tenor dua tahun tersebut. Dari jumlah tersebut, 50,85% di antaranya adalah generasi milenial.

Berbagai opsi obligasi yang ditawarkan oleh negara atau korporasi dianggap menggiurkan oleh para investor.

Namun, apakah kamu sudah memahami apa yang dimaksud dengan investasi tersebut?

Jika belum, simak penjelasan Glints mengenai apa yang dimaksud dengan instrumen investasi ini dan bagaimana karakteristiknya.

Baca Juga: Tips Sukses buat Kamu yang Ingin Belajar Investasi

Apa Itu Obligasi?

Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan bahwa obligasi adalah surat utang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan. 

Investasi ini berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga dan melunasi pokok utang pada periode tertentu kepada pihak pembeli.

Obligasi sendiri dapat diterbitkan oleh korporasi maupun negara.

Periode atau jatuh tempo setiap instrumen investasi tersebut bisa berbeda, tergantung jenis dan penerbitnya masing-masing.

Istilah-Istilah dalam Obligasi

Setelah mengetahui apa itu obligasi, berikut Glints paparkan beberapa istilah yang sering muncul dalam investasi ini.

investasi di tengah corona

© Freepik.com

1. Kupon (interest rate)

Kupon adalah imbal hasil atau bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi dalam periode tertentu. Biasanya kupon dibayarkan setiap 3 atau 6 bulan sekali.

Terdapat dua jenis kupon obligasi, yaitu fixed coupon dan floating coupon.

Fixed coupon merupakan kupon yang menjanjikan pembagian bunga tetap seperti yang telah disepakati di awal.

Sementara itu, floating coupon adalah kupon yang menjanjikan pembagian bunga yang bisa berubah-ubah, tergantung suku bunga Bank Indonesia (BI).

2. Jatuh tempo (maturity)

Jatuh tempo adalah waktu yang telah ditentukan untuk mengembalikan pokok atau nilai obligasi yang dibeli pemegang investasi ini.

Waktu pengembalian ini bisa beragam, tergantung jenis yang dipilih. Umumnya, pengembalian pokok berkisar antara 365 hari hingga 5 tahun.

Semakin lama waktu jatuh temponya, bunga yang akan diterima pemegang investasi ini juga semakin besar.

3. Nilai nominal (face value)

Face value atau par value adalah nilai pokok yang akan diterima pemegang obligasi saat jatuh tempo.

4. Penerbit (issuer)

Penerbit adalah pihak yang menerbitkan obligasi. Pihak yang dimaksud bisa pemerintah maupun korporasi.

5. Default risk

Default risk adalah risiko yang diterima pemegang obligasi ketika penerbit tidak mampu membayar bunga dan/atau pokok obligasi saat jatuh tempo.

6. Liquidity risk

Liquidity risk merupakan risiko yang diterima pemegang obligasi untuk tidak bisa menjual investasinya sebelum jatuh tempo dengan alasan apapun, termasuk saat sedang membutuhkan uang tunai.

7. Klaim aset

Klaim aset adalah situasi saat penerbit obligasi tidak mampu membayar pokok dan/atau bunga. Satu-satunya solusi yang dapat dilakukan adalah menjual aset penerbit dan membagikannya kepada pemegangnya.

8. Peringkat (rating)

Setiap obligasi memiliki peringkat berupa huruf atau angka yang menandakan risiko, seperti AAA, AA+, dan seterusnya.

Semakin tinggi peringkatnya, maka semakin rendah pula risiko dan bunga yang ditawarkan.

Jenis-Jenis Obligasi

Terdapat beberapa jenis obligasi yang tercatat di BEI, antara lain sebagai berikut.

berbagai jenis investasi syariah

© Unsplash.com

1. Obligasi korporasi

Obligasi ini merupakan jenis yang diterbitkan oleh perusahaan swasta nasional, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

2. Sukuk

Dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, sukuk adalah produk investasi syariah yang ditawarkan pemerintah kepada Warga Negara Indonesia (WNI). 

Sukuk berupa sertifikat atau bukti kepemilikan atas aset yang mendasarinya. 

Hasil penerbitan sukuk akan digunakan untuk pembelian hak manfaat Barang Milik Negara atau pengadaan proyek untuk disewakan ke pemerintah.

Imbalan berasal dari hasil kegiatan investasi tersebut.

Selain pemerintah, sukuk juga dapat diterbitkan oleh korporasi.

3. Surat Berharga Negara (SBN)

SBN dibagi menjadi dua macam, yaitu Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

SUN adalah surat pengakuan utang yang pembayaran pokok dan bunganya dijamin oleh negara, seperti ditulis Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara itu, SBSN adalah surat berharga yang diterbitkan oleh negara dan menerapkan prinsip-prinsip syariah. Surat tersebut menjadi bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN.

4. Efek Beragun Aset (EBA)

EBA adalah surat berharga yang berisi kumpulan tagihan yang timbul dari surat berharga komersial dan dijamin pemerintah. Tagihan yang dimaksud bisa berupa kredit rumah, tagihan kartu kredit, dan sebagainya.

Baca Juga: Pilihan Investasi yang Tepat untuk Milenial

Karakteristik Obligasi

thr untuk investasi

© Pixabay.com

1. Pendapatan tetap

Obligasi memberikan pendapatan yang tetap atau fixed income kepada pemegangnya.

Nominal pendapatan berupa kupon atau bunga diberitahukan sejak awal dalam bentuk persentase dari pembelian investasi tersebut.

Nantinya, kupon akan dibayarkan secara berkala dalam periode waktu yang telah ditentukan hingga jatuh tempo.

Besaran kupon obligasi biasanya lebih tinggi daripada deposito bank atau Sertifikat Bank Indonesia.

2. Aman

Obligasi adalah salah satu jenis investasi yang dapat dipastikan keamanannya.

Peraturan mengenai kegiatan jual dan beli instrumen investasi itu tertuang dalam UU No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

Dengan begitu, pemegang investasi tersebut tidak perlu khawatir dengan keamanannya.

3. Mudah diperdagangkan

Karakteristik investasi ini selanjutnya adalah mudah diperdagangkan.

Setelah membeli investasi tersebut, pemegangnya dapat menjualnya kembali di pasar sekunder BEI. Dengan menjualnya, sang pemegang tidak memiliki hak lagi terhadap kupon obligasi.

Pemegang investasi ini dapat menjualnya dengan harga yang lebih tinggi daripada saat ia membelinya. Keuntungan dari selisih harga tersebut disebut sebagai capital gain.

Dalam kondisi lainnya, pemegangnya juga dapat membeli investasi tersebut dengan harga diskon.

Pada akhir tempo, pemegang investasi tersebut tetap akan mendapat keuntungan sesuai nominal yang tertera.

4. Risiko rendah

Risiko berinvestasi dengan obligasi tergolong rendah, apalagi jika dibandingkan dengan saham. Namun, pembelian investasi ini tetap saja memiliki risiko.

Jika membeli obligasi korporasi, kamu berpotensi memiliki default risk atau risiko korporasi tidak mampu membayar pokok dan/atau bunga. Namun, risiko ini sangat jarang terjadi.

5. Banyak pilihan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat berbagai pilihan obligasi yang dapat kamu pilih.

Pilihan-pilihan tersebut bisa berbeda dari segi penerbit, kupon, atau jatuh tempo.

Kamu bisa memilih opsi yang kamu rasa paling cocok untukmu.

6. Rentan terhadap perubahan ekonomi negara/korporasi

Investasi ini memiliki hubungan erat dengan perubahan ekonomi penerbitnya, yaitu negara atau korporasi.

Perubahan ekonomi yang dimaksud bisa berupa perubahan suku bunga atau bahkan hubungan ekonomi dengan politik.

7. Modal lebih besar

Modal untuk berinvestasi dengan obligasi terbilang lebih besar daripada saham dan reksa dana.

Pembelian saham dan reksa dana bisa dimulai dari Rp 100 ribu atau bahkan kurang dari itu.

Namun, pembelian instrumen investasi ini mulai dari Rp 1 juta, tergantung jenis yang dibeli.

Baca Juga: 3 Tipe Investor Berdasarkan Profil Risiko, Kamu yang Mana?

Demikian penjelasan lengkap dari Glints mengenai apa itu obligasi. 

Jika sudah merasa cocok untuk memilih investasi ini, kamu bisa mengikuti terus perkembangan informasi mengenai surat berharga yang akan segera diterbitkan pemerintah.

Kamu juga bisa berlangganan newsletter blog Glints untuk mendapatkan informasi terbaru dan terlengkap seputar karier. Yuk, daftar sekarang!

YOU MAY ALSO LIKE

Scroll Up