5 Mitos tentang Kerja di BUMN yang Harus Kamu Tahu!
Ditulis oleh : Leonita Cecilia
“Kerja di BUMN itu gajinya gede, nggak bisa di-PHK, dan santai banget!”
Pernah dengar kalimat seperti ini?
Kerja di BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sering dianggap sebagai “karier impian” banyak fresh graduate di Indonesia. Tapi sayangnya, banyak mitos tentang BUMN yang justru bikin pelamar salah langkah – atau bahkan menyerah sebelum mencoba!
Sebelum kamu memutuskan untuk fokus mengikuti Rekrutmen Bersama BUMN (RBB), ada baiknya memahami fakta di balik beberapa mitos yang sering beredar.
Tim karier Glints TapLoker sudah merangkum 5 mitos paling populer dan meluruskan semuanya dengan fakta resmi berdasarkan pengalaman pelamar sukses dan panduan Forum Human Capital Indonesia (FHCI).
Mitos 1: “Gaji Karyawan BUMN Pasti Besar!”
Salah satu alasan utama banyak orang ingin kerja di BUMN adalah karena dianggap memiliki gaji besar.
Fakta:
Gaji awal karyawan BUMN bervariasi tergantung perusahaan, posisi, dan lokasi kerja.
Untuk fresh graduate, kisaran gaji bisa berbeda antara:
- Posisi administrasi, HR, atau customer service
- Posisi teknik, IT, atau keuangan
- BUMN strategis seperti sektor energi, perbankan, atau telekomunikasi
Selain gaji pokok, karyawan BUMN biasanya juga mendapatkan benefit tambahan seperti:
- Tunjangan kesehatan
- Tunjangan kinerja
- BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan
- Fasilitas lain sesuai kebijakan perusahaan
Namun perlu dipahami bahwa untuk level awal, gaji BUMN tidak selalu lebih tinggi dibanding perusahaan swasta tertentu — terutama di industri teknologi atau perusahaan multinasional besar.
Nilai utama bekerja di BUMN sering kali terletak pada:
- Stabilitas jangka panjang
- Sistem dan struktur yang jelas
- Jenjang karier yang relatif terarah
Artinya, kompensasi di BUMN bukan hanya soal angka gaji, tetapi juga tentang keamanan dan keberlanjutan karier.
Mitos 2: Masuk BUMN Harus Punya “Orang Dalam”
Ini adalah mitos yang cukup sering dibicarakan.
Fakta:
Proses Rekrutmen Bersama BUMN dilakukan secara terpusat dan transparan melalui sistem resmi.
Semua peserta:
- Mendaftar lewat portal resmi: rekrutmenbersama.fhcibumn.id
- Mengikuti tahapan seleksi yang telah ditentukan
- Dinilai berdasarkan dokumen, tes online, dan wawancara
- Tidak ada intervensi “orang dalam”
FHCI bahkan menyediakan call center resmi untuk laporkan praktik tidak transparan. Jadi, fokuslah pada persiapan – bukan koneksi!
Mitos 3: “Kalau Sudah Masuk BUMN, Nggak Bisa Di-PHK!”
Stabilitas adalah daya tarik utama BUMN.
Fakta:
Meskipun relatif stabil, karyawan BUMN tetap harus memenuhi standar kinerja.
Beberapa hal yang perlu diketahui:
- Ada masa percobaan
- Ada evaluasi rutin
- Rotasi dan mutasi antar divisi bisa terjadi
- Transformasi organisasi bisa mengubah struktur kerja
Karyawan BUMN tetap bisa di-PHK jika:
- Melanggar aturan perusahaan
- Performa kerja buruk dalam masa percobaan
- Perusahaan mengalami restrukturisasi
Yang benar: Kamu tetap perlu menunjukkan kinerja terbaikmu sejak hari pertama karena keamanan karier tetap bergantung pada performa dan kemampuan beradaptasi.
Mitos 4: “Birokrasi BUMN Bikin Stuck!”
Banyak yang menganggap kerja di BUMN penuh prosedur panjang, banyak approval, dan proses yang lambat.
Fakta:
BUMN memang merupakan organisasi besar dengan struktur dan tata kelola yang formal. Karena itu, beberapa proses kerja bisa melibatkan tahapan persetujuan yang lebih terstruktur dibanding perusahaan kecil atau startup.
Sebagai perusahaan besar dengan tata kelola ketat, BUMN memang memiliki SOP dan struktur yang jelas. Beberapa keputusan bisa melalui beberapa tahapan persetujuan untuk menjaga akuntabilitas dan kepatuhan regulasi.
Hal ini sering dipersepsikan sebagai “ribet”. Namun, bukan berarti semua proses tidak efisien. Banyak BUMN kini melakukan transformasi digital untuk mempercepat sistem kerja.
Bagaimana dengan karier?
Struktur yang hierarkis memang membuat jalur promosi lebih sistematis dibanding perusahaan kecil atau startup. Tetapi BUMN umumnya memiliki jenjang karier yang jelas serta evaluasi kinerja berkala.
Jadi, birokrasi memang ada – tetapi tidak otomatis membuat karier mandek. Ritme perkembangan bisa berbeda, tergantung budaya perusahaan dan peran yang dijalani.
Mitos 5: “Kerja di BUMN Itu Santai dan Minim Target!”
Banyak yang mengira budaya kerja BUMN lebih santai dibanding perusahaan swasta.
Fakta:
BUMN modern sudah sangat kompetitif dan berbasis kinerja.
Beberapa BUMN besar menerapkan:
- Target kinerja bulanan/tahunan (KPI)
- Evaluasi performa berkala
- Sistem reward dan punishment
- Digitalisasi proses kerja (e.g., sistem online, reporting real-time)
BUMN bukan lagi sekadar “zona nyaman”, melainkan organisasi besar yang dituntut efisien dan kompetitif.
Jadi, siapkan mental untuk bekerja profesional – bukan “nyantai”!
Jadi, Apakah Kerja di BUMN Cocok untuk Kamu?
Kerja di BUMN bisa menjadi pilihan yang tepat jika kamu mengutamakan stabilitas, struktur organisasi yang jelas, dan benefit jangka panjang.
Namun, penting untuk memahami bahwa:
- Gaji tidak selalu langsung tinggi
- Tetap ada target dan evaluasi
- Persaingan masuk cukup ketat
- Ritme perkembangan karier bisa berbeda
Setiap orang memiliki preferensi dan tujuan karier yang berbeda.
Sudah Yakin Ingin Fokus ke BUMN?
BUMN memang menjadi salah satu jalur karier yang banyak diminati. Namun sebelum memutuskan, ada baiknya kamu membandingkan berbagai peluang yang tersedia.
Di Glints TapLoker, kamu bisa menemukan ribuan lowongan kerja terbaru dari berbagai industri – mulai dari startup, perusahaan swasta nasional, hingga multinasional – dan melihat mana yang paling sesuai dengan minat serta tujuan jangka panjangmu.
Karier terbaik bukan hanya yang paling populer, tetapi yang paling cocok untukmu.
