Deskripsi pekerjaan SUPERVISOR LINE GARMENT Kouji Garment
JOBDESK SUPERVISOR LINE GARMENT
1. Mengontrol Jalannya Produksi
Mengawasi proses produksi pada line yang menjadi tanggung jawabnya.
Memastikan proses sewing berjalan sesuai flow dan urutan proses yang telah ditentukan.
Memastikan pekerjaan berjalan sesuai target produksi harian.
Memantau perkembangan output secara berkala/hourly.
Mengidentifikasi hambatan yang menyebabkan produksi tidak mencapai target.
Mengambil tindakan cepat terhadap masalah yang terjadi di line.
2. Mengatur dan Mengawasi Operator
Membagi pekerjaan operator sesuai dengan kemampuan/skill masing-masing.
Memastikan setiap posisi dalam line terisi dan berjalan dengan baik.
Mengawasi kedisiplinan, kehadiran, dan kinerja operator.
Memberikan arahan apabila operator mengalami kesulitan dalam proses kerja.
Memberikan coaching/pelatihan apabila ditemukan operator yang belum menguasai proses tertentu.
Melakukan evaluasi terhadap kemampuan dan kinerja operator.
3. Memastikan Target Produksi Tercapai
Memahami target produksi yang diberikan.
Membuat pembagian target sesuai kondisi line.
Memantau pencapaian output secara berkala.
Mencari penyebab apabila output berada di bawah target.
Melakukan koordinasi dengan bagian terkait untuk mengejar kekurangan produksi.
Mengupayakan line bekerja secara efektif dan efisien.
4. Mengontrol Kualitas Produksi
Memastikan hasil jahitan sesuai dengan standar kualitas perusahaan dan buyer.
Mengawasi agar kesalahan jahit dapat ditemukan sedini mungkin.
Berkoordinasi dengan QC apabila ditemukan reject/defect.
Mengarahkan operator untuk memperbaiki kesalahan proses.
Memastikan defect yang sama tidak terus berulang.
Menjaga keseimbangan antara quantity dan quality.
5. Menangani Masalah di Line
Supervisor harus menjadi pihak pertama yang menangani kendala operasional di line, seperti:
Mesin bermasalah.
Operator mengalami kesulitan dalam proses jahit.
Material/bahan belum tersedia.
Komponen/aksesoris kurang.
Hasil jahitan tidak sesuai standar.
Terjadi bottleneck pada salah satu proses.
Target produksi tidak tercapai.
Jika masalah tidak dapat diselesaikan sendiri, Supervisor melakukan eskalasi kepada Leader/Manager/Mechanic/QC/PPIC/MD sesuai jenis permasalahannya.
6. Mengontrol Ketersediaan Kebutuhan Produksi
Memastikan material, aksesoris, dan kebutuhan produksi tersedia sebelum proses dimulai.
Memastikan kebutuhan line sudah dipersiapkan sesuai jadwal.
Menginformasikan kebutuhan produksi kepada Admin/MD atau bagian terkait.
Tidak menunggu sampai material habis baru melakukan permintaan.
Memastikan kebutuhan produksi untuk proses berikutnya sudah dipersiapkan.
7. Mengontrol Mesin dan Peralatan
Memastikan mesin dalam kondisi siap digunakan.
Melaporkan kerusakan mesin kepada bagian Maintenance/Mechanic.
Memastikan penggunaan mesin sesuai fungsi dan standar.
Mengawasi penggunaan jarum, gunting, bobbin, dan perlengkapan sewing lainnya.
Memastikan area kerja dan mesin tetap bersih serta tertata.
8. Menjaga Disiplin dan SOP
Memastikan operator mengikuti SOP perusahaan.
Mengawasi kedisiplinan dan ketertiban di dalam line.
Memastikan penggunaan APD/perlengkapan keselamatan apabila diwajibkan.
Menegur dan memberikan arahan kepada operator yang melanggar SOP.
Melaporkan pelanggaran atau masalah kedisiplinan yang berulang kepada atasan.
9. Koordinasi Antar Departemen
Supervisor Line harus aktif berkoordinasi dengan:
PPIC → terkait jadwal dan target produksi.
QC → terkait kualitas dan reject.
Maintenance/Mechanic → terkait kerusakan mesin.
Gudang/Material → terkait bahan dan aksesoris.
Admin Sewing → terkait kebutuhan dan administrasi produksi.
Manager/Atasan → terkait kendala atau keputusan yang membutuhkan approval.
10. Membuat Laporan Produksi
Supervisor bertanggung jawab memastikan laporan line tersedia, seperti:
Output produksi harian.
Target vs actual.
Jumlah reject/defect.
Kendala produksi.
Kehadiran/manpower.
Downtime mesin.
Permasalahan yang terjadi di line.
Tindakan perbaikan yang telah dilakukan.
11. Improvement / Efisiensi
Mencari cara agar proses produksi lebih efektif.
Mengurangi waktu tunggu dan bottleneck.
Mengurangi reject/rework.
Mengoptimalkan pembagian manpower.
Memberikan masukan kepada atasan apabila terdapat proses yang tidak efisien.
Melakukan evaluasi apabila target line berulang kali tidak tercapai.

